oleh

Teladan Keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam

(Bagian Kedua)

Oleh : H. Nurshobah Abdul Fattah, S.Ag., M.Si

DALAM tulisan sebelumnya telah dijelaskan bahwa figur Nabi Ibrahim merupakan figur suri teladan bagi umat manusia sesudahnya. Bahkan Nabi Muhammad saw merupakan generasi penerus yang mengikuti jejak langkah Nabi Ibrahim dalam berbagai aspek kehidupan, baik berkaitan dengan kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat. Seorang harus baik dunianya sekaligus juga baik akhiratnya. Dalam kehidupan seseorang harus memastikan dirinya adalah orang yang bertauhid, bahwa tidak ada tuhan yang patut disembah kecuali hanya Allah semata, dengan menjauhi segala bentuk kesyirikan, dan mengimplementasikan tauhidnya itu dalam bentuk amal saleh serta tidak membuat kerusakan di muka bumi, berbuat semena-mena, menindas sesama manusia dan memperbudaknya.

Visi KehidupanNabi Ibrahim

Salah satu teladan Nabi Ibrahim yang nyata adalah bagaimana beliau memikirkan generasi sesudahnya, yaitu anak keturunannya dan memastikan anak keturunannya memiliki visi dan misi yang sama dalam kehidupan. Dalam bahasa yang sederhana Nabi Ibrahim tidak ingin menjadi benar sendiri, baik sendiri, bahagia sendiri dan selamat sendiri.

Dalam Al-Quran dijelaskan bagaimana beliau sangat peduli dengan keberlangsungan hidup anak keturunannya. Antara lain:

  1. Surat Ibrahim ayat: 35 yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala.”

Dalam ayat ini jelas sekali bahwa selain bermohon untuk menjadikan Kota Mekah aman, yang memang terbukti saat ini sebagai kota yang teraman di dunia, beliau juga bermohon agar kiranya anak cucunya memiliki keimanan dan ketauhidan yang sama.

  1. Surat Ash Shaffat ayat 100: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”

Sebagaimana yang telah kita ketahui dalam sejarah bahwa Nabi Ibrahim lama sekali tidak memiliki anak dari perkawinan beliau dengan Siti Sarah sampai usia yang sudah tidak muda lagi. Kemudian beliau menikah dengan Siti Hajar dan akhirnya dikaruniai seorang anak yang bernama Ismail.

Sebagaimana yang juga kita maklum, bahwa kemudian akhirnya Nabi Ibrahim pun juga memiliki anak dari Siti Sarah yang bernama Ishaq.

Namun yang jadi catatan penting di sini adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak hanya berdoa sekedar memiliki anak melainkan juga anak yang saleh. Karena memang buat apa memiliki anak jika akhirnya anak itu bukan membawa kebaikan malah membawa keburukan. Bukan membawa nama harum orang tua malah membawa nama buruk orangtua, menjadi anak nakal, kriminal, terlibat dan mengkonsumsi narkoba dan semacamnya, sebagaimana yang banyak terjadi akhir-akhir ini prilaku anak yang ikut membawa orang tua berurusan dengan hukum. Na’udzubillah!

Doa nabi Ibrahim yang menginginkan kehadiran anak yang saleh barangkali jarang ditiru oleh kebanyakan orang. Umumnya bagi mereka yang telah menikah hanya mengharapkan hadirnya seorang anak, tidak lebih. Entah nanti anaknya menjadi saleh atau tidak saleh urusan belakangan.

Sepatutnya anak kita tidak hanya untuk dibesarkan namun kurang diperhatikan pendidikan agama, mental spiritual, akhlak, prilaku. Padahal Al-Quran telah mengajarkan bagaimana menyampaikan permohonan kita kepada Allah terkait anak-anak kita. Dalam Surat Al-Furqan ayat 74: “ Dan orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin orang-orang yang bertakwa.”

Indah sekali ajaran Al-Quran agar bermohon keturunan yang saleh yang menyenangkan hati karena keluarganya terdiri dari orang-orang yang saleh dan bertakwa, dan bahkan mereka berdoa agak anak dan keturunannya menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

Nabi Ismail Teladan Anak Saleh

Nabi Ibrahim pernah berdoa kepada Allah dan diabadikan doa itu dalam Al-Quran: “ Ya Tuhanku anugerahkan kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh. Maka kami beri kabar gembira dengan kelahiran seorang anak yang sangat sabar (Ismail). (QS. As-saffat: 100-101).

Doa Nabi Ibrahim tidak sia-sia dan beliau dianugerahi anak yang bernama Ismail. Seorang anak yang terbukti kesalehannya dan dapat menjadi teladan bagi umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya. Keteladanan tersebut dapat dilihat dari banyak hal.

Pertama, Nabi Ismail adalah seorang yang sangat taat kepada Allah karena memang memperoleh pendidikan karakter keislaman yang maksimal dari bapaknya Nabi Ibrahim dan Ibunya Siti Hajar.

Kedua orangtuanya tersebut tak diragukan lagi kecintaan dan keimanannya kepada Allah swt.

Keduanya patut dijadikan contoh teladan bagi orang tua-orangtua saat sekarang. Figur orangtua yang bahu membahu menciptakan keluarga bahagia berdasarkan tauhid dan keimanan kepada Allah dan mempersiapkan anak dengan membimbingnya ke jalan yang lurus.

Kedua, Nabi Ismail memiliki keimanan yang sangat tangguh dan teruji dan puncak ujiannya adalah saat ayahnya Nabi Ibrahim berniat menyembelih beliau atas perintah Allah swt. Saat dimintakan pendapat oleh ayahnya Ismail remaja hanya menjawab singkat agar ayahnya tak ragu dan melakukan apa yang diperintah Allah meski nyawa taruhannya. Jawaban Nabi Ismail ini di’rekam dalam Al-Quran: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ”Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “wahai ayahku lakukanlah apayang diperintahkan niscaya engkau akan dapati aku termaauk orang-orang yang sabar.

Kisah inilah yang terus menjadi tradisi rurun temurun sampai juga disyariatkan kepada ummat Anbi Muhammad saw. Untuk mengambil teladan kepada keluarga Ibrahim bahwa berkurbanlah jika ingin memperoleh kecintaan dari Allah Swt.

Keberanian dan Kesabaran Ismail

Keberanian dan kesabaran seorang anak remaja yang bernama Ismail patut jadi teladan bagi generasi kemudian, termasuk anak-anak milenial saat ini yang cenderung tidak mau susah dalam hidup karena diperbudak oleh kemajuan teknologi sehingga menghasilkan generasi yang cerdas otaknya namun rapuh hati nuraninya.

Kemudian yang ketiga adalah kemauan dan kemampuan Nabi Ismail dapat memenuhi harapan ayahnya sebagai anak yang saleh dan melanjutkan estafet kenabian ayahnya yang dilanjutkan olehnya, yang juga diangkat sebagai nabiyalllah demi meneruskan risalah dakwah dan berjuang agar umat manusia selanjutnya tetap berpegang pada agama tauhid.

Itulah teladan Nabi Ismail sebagai sosok anak remaja ideal yang patut dijadikan teladan yang baik sebagai bagian dari keluarga Nabi Ibrahim.

Untuk memenuhi kriteria keteladan yang ada pada Nabi Ismail tentunya diperlukan beberapa langkah. Pertama, diawali dengan kemauan orangtua dan keseriusannya untuk menjadikan anaknya sebagai anak yang saleh. Keseriusan orangtua ditandai dengan semakin mendalamnya pengetahuan agama dengan banyak belajar dengan para ulama terutama kiat sukses dalam mendidik anak.

Kedua, orang tua harus memberikan teladan terlebih dahulu dalam berbagai aspek kehidupan karena kecenderungan anak akan mencontoh terlebih dahulu sikap dan prilaku orangtuanya. Ketiga, isilah jasmani dan rohani anak dengan kecerdasan baik otak, emosinya maupun kecerdasan mental spiritualnya. Jangan sampai meninggalkan generasi lemah sebagaimana yangvtelah diingatkan Allah swt salam firman-Nya: “Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya.

Maka bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya). (QS. An Nisa: 9)

Semoga Allah memberi kemudahan kepada siapa yang bertekad mengambil teladan dari Nabi Ismail alaihissalàm. Àmin Yà Robbal Àlamin. (ta)

*Rois Syuriyyah PRNU Sukabumi Utara Kebon Jeruk Jakarta Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *