POSKOTA.CO – Setiap orang punya sisi baik dan sisi buruk. Bicaralah kebaikannya jika di depan umum,namun ingatkan dia tentang keburukannya di ruang private. Kenapa?, karena orang yang suka bicara kasar, hidupnya akan nyasar ke belukar bersuasana sukar.
Jangan biasakan berkata dusta, karena dusta akan membawa sejuta derita di belakangnya. Kata-kata yang menyakitkan tidak mudah di lupakan pendengarnya, karena kata yang menyakitkan, bukan hanya di dengar di kuping saja, akan tetapi merasuk ke hati yang paling dalam.
Kalau bicara jangan keras-keras. Karena selain tidak sopan, kita jadi terkesan tidak berkelas. Ucapan yang terlanjur meluncur sulit di tarik mundur,. karena itu hati-hatilah ketika bertutur kata.
Alkitab mengingatkan kita, agar selalu berhati-hati dalam ber-kata-kata. Karena lidah yang panjangnya hanya 3 inci, bisa membunuh manusia yang tingginya 6 kaki.
“Lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati,”demikian kata Yapy Melianton Doroh, Majelis GPIB Zebaoth Bogor mengutip Amsal 15:4.
Alkitab juga terus mengingatkan kita, agar Berhati-hati dan sebisa mungkin menghindari prasangka, karena prasangka itu merupakan perkataan yang paling dusta.
“Bicaralah sesudah yakin benar dan yakin membawa manfaat. Jangan pikirkan lagi ucapan negatif orang lain. Buanglah ucapan negatif dari pikiran kita, agar pikiran kita menjadi bersih untuk menuju peraduan mimpi,”kata penulis.
Sebagai anak Tuhan yang hidup dalam terang Kristus Yesus, maka sudah selayaknya kita mengucapkan kata-kata yang memberi semangat bagi orang lain.
Kenapa?, karena dengan kata-kata yang memberi semangat, rejeki dan relasi akan menyertai langkah kita sepanjang hari.
Untuk itu, tidak ada salahnya, jika sebagai anak Tuhan, mari kita terus tanamkan kata-kata yang penuh Kasih dalam kehidupan ini. Mari, peliharalah hati dengan terus memberikan senyuman kepada semua orang seraya kita terus berdoa.
Karena doa bagi orang percaya, sangat besar kuasaNya. Kita akan melihat apa yang terjadi, ketika doa kita di panjatkan dengan sungguh-sungguh.
“Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya,” Kitab Yakobus 1:26 menegaskan.
Maka berdasarkan pesan-pesan ini, penulis berkeyakinan, bahwa hanya Kasih yang mampu membuat seseorang menjadi tenang dalam hidupnya.
Kasih yang di ajarkan Tuhan Yesus, adalah Kasih yang sungguh-sungguh dan bukan Kasih yang semu atau Kasih fatamorgana.
“Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Dan yang kedua, yang sama dengan itu yakni Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,”demikian penulis mengutip Matius 22:39
Jadi, mengasihi adalah menaruh kasih kepada orang lain. Mencintai, menyayangi sesama. Mengasihi sesama adalah mencintai dan menyayangi diri sendiri.
Kalau ada sesamamu yang lapar, beri dia makan. Kalau ada yang haus, beri dia minum.
Kalau ada yang telanjang, beri dia pakaian.
Kalau ada yang sakit, doakan dia.
Kalau ada yang dipenjara, kunjungi dia.
Kalau ada yang tersesat, selamatkan dia.
Karena dengan mengasihi sesama, maka kita telah mengasihi Tuhan.
“Dan seraya menanggapi, Raja itu akan berkata kepada mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, apa saja yang telah kamu lakukan kepada seseorang yang terkecil dari saudara-saudara-Ku ini, kamu telah melakukannya kepada-Ku,” sabda Tuhan didalam Kitab Matius 25:40. (#)







Komentar