Oleh : Karsidi Diningrat
DALAM sejarah kemanusiaan, mulai dari Nabi Adam sampai saat ini, meski berbeda aliran, budaya dan agama manusia memberikan perhatian besar terhadap kehidupan setelah kematian dan kebahagiaan yang akan diperoleh dalam kehidupan tersebut. Peradaban manusia tertua yang berbicara tentang kenikmatan di alam akhirat adalah peradaban Mesir Kuno. Saat peradaban Babilonia masih menempatkan manusia yang baik dan yang jahat setelah mati di satu tempat yang gelap tanpa dibedakan, orang-orang Mesir Kuno telah membedakan antara manusia yang baik dan yang jahat. Manusia akan memperoleh pembalasan atas segala perbuatannya di dunia setelah kematian.
Seseorang yang meninggal dunia diajukan kehadapan Dewa Ozoris yang akan memberinya keputusan. Bila timbangan kejahatannya lebih banyak ia akan dimangsa binatang buas, dan bila timbangannya lebih berat ruhnya akan dibawa ke langit untuk bergabung dengan para dewa dalam perahu Dewa Ro’ (matahari). Bila timbangan kebaikan dan kejahatannya seimbang maka ia tidak akan bergabung dengan para dewa, dan tidak pula dimangsa binatang buas, tetapi dikerjakan sebagai pelayan. Mereka yang bergabung dengan para dewa akan tinggal dibeberapa belahan langit dan merasakan berbagai kenikmatan. Demikian hasil pemikiran dan perenungan mereka tentang kehidupan akhirat yang tidak mendapat bimbingan wahyu dari langit.
Pengertian Surga
Dalam Al-Qur’an, tempat kenikmatan di akhirat kelak diungkapkan dengan kata al-jannah (bentuk kata tunggal) atau al-jannaat (jamak). Menurut pakar bahasa Ibnu Faaris, maknanya adalah tirai atau tutup. Kebun disebut al-jannah karena tempat tersebut berisi penuh dengan pohon sehingga menutupi tanahnya. Terkadang pohon yang menutupi kebun itu juga disebut jannah. Orang gila disebut majnuun karena akalnya tertutupi sehingga hilang akal. Bayi yang masih dalam kandungan ibu disebut janin karena masih tertutupi, belum terlahir dan terlihat. Ibnu Manzur sebagai seorang ahli bahasa menyebutkan, masyarakat Arab mengenal al-jannah sebagai kebun yang berisi pohon kurma dan anggur. Kalau hanya berisi pohon selain kurma dan anggur disebut al-hadiqah.
Kata al-Jannah dengan pengertian demikian digunakan dalam Al-Qur’an lebih kurang 30 an ayat, seperti Firman Allah Swt, “Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan pasti Kami berkuasa melenyapkannya. Lalu dengan (air) itu, Kami tumbuhkan untukmu kebun-kebun kurma dan anggur; di sana kamu memperoleh buah-buahan yang banyak dan sebagian dari (buah-buahan) itu kamu makan.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 18-19).
Demikian Bangsa Arab saat Al-Qur’an diturunkan memahami kata al-Jannah. Islam datang dengan memberi muatan baru terhadap kata tersebut dalam ayat-ayat Al-Qur’an, yaitu sebagai tempat meraih kenikmatan dan pembalasan di akhirat kelak yang diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. Serupa dengan kebun-kebun di bumi walau antara keduanya memiliki perbedaan yang sangat jauh. Atau disebut al-jannah karena kenikmatan yang dijanjikan di tempat itu ditutupi dan tidak diketahui hakekatnya. Allah Swt. berfirman, “Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah [32]: 17).
Gambaran Fisik di Surga
Gambaran fisik yang terdapat dalam al-Qur’an tentang jannah adalah bahwa ia luas, “seluas langit dan bumi” (QS. Ali Imran [3]: 133). “Para penghuninya dapat bergerak dengan bebas dan berdiam di tempat mana pun yang mereka inginkan” (QS. Az-Zumar [39]: 74). “yang mengalir di bawahnya sungai-sungai” (QS. Al-Baqarah [2]:25). “Pohon-pohonnya memberikan naungan yang rindang dan luas” (QS. An-Nisa’ [4]: 57). “Iklimnya yang nyaman tidak dirusak oleh teriknya sinar matahari atau cuaca dingin” (QS. Al-Insaan [76]: 13). “Terdapat mata air dan air mancur yang terus menerus mengalirkan (sembilan kali) air minum yang harum aromanya” (QS. Al-Insaan [76]: 18).
Salah satu unsur penting dalam Surga adalah buah-buahan, “dan buah-buahan apa pun yang mereka pilih … dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang mengambilnya” (QS. Al-Waaqiah [56]: 20, 32-33). “Tempat tinggal yang indah” (QS. At-Taubah [9]: 72) dengan “kamar-kamar pada bagian atas dan sungai-sungai mengalir di bawahnya” (QS. Az-Zumar [39]: 20). Rasulullah Saw. telah bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat kamar-kamar atau gedung-gedung yang bagian luarnya dapat dilihat dari bagian dalamnya, dan bagian dalamnya dapat dilihat dari bagian luarnya … “ (HR. Turmudzi melalui Ali k.w.).
Memasuki Surga
Dapat dipahami bahwa jannah merupakan tempat yang sangat istimewa, dan berciri sangat khas yang dikenali melalui pintu gerbangnya, “ … sehingga apabila mereka sampai kepadanya (Surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masuklah, kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zumar [39]: 73). “Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” (QS. Al-Fajr [89]: 29-30). “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera dan aman” (QS. Al-Hijr [15]: 46). “Sungguh, Dia (Allah) pasti akan memasukkan mereka ketempat masuk (surga) yang mereka sukai!” (QS. Al-Hajj [22]: 59).
Allah Swt. berfirman, “(Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 23-24). Dua ayat ar-Ra’d di atas ini, menjelaskan bahwa para malaikat memberikan penghormatan kepada para penghuni surga dengan cara masuk ke tempat-tempat mereka melalui tiap pintu yang ada dan memberi salam damai dan sejahtera kepada mereka.
Tempat Tinggal Penghuni Surga
Ada beberapa tempat tinggal penghuni surga. Selain diungkapkan dengan kata al-jannah, surga dalam al-Qur’an juga disebut beberapa nama. Menurut para ulama Ahlus-sunnah wal-jama’ah berkesimpulan bahwa surga sebagai tempat penghuni orang-orang yang bertaqwa berjumlah empat buah.
Surga And
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirmabn, “Yaitu surga ‘Adn yang telah dijanjikan oleh Allah Yang Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya, sekalipun (surga itu) tidak tampak. Sungguh, (janji Allah) itu pasti ditepati.” (QS. Maryam [19]: 61).
Kata ‘And berasal dari kata ‘adana yang bermakna tinggal atau menetap. Jannaat ‘Adn berarti surga atau tempat tinggal yang tenang dan abadi. Menurut Ibnu ‘Abbas, yang dimaksud dengan Jannaat ‘Adn adalah surga tempat tinggal yang kekal. Dalam pendapatnya yang lain, Ibnu “Abbas mengatakan, yang dimaksud adalah kebun-kebun surga yang berisi kurma dan anggur. Ada yang mengatakan bahwa ‘Adn adalah nama istana di surga, dan ada pula yang mengatakan itu adalah nama sungai di surga.
Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam telah bersabda, “Sewaktu Allah Swt. menciptakan surga ‘And, maka Dia menciptakan di dalamnya hal-hal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati manusia. Setelah itu Dia berfirman, “Berkatalah engkau.” Maka surga ‘And mengatakan, “Telah beruntung orang-orang yang beriman.” (HR. Thabrani melalui Ibnu Abbas r.a.).
Di dalam surga banyak terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati seorang manusia pun. Hal itu selain dari kenikmatan-kenikmatan yang baru diciptakan oleh Allah Swt., setelah semua penduduk surga masuk ke dalamnya karena sesungguhnya dari satu waktu ke waktu yang lain Allah Swt., selalu menciptakan yang baru bagi penghuni surga.
Surga Al-Firdaus
Allah Swt. telah berfirman, “Sungguh, orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahf [18]: 107). Al-Firdaus berarti lembah yang subur, atau taman, atau kebun kurma.
Sejumlah riwayat menyatakan bahwa al-Firdaus adalah tempat yang paling baik dan paling tinggi di surga. Dalam salah satu sabdanya, “Sesungguhnya di surga terdapat 100 derajat atau tingkatan yang disediakan bagi orang-orang yang berjihad di jalan-Nya. Setiap dua tingkat jarak antara keduanya seperti jarak antara langit dan bumi. Kalau kalian berdoa kepada Allah maka mintalah al-Firdaus, sebab itu adalah surga yang paling baik dan paling tinggi. Di atasnya terdapat ‘Arsy Allah, dan dari situ memancar sungai-sungai surga. (HR. al-Bukhari melalui Abu Hurairah r.a. dan dalam riwayat Ahmad melalui Mu’adz r.a. juga sama dalam riwayat Hakim).
Surga itu mempunyai seratus tingkatan, Jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan lainnya yang lebih tinggi sama dengan jarak antara bumi dan langit. Dapat disimpulkan dari kalimat ini bahwa penghuni surga itu berbeda-beda tingkatannya bergantung amal perbuatan mereka; semakin banyak amal saleh yang dikerjakan seseorang, semakin tinggi pula kedudukannya di dalam surga.
Surga yang paling tinggi dan paling pertengahan ialah surga Firdaus. Dapat disimpulkan dari hadis ini bahwa letak surga Firdaus itu seperti di atas bukit yang paling tinggi dan berada di tengah-tengah surga. Dari surga Firdauslah sumber semua sungai surga. Di atas surga Firdaus tidak ada surga lain, melainkan yang ada adalah ‘Arsy Tuhan Yang Maha Pemurah.
Jannaatul-Ma’wa
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka mereka akan mendapat surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah [32]: 19). “Di dekatnya ada surga tempat tinggal” (QS. An-Najm [53]: 15). Sedangkan dalam Firman-Nya yang lain menjelaskan “bahwa surga adalah tempat singgah yang abadi bagi mereka yang takut akan maqaam Tuhannya dan menjaga diri dari tunduk pada hawa nafsu, sebagaimana halnya neraka jahiim adalah tempat singgal abadi bagi mereka yang melampaui batas ketentuan Allah dan lebih mementingkan kehidupan dunia dari pada akhirat.” (QS. An-Naazi’aat [79]: 37-41).
Ada beberapa pendapat penamaan Jannaatul-Ma’waa, di antaranya adalah ‘Ali bin Abi Taalib, al-Hasan al-Basri dan Abu Hurairah, Jannaatul Ma’waa adalah surga yang kekal, sebab pada hari Kiamat orang-orang mukmin akan singgah di tempat itu selamanya. Ibnu ‘Abbas dan Qataadah berpandangan yang dimaksud bukanlah surga yang kekal, tetapi surga tempat singgah roh orang-orang mukmin dan para syuhada. Sebagian ulama berpendapat surga itu adalah tempat singgah para malaikat, termasuk Jibril dan Mikail. Sebagian lagi mengatakan itu adalah surga yang pernah disinggahi Nabi Adam, kemudian ditinggalkannya karena tergoda rayuan Iblis. Tempat itu berada di langit ketujuh.
Jannaatun-Na’im
Allah subhanahu wa ta’ala teleh berfirman, “Dan sekiranya Ahli Kitab itu beriman dan bertaqwa, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan mereka, dan mereka tentu Kami masukkan ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 65). Secara bahasa an-na’im berarti segala sesuatu yang lezat dan dapat dinikmati, baik berupa makanan, tempat tinggal, kendaraan dan sebagainya. Kehidupan yang baik dan menyenangkan disebut juga an-na’im. Raagib al-Asfahaani memaknainya dengan nikmat yang banyak. Dengan demikian Jannatun-Na’im berarti surga-surga yang penuh dengan berbagai kenikmatan. Wallahu alam bish-shawwab.
-Dosen Akidah dan Pemikiran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
-Penasihat Pengurus Wilayah Al-Washliyah Jawa Barat.







Komentar