oleh

Sambut Tahun Baru 1445 Hijriah, Saatnya Evaluasi Diri

Oleh : H. Nurshobah Abdul Fattah, S.Ag., M.Si

DALAM Islam kita mengenal terdapat dua penanggalan, yaitu penanggalan hijriyyah dan penanggalan masehi. Kedua-duanya merupakan sunnatullah. Perhitungan tahun hijriyyah dilakukan berdasarkan perhitungan peredaran bulan mengelilingi bumi. Sedangkan tahun masehi berdasarkan perhitungan peredaran bumi mengelilingi matahari. Sebagaimana Firman Allah swt: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan dengan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS. Yunus: 5).

Jadi menurut ayat di atas baik hijriyah dan masehi merupakan sunnatullah atau ketetapan Allah.

Karena itu kurang bijaksana jika kita mempertentangkan antara tahun hijriyah dan tahun masehi dengan mengatakan tahun hijriyah adalah tahun bagi umat muslim sedangkan tahun masehi adalah tahun bagi non-muslim.

Ada yang berpendapat tahun hijriyah arahnya lebih kepada bagaimana meningkatkan kualitas hubungan kpd Allah swt, persiapan akhirat, seperti peningkatan iman, ibadah, dan amal saleh.

Sedangkan tahun masehi lebih terkait peningkatan kualitas kehidupan duniawi (ma’isyah), usaha mempertahankan hidup (survival) agar hidup makmur dan sejahtera di dunia.

Tradisi Menyambut Tahun Baru Hijiyah

Saat memasuki tahun baru hijriyah biasanya tradisi masyarakat Islam di Indonesia, khususnya di kalangan warga NU, selalu menjelang sore akhir tahun, tepatnya selesai solat asar membaca doa akhir tahun (1444 H) dan selesai solat maghrib membaca doa awal tahun (1445 H). Doa akhir tahun berisi sekitar permohonan ampun atas segala khilaf dan salah dan kiranya Allah Swt menerima segala amal ibadah yang telah dilakukan. Sedangkan doa awal tahun berupa permohonan bimbingan atas segala aktifitas, perlindungan dari tipu-daya setan dan kemampuan mengatasi hawa nafsu yang selalu cenderung kepada kejahatan.

Membaca doa akhir dan awal tahun merupakan tanda betapa kita menghargai waktu dan menghargai hidup dengan memastikan setiap langkah hidup kita sudah sesuai dengan yang digariskan oleh agama kita. Selain itu juga sebagai keseriusan setiap pribadi muslim menyongsong tahun yang akan datang dengan segenap perubahan-perubahan positif sebagai hamba Allah swt.

Secara seremonial peringatan menyambut Tahun Baru Islam biasa diisi dengan pawai dan long marc mengelilingi kampung dengan berjalan kaki sambil membawa obor dan asesoris lainnya sebagai simbol kegembiraan memasuki Tahun baru Hijriyah. Banyak pula yang meperingatinya dengan menyelenggarakan tabligh akbar, ceramah rohani di masjid, musolla dan lembaga-lembaga agama sebagai pemicu semangat untuk lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Hijrah untuk evaluasi diri Inshaallah beberapa hari lagi kita akan memasuki tahun baru Hijriyyah 1445. Ini adalah saat yang tepat bagi orang beriman untuk melakukan muhasabah untuk mengevaluasi terhadap keimanan dan keislaman, serta amal ibadah dan amal saleh yang selama ini sudah kita lakukan.

“Hisablah dirimu sebelum dihisab nanti di akhirat,” Umar Bin Khottob ra.

Terkait persiapan kehidupan di akhirat kita bisa belajar dr pesan Allah swt dalam QS. Al-Hasyr ayat 18:

“Hai orang- orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memandang apa yang telah dilakukannya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah.

Sesugguhnya Allah Maha Tahu atas apa yang kalian. Beberapa pelajaran dari ayat di atas antara lain:

Pertama, ayat ini diawali pemanggilan terhadap orang yang beriman. Orang beriman adalah orang Islam yang selalu siap menjunjung tinggi panggilan Allah swt. dan menjauhi segala hal yang dilarang. Orang beriman ketika dipanggil akan selalu menjawab dengan: ‘Sami’nà waatho’nà, saya dengar dan saya taati, bukan sèbaliknya: sami’nà wa -a’soinà, saya dengar tetapi saya tidak taati.

Kedua, Menurut Imam Ibnu Katsir (tafsir Ibnu Katsir), arti kata taqwa dalam ayat ini adalah menepati aturan Allah dan menjauhkan dari larangan-Nya. Dalam prakteknya misalnya bukan hanya kita mendirikan salat tetapi juga diiringi dengan mencegah diri dari berbuat maksiyat.

Jangan sampai ada istilah guyonan STMJ, salat terus maksiyat jalan. Astaghfirullah!

Ketiga, orang beriman diperintah untuk memandang jauh ke depan, bukan hanya 10 sampai dengan 20 tahun kehidupan di dunia tetapi memikirkan bagaimana nasibnya nanti di akhirat.

Kata ‘esok’ di sini bukanlah sekedar besok hari melainkan nanti dalam kehidupan akhirat. Para ahli tafsir mengatakan sengaja Alquran menggunakan kata besok untuk menggambarkan betapa dekatnya kedatangan hari kiamat bagi orang-orang yang beriman. Dengan demikian tingkat kewaspadaan, kehati-hatian dalam menjalankan hidup menjadi lifeslyle bagi orang yang beriman. Nah terhadap masa depan itu kita wajib mempersiapkannya dengan baik dari saat ini juga.

Keempat, dalam ayat tersebut Allah mengulang kembali kalimat yang artinya ‘bertakwalah kepada Allah’. Hal ini menurut Imam Qurtubi adalah kalimat penekanan pentingnya untuk selalu hati-hati dalam menjalani hidup di dunia, jangan sampai tersesat di akhir hayat.

Praktik dalam Berhijrah

Bagaimana menerapkan hijrah berdasarkan pesan Allah swt dalam ayat 18 surat Al Hasyr ini dapat dilaksanakan dengan baik? Mari kita perhatikan Allah swt berfirman dalam surat Albaqarah ayat 218: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Jadi menurut ayat ini bahwa untuk menyongsong hari esok di akhirat mesti siapkan iman, terus berhijrah, dan berjihad di jalan Allah swt. Jihad secara bahasa berarti mengerahkan dan mencurahkan segala kemampuan, baik berupa perkataan maupun perbuatan untuk menggapai ridha Allah swt. Jihad juga bisa berarti ijtihad dan mujahadah. Jihad melakukan perjuangan fisik, Ijtihad lebih menekankan berjuang melalui pikiran sedangkan mujahadah berjuang dengan batin. Perjuangan untuk menyongsong hari esok haris dipersiapkan dengan berjihad, ijtihad dan juga mujahadah.

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, jihad bisa diartikan kesungguhan untuk menambah kadar keimanan dan ketakwaan dengan memelihara, merawat dan meningkatkannya. Tata cara untuk memelihara dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan adalah dengan memperluas wawasan ilmu agama Islam melalui media majlis ta’lim, kursus-kursus agama yang banyak diselenggarakan di mana-mana, termasuk pula pandai memanfaatkan meda sosial yang menyajikan konten-konten islami.

Selain itu terkait peningkatan ibadah dn amal saleh adalah penting untuk tidak merasa puas dengan ibadah dan amal saleh yang selama ini telah dilakukan. Jika di tahun sebelumnya sholatnya belum sampai lima waktu, bertekadlah untuk menyempurnakan menjadi lima waktu di tahun-tahun berikutnya hingga akhir hayat. Jika sholatnya baru terbatas sholat-sholat fardhu, berjihadlah untuk menambah dengan sholat-sholat sunnah. Jika lebih banyak sholat di rumah dan sendirian, berjuanglah untuk sholat berjamaah di masjid atau musolla serta dengan menambah kekhusyu’an dalam sholat demi untuk meraih kenikmatan dalam sholat.

Dalam hal peningkatan amal saleh, pastikan hari-hari yang dilalui dipenuhi amal saleh.

Keluarkan kewajiban zakat bagi yang mampu untuk menyucikan harta, rajin berinfaq untuk mendukung dakwah islamiyah, rajin bersedekah untuk membantu mereka yang tidak mampu.

Komitmenlah pada saat kebanyakan orang hanya cenderung fokus pada investasi dunia (mengumpulkan harta di bank dan lembaga keuangan, membeli rumah, tanah dan seterusnya), kita tidak melupakan investasi akhirat. Zakat, infaq dan sedekah serta kebaikan lainnya adalah investasi akhirat yang akan kita petik hasilnya di sana. Kita tidak bisa bayangkan jika seorang di dunia kaya dengan harta benda namun di akhirat mereka sengsara. Krena terlalu semangat mengumpulkan bekal kehidupan di dunia namun melupakan akhirat.

Terakhir mari kita renungkan hadits Nabi Muhammad saw: “Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama  dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka.” (HR Hakim). Mari sebagai muslim yang baik dan peduli dengan masa depannya untuk berusaha menjadi lebih baik dari pada tahun-tahun sebelumnya. (ta)

-Rois Syuriyyah PRNU Sukabumi Utara Kebon Jeruk Jakarta Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *