oleh

Peran Hormon Prolaktin dan Oksitosin Dalam Menyusui

Penulis : dr. Fransiskus Aditya Kristianto

PROSES  menyusui merupakan interaksi yang sangat penting antara seorang ibu dan anaknya. Selain mendapatkan ASI (Air Susu Ibu) yang merupakan sumber utama nutrisi seorang anak, terjadi juga interaksi antara ibu-anak yang akan merangsang perkembangan si buah hati.

Masa emas pertumbuhan dan perkembangan anak terjadi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) yaitu selama sembilan bulan dalam kandungan dan setelah lahir sampai sekitar usia dua tahun. Pada masa tersebut, sebagian besar nutrisi yang didapatkan dari makanan dan susu digunakan tubuh untuk tumbuh kembang otak.

Dapat disimpulkan asupan nutrisi yang didapatkan dari ASI adalah faktor terpenting dalam tumbuh kembang anak. Apabila asupan untuk anak terpenuhi dengan baik maka dapat mencegah terjadinya stunting.

Secara teori terdapat 2 hormon utama dalam tubuh ibu yang berperan penting dalam menyusui. Produksi ASI yang baik dan pengeluaran ASI yang lancar akan membuat proses menyusui lebih maksimal. Kedua hormon tersebut adalah prolaktin dan oksitosin.

Hormon prolaktin akan meningkat setelah persalinan dan bekerja dengan menstimulasi produksi ASI. Pada saat menyusui, hormon ini akan meningkat dan kemudian mencapai kadar tertinggi sekitar 30 menit setelah mulai. Apabila ibu secara rutin menyusui dan puting ibu terstimulasi, prolaktin akan semakin meningkat dan produksi ASI akan semakin banyak. Sebaliknya apa bila ibu tidak menyusui secara rutin maka hormon prolaktin akan terhambat, menyebabkan produksi ASI berkurang dan lama kelamaan ASI akan kering.

Dari beberapa penelitian dikatakan prolaktin lebih banyak diproduksi pada malam hari, sehingga menyusui pada malam hari juga dianjurkan. Kelebihan lain dari hormon prolaktin adalah dapat membuat ibu lebih tenang dan mengantuk, sehingga setelah menyusui ibu dapat beristirahat dengan lebih baik.

Oksitosin merupakan hormon yang berperan dalam pengeluaran ASI. Ketika bayi menghisap putting ibu, hormon ini akan bekerja dan menstimulasi pengeluaran ASI. Kadar hormon oksitosin akan meningkat ketika ibu merasa nyaman seperti saat melihat atau mencium anaknya. Mendengar suara tangis anak juga dapat meningkatkan hormon oksitosin. Sebaliknya, apabila ibu merasa kesakitan atau tidak nyaman, kerja hormon tersebut dapat terhambat dan produksi ASI akan berkurang.

Salah satu cara merangsang kedua hormon ini adalah kontak kulit antara ibu dan bayi setelah persalinan. Kontak kulit dengan bayi akan menstimulasi hormon oksitosin dan prolaktin. Oleh karena itu Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sangat dianjurkan dan sudah banyak dilakukan di Indonesia.

Beberapa faktor yang dapat menghambat produksi ASI adalah penggunaan alat kontrasepsi yang mengandung estrogen, penggunaan dot yang terlalu dini, depresi pada ibu dan obesitas. Apabila ada permasalahan tersebut, produksi prolaktin dan oksitosin akan terhambat.

Pemberian ASI yang dianjurkan oleh WHO adalah sampai dengan usia dua tahun atau lebih dengan pemberian secara eksklusif selama 6 bulan. Yang dikategorikan sebagai ASI Eksklusif adalah pemberian ASI dengan cara menyusui langsung tanpa diberikan tambahan makanan padat maupun cair selama 6 bulan awal kehidupan. Setelah usia 6 bulan dapat diberikan makanan tambahan sebagai pendamping ASI.

Semua orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh sehat dan pintar. Seperti sudah diuraikan diatas, pemberian nutrisi pada 1000 HPK sangat penting untuk pertumbuhan otak. Oleh karena itu pemberian ASI tidak boleh terlambat dan harus adekuat.

Hal yang harus diperhatikan adalah menyusui secara langsung dengan rutin, menghindari kontrasepsi yang mengandung estrogen dan menjaga kesehatan ibu. Selain kesehatan fisik ibu, kesehatan mental juga penting diperhatikan agar timbul perasaan nyaman yang akan memperlancar proses menyusui(Fransiskus Aditya Kristianto).

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *