oleh

Vaksin DBD Miliki Peran Penting Kendalikan Kasus DBD di Tengah Masyarakat

JAKARTA – Kementerian Kesehatan menargetkan nol persen kematian akibat demam berdarah dengue (DBD) pada tahun 2030. Untuk mencapai target tersebut, peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan terutama untuk pengendalian vector nyamuk melalui Gerakan 3M Plus.

“Implementasi 3M Plus masih memegang peran yang sangat krusial dalam pengendalian kasus DBD di Indonesia,” ujar dr Imran Pambudi, MPHM, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Ditjen P2P, Kementerian Kesehatan RI, pada acara Talkshow #Ayo3mplusVaksinDBD dan Buka Puasa Bersama, Kamis (21/3/2023).

Data Kemenkes tahun 2023 mencatat 114.720 kasus DBD dengan angka kematian mencapai 894 kasus. Lalu sejak Januari 2024 hingga kini Kemenkes telah mencatat 35.556 kasus dengan angka kematian mencapai 290 kasus.

Menurut dr Imran, mencegah kasus DBD tidak cukup dengan Gerakan 3M yakni menguras atau membersihkan tempat penampungan air, seperti bak mandi, drum air, atau toren air secara rutin,  menutup dan mengubur tempat atau barang yang bisa menjadi wadah genangan air, dan mendaur ulang barang bekas agar tidak dijadikan tempat perkembang biakan nyamuk. “Harus dilakukan Plusnya, atau kita sebut 3M Plus. Plusnya bisa kita lakukan dengan berbagai cara seperti menggunakan kelambu saat tidur, menggunakan lotion anti nyamuk, bahkan bisa juga menggunakan hasil teknologi dan inovasi seperti wolbachia dan vaksinasi,” lanjutnya.

Menurutnya vaksin DBD menjadi bagian penting dalam upaya memerangi DBD di tengah masyarakat. Karena itu, banyak layanan kesehatan termasuk Puskesmas yang saat ini telah menyediakan layanan vaksin DBD.

Senada juga disampaikan dr Alvin Saputra, Edukator Kemenkes. Menurutnya DBD adalah penyakit tahunan yang tak kunjung selesai. Padahal masyarakat sudah tahu penyebab dari penyakit DBD. “Vektornya sudah diketahui yakni nyamuk. Tetapi kenapa masih ada kasus DBD? Salah satunya karena kita nggak bisa kendalikan musim,” jelasnya.

Kasus DBD akan meningkat kasusnya ketika musim hujan dimana genangan air ada dimana-mana. Genangan air bersih yang muncul pada musim hujan menjadi tempat terbaik sebagai tempat perindukan nyamuk aedes aegypti, penyebab DBD.

Saat ini, upaya mengendalikan nyamuk penyebab DBD yang banyak dilakukan masyarakat selain 3M adalah fogging atau pengasapan. Padahal memberantas nyamuk dengan fogging atau pengasapan sudah bukan lagi zamannya. Fogging dianggap tidak efektif dan buang-buang anggaran saja. “Itu sebab Gerakan 3M harus ditambahin Plus. Plusnya bisa pakai kelambu, bisa lotion anti nyamuk dan vaksinasi,” ujarnya.

Saat ini di Puskesmas di Jakarta kata dr Ngabila Salama, Edukator Kemenkes, sudah banyak yang menyediakan vaksin DBD. Vaksin ini efektif untuk mencegah keparahan dan kematian akibat DBD. “Jadi ini cara yang murah dan mudah untuk mencegah DBD terutama dari Tingkat keparahan dan kematian. Vaksin ini diberikan untuk rentang usia 6 tahun hingga 45 tahun,” jelas dr Ngabila.

Untuk membentuk fondasi yang kuat, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Takeda, sebuah perusahaan biofarmasi global yang berfokus pada pasien, telah menyusun program kerjasama dan meluncurkan Kampanye #Ayo3MplusVaksinDBD. Tujuannya adalah mengajak lebih banyak masyarakat untuk semakin memahami tentang DBD beserta tindak pencegahan, termasuk memberikan edukasi seputar upaya preventif yang inovatif, seperti Wolbachia dan vaksinasi.

Kampanye ini kemudian diperkuat dengan berbagai serangkaian dialog, baik dengan para pembuat kebijakan, maupun komunitas sosial, untuk mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan DBD di Indonesia.

Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht menyampaikan Takeda berkomitmen untuk ikut mencegah DBD di Indonesia. Bentuk komitmen tersebut salah satunya adalah menjadi anggota pendiri Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue, yang digagas oleh Kaukus Kesehatan DPR RI dan Kementerian Kesehatan.

Atas komitmennya tersebut, Takeda telah menerima penghargaan yang luar biasa dari PR Indonesia dengan meraih PR Indonesia Award 2024, kategori Program Corporate PR untuk Perusahaan Swasta. “Untuk itu, kami berterima kasih kepada PR Indonesia yang telah merekognisi upaya pencegahan DBD yang kami lakukan,” katanya. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *