oleh

GURU KEMBAR: Tolak Jadi Menteri, Pilih Tetap Mengajar

GURU KEMBARPOSKOTA.CO – Ada cerita menarik di balik duo sosok wanita berjiwa sosial tinggi, Sri Rosiati (Rosi) dan Sri Irianingsih (Iriani) yang beken disebut ‘Guru Kembar’. Ternyata, dua presiden pernah menawari mereka masuk dalam jajaran kabinetnya, baik Kabinet Indonesia Bersatu (KIB)-nya SBY maupun Kabinet Kerja (KK)-nya Jokowi untuk jabatan menteri.

Apa reaksi keduanya atas tawaran menggiurkan jabatan yang selalu diangankan semua orang itu? “Menolak.” Setidaknya begitulah pengakuan Sri Irianingsih yang akrab dipanggil Iriani. Baginya, profesinya sebagai guru lebih menantang untuk digeluti.

“Kalau saya terima tawaran itu (menteri) saya nggak bisa mengajar lagi karena kan menteri kesibukannya tinggi,” cetus Iriani diamini Rosi, saudara kembarnya, saat dijumpai SMO.COM saat mengajar di Sekolah Darurat KARTINI (SDK), sekolah gratis untuk anak-anak tidak mampu miliknya.

Mengapa kedua orang presiden menawarkan jabatan menggiurkan itu? Yang pasti, bukan tanpa sebab. Keduanya selama ini dikenal sangat care dan loyal pada dunia pendidikan. Para pemerhati dunia pendidikan tentu tahu siapa sosok kedua wanita berjiwa sosial tinggi ini. Dua wanita berjuluk Guru Kembar sangat identik dengan SDK.

Rosi dan Iriani dikenal sangat konsern pada dunia pendidikan, khusus buat anak-anak jalanan yang tidak mampu bersekolah. Sebagai orang kaya namun perduli pada kaum bawah perlu diacungi jempol.

Keduanya begitu yakin bahwa anak-anak kaum pinggiran (terpinggirkan) pun pasti bisa sekolah dan pasti bisa menjadi orang yang berguna. Dan itu telah dibuktikan oleh Rosi dan Iriani.

24 tahun bergelut dengan dunia pendidikan di kawasan pinggiran Jakarta Utara, tepatnya di tepi Rel Kereta Api di kawasan Lodan Raya dimana SDK berdiri dengan kondisi seadanya.

Selama itu kedua wanita ini mengajar anak-anak mulai dari tingkat PAUD (Balita), SMP, SMK hingga kini juga mendirikan Sekolah untuk tingkat Diploma I dan II bidang jurusan Penyiaran, Matematika dan Tata Boga yang dipusatkan di rumah Rosi dan Riani sendiri. Semuanya gratis.

“Bagi saya mengajar tidak ada rasa jenuh sama sekali, justru selalu kangen untuk mengajar dan mengajar. Ini adalah obsesi kami sejak muda sebelum menikah. Bahkan sangking senangnya mengajar dan cinta saya pada anak-anak, saya dan Rosi selalu mengajak mereka berlibur ke Yogyakarta, Bandung atau tempat rekreasi lain. Kami tiada hari tanpa anak-anak,” papar Riani.

Melihat kondisi pendidikan saat ini, terus terang Riani dan Rosi agak miris. Betapa tidak. Pendidikan yang terjadi saat ini masih membedakan antara golongan yang mampu dan golongan bawah yang tidak punya ID, seperti tidak punya tanda pengenal seperti KTP, Akta Kelahiran ataupun Kartu Keluarga. “Masalah ini saja bisa-bisa membuat anak nggak bisa sekolah,” keluh Riani.

Nah, melalui SDK yang dibangunnya, sambung Iriani, anak-anak yang tak mampu secara finansial dan tidak memiliki ID, ditampung untuk mengenyam pendidikan hingga SMA atau D1 dan D2.

“Semua biaya operasional sekolah, seragam dan buku-buku pelajaran kami yang tanggung biayanya. Bahkan jika akhir pekan, Sabtu-Minggu kan siswa libur sekolah, maka kami juga memberikan sembako untuk orang tua mereka, seperti beras, gula, minyak, dan teh. Semuanya agar keluarga mereka di saat libur tetap terjamin kesejahteraannya,” ungkap Riani.

PEMBEKALAN KETERAMPILAN

Kiprah kedua perempuan ini sungguh membanggakan. Betapa tidak. Sudah puluhan ribu siswa yang mengecap pendidikan di SDK, sebagian berhasil menjadi orang. Untuk tahun 2014 ini, jumlah siswa yang masih sekolah sekitar 650 orang (tingkat PAUD hingga tingkat Diploma).

Menurut Rosi, 70% siswa lulusan kini telah bekerja di berbagai tempat seperti di Mal atau Restoran, 25% lagi di perusahaan informal dan hanya 5% sisanya saja tetap kembali ke dunianya yang lama, bekerja serabutan. Artinya, mayoritas siswa sukses.

Di sekolah SDK, para siswa tidak saja dibekali pelajaran bersifat teori saja, namun lebih dari 50% mereka habiskan untuk pelajaran keterampilan kemandirian. “Kami ajarkan tentang karakter, kepribadian, kejujuran dan kedisiplinan,” jelas Riani yang punya hobi Diving.

Setiap hari mereka membuat jadwal masak dengan menu yang berbeda-beda. Siswa dibuatkan kelompok beberapa orang untuk memasak. Semua modal makanan betul-betul ditanggung Guru Kembar.

“Dengan ini intinya mereka harus belajar mandiri, bisa memasak, belajar bekerja sama dengan masak bersama-sama. Belajar kejujuran dan berbagi dengan mendidik mereka, apa yang dimasak dibagi ke semua siswa yang ada.

Makanan dibagi sama rata. Tidak cuma belajar memasak, di sini juga diajarkan cara bermake-up, memotong rambut dan belajar teknik mesin. Intinya kami ingin mendidik mereka agar mereka tidak hanya asal lulus saja, tapi setelah keluar dari sekolah ini harus punya bekal keahlian khusus,” jelas Rosi dan Riani.

Kiprah Rosi dan Riani tidak cukup sampai disitu. Para siswa yang berprestasi pun diberi reward berupa pemberian beasiswa untuk melanjutkan kuliah di luar, antara lain di Universitas Bunda Mulia dan Universitas Pelita Harapan.

“Dan hasilnya Alhamdulillah, lulus kuliah mereka ada yang kini bekerja di Pelindo II bahkan kini ada yang menjadi atlet nasional cabang Atletik. Saat ini juga ada siswa SMK yang sedang menyusun buku Matematika yang rencananya akan dilaunching awal Desember ini,”

“Prestasi-prestasi yang siswa berikan pada dunia pendidikan dan olah raga, adalah hadiah terindah dari mereka buat kami. Mereka memang orang-orang tidak mampu, tapi mereka cerdas. Semoga masyarakat luas bisa menghargai mereka,” ujar Riani bangga.

Rosi dan Riani memang sukses sebagai pencetus dunia pendidikan kaum pinggiran. Di keluarga pun Guru Kembar ini adalah orang sukses dan dikelilingi oleh keluarga yang sukses pula. Anak-anak Rosi dan Riani adalah seorang dokter, arsitektur dan Dosen dan bahkan ada yang juga bekerja di Santos Oil & Gas.

“Kami bersyukur anak-anak, suami dan orang tua tetap support kegiatan kami ini. Bagi mereka ini adalah pengabdian mulia,” ujar Rosi dan Iriani, wanita yang menuruni bakat mengajar dari ibunya di Semarang.

Kesibukan lain dua puteri dari seorang Ayah yang Pejabat PJKA di Semarang, adalah juga mengajar di beberapa universitas di daerah sebagai Dosen Tamu. Atau jika di waktu senggang, jika ke pelosok daerah, Guru kembar ini pun tetap memberikan sumbangsih dengan mendirikan PAUD.

Dan jika waktu santai, digunakan oleh keduanya untuk ber-diving. Harapan Rosi dan Riani ke depan adalah, adanya kesetaraan pendidikan untuk semua golongan masyarakat, juga termasuk bagi masyarakat yang tidak memiliki ID. *** Hakim

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *