oleh

Islam Sebagai Pelengkap Semua Syariat. (Bagian I)

Oleh : Karsidi Diningrat

PERLU diketahui bahwa tujuan para rasul berdakwah kepada manusia adalah untuk mentauhidkan Allah, tidak ada ilah selain-Nya, sebagaimana Allah Swt. berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut …” (QS. An-Nahl, 16: 36). Pada ayat lain Allah berfirman, “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’, 21: 25).

Endang Saifuddin Anshari mengatakan bahwa “Din ‘agama’ secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua bagian besar, yaitu pertama, Agama thabii, yaitu agama bumi, agama filsafat, agama budaya, natural religion, dinul thabii, dinul ardhi. Kedua, Agama samawi, yaitu agama langit, agama wahyu, agama profetis, revealed religion, dinus samawi.”

Islam adalah satu-satunya agama samawi. Agama sepanjang zaman, agama semua nabi, Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Zakaria, Yahya, Isa (Yesus), dan Nabi Muhammad Saw. Ia adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Idris a.s (Ozeres). Ia adalah agama yang didakwahkan oleh Nabi Nuh a.s., yang mengatakan … dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya). (QS. Yunus, 10: 72).

Ia agama yang didakwahkan oleh Nabi Ibrahim a.s., “Ibrahim bukan orang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nashrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran, 3:67). Dan dalam ayat yang lain disebutkan, “Dan orang yang membenci agama Ibrahim, hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Dan sungguh, Kami telah memilihnya (Ibrahim) di dunia ini. Dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang yang shaleh.” (QS. Al-Baqarah, 2: 130). Juga pada ayat yang lain disebutkan, “Dan Dia (Allah) telah menamai engkau sekalian orang-orang muslim dari dahulu.” (QS. Al-Hajj, 22: 78).

Agama Bani Israel

Ia adalah agama Bani Israel, “Adalah engkau hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah, 2: 133).

Ia adalah agama yang dikabargembirakan oleh Nabi Isa al-Masih a.s, “Maka ketika Isa (Yesus) mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil),  berkatalah dia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawaariyyuun (sahabat setianya) menjawab, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah, bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.” (QS. Ali-Imran, 3: 52).

Ia adalah agama yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad Saw, “Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh, dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya; Isa (Yesus), Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Dawud.” (QS. An-Nisa, 4: 163).

Sebagian besar pembahasan Al-Qur’an tentang tauhid ini berkaitan dengan tauhid uluhiyah. Yaitu bahwa Allah-lah Tuhan yang berhak disembah, tiada sekutu bagi-Nya; seluruh bentuk peribadatan hanya Dia pemiliknya. Selain itu, disebutkan dalam banyak ayat, bahwa seluruh nabi dan rasul menyerukan umat mereka untuk menyembah Allah Swt., dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Bahkan Allah Swt menciptakan jin dan manusia semata untuk beribadah kepada-Nya. Kitab suci agama-agama samawi pun menegaskan, bahwa tauhid uluhiyah ini merupakan landasan yang paling utama. Siapa pun yang menolak ajaran agama ini, lalu mencari agama lain sebagai pilihan, maka sungguh apa yang dilakukannya itu akan sia-sia, sebagaimana Allah berfirman, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.” (QS. Az-Zumar, 39: 65). Dalam ayat lain disebutkan, “Sekiranya mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am, 6: 88).

Agama Para Nabi Yaitu Tauhid

Dari ayat-ayat di atas, dapat diketahui bahwa ‘agama’ para nabi itu pada dasarnya satu, yaitu tauhid. Hanya syariatnya saja yang berbeda. Tentang hal ini Rasulullah Saw. bersabda, “Aku adalah manusia yang paling utama terhadap Isa bin Maryam, baik di dunia maupun di akhirat. Para nabi itu bersaudara (seayah), Ibu mereka berlainan, dan din mereka satu. Tidak ada nabi kurun waktu antara aku dan Isa.” (HR. Bukhari).

Allah menutup semua bentuk syariat dengan syariatnya Muhammad Saw., Allah juga menurunkan taklif kepada jenis manusia dan jin. Dengan demikian, syariat terakhir ini telah mengganti syariat-syariat yang ada sebelumnya, sebagaimana Allah Swt. berfirman, “Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang yang rugi.” (QS. Ali-Imran, 3: 85).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Demi Allah yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak ada seseorang dari umat ini, baik Yahudi maupun Nashrani, yang mendengar tentang aku dan tidak percaya tentang apa yang aku diutus untuknya kecuali kelak dia akan menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di mengatakan bahwa, “seluruh kelebihan dan kebaikan para nabi dan rasul terdahulu terhimpun pada diri Muhammad Saw. Beliau terlepas dari kesalahan, cela manusiawi, dan dosa. Itulah sebabnya, kenapa Rasulullah Saw. menempati puncak kesempurnaan makhluk. Ajarannya pun mencakup seluruh ajaran para nabi dan rasul sebelumnya. Kitab sucinya merangkum seluruh kitab suci mereka. Semua keindahan yang ada pada semua agama dan kitab suci menyatu dalam Al-Qur’an. Agama ini (Islam), memiliki kelebihan dan kesempurnaan karakter, tak ditemukan pada kitab suci mana pun.”

Karena itu, jika Allah mengangkat satu syariat untuk menggantinya dengan syariat yang lainnya dalam rangka menjaga kemaslahatan hamba-Nya. Namun, orang-orang Yahudi dan Nashrani mengingkari adanya syariat Islam sebagai pengganti dari semua syariat yang lain.

Orang Yahudi dan Nasrani Mengganti Isi Kitabnya

Orang-orang Yahudi dan Nashrani telah mengubah dan mengganti hampir seluruh isi kitabnya. Karena itu, kita sebagai Muslim harus dapat memberikan alasan dengan tegas kepada mereka bahwa Taurat dan Injil yang ada di tangan mereka sekarang ini bukan lagi seperti aslinya. Berikut ini beberapa contoh perubahan yang terjadi pada kitab-kitab mereka.

Said bin Ali Al-Qahthani mengatakan bahwa “dalam kitab Taurat tertera bahwa Allah memerintahkan Adam untuk mengawinkan anak-anak perempuannya dengan anak laki-lakinya dari satu orang ibu kandung secara berselang-seling, seperti bukan saudara kandung. Satu ayah dan satu ibu serta satu keturunan. Kemudian setelah itu Allah mengharamkan perkawinan seperti ini yang berlaku bagi semua agama, baik Islam, Yahudi, atupun Nashrani”.

“Pada juz pertama dalam kitab Taurat tertulis pula bahwa Allah berfirman kepada Nabi Nuh a.s. ketika ia berada dalam kapalnya (saat azab banjir datang), “Sesungguhnya Aku jadikan semua jenis binatang sebagai makanan bagimu dan keluargamu, juga Aku berlakukan bagimu semua jenis rerumputan yang tumbuh. Kecuali darah, janganlah kamu memakannya.” Kemudian setelah itu Allah mengharamkannya bagi semua pembawa syariat. Di antaranya babi pada syariat Nabi Musa a.s.”

“Allah menceritakan Ibrahim a.s. menyembelih anaknya. Kemudian dihapuskan hukum ini sebelum dilaksanakan. Orang-orang mengingkari adanya penggantian syariat mengakui hal ini.” “Mengawini dua saudara perempuan diperbolehkan dalam syariat Nabi Ya’qub a.s.  Kemudian diharamkan pada syariat Nabi Musa a.s.” “Allah memerintahkan para penyembah anak sapi dari Bani Israil agar saling berperang lalu menyuruh mereka berhenti berperang.” (*/fs)

-Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

-Wakil Ketua 1 Majelis Pendidikan Pengurus Besar Al-Washliyah.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *