oleh

Kerjasama Kementerian PUPR dengan Pemerintah Jerman, TPA Supit Urang di Kota Malang Gunakan Sistem Sanitary Landfill

POSKOTA.CO-Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bakal menyulap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang di Malang, Jawa Timur sebagai kawasan TPA dengan sistem sanitary landfill. Dengan sistem ini maka sampah-sampah yang dibuang ke TPA ini nantinya akan lebih ramah lingkungan dan meminimalisir dampak pencemaran. Untuk itu sebelum dilakukan penumpukan di TPA ini, sampah-sampah yang diangkut akan masuk ke area sortir terlebih dahulu.

“Pengembangan TPA ini merupakan hasil kerjasama antara Kementerian PUPR dengan pemerintah Jerman dalam program Emission Reduction in Cities – Solid Waste Management (ERIC-SWM),” kata  Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Jawa Timur, Muhammad Reva Sastrodiningrat, pada Media Gathering Forum Wartawan PUPR (Forwapu) di Kota Malang, Kamis (08/04/21).

Di TPA Supit Urang sampah-sampah yang  akan disortir terlebih dahulu untuk dipilah-pilah kandungannya.

Menurut Reva, proyek ini didanai dari  pinjaman lembaga pembiayaan di Jerman, KFW Fichtner sebesar Rp 230 miliar. Proyek  dikerjakan dengan skema multiyears contrct dari tahun 2018 selama tiga tahun, luas area pembuangan 5 hektar (termasuk yang baru) dan secara keseluruhan 7,5 hektar.

Umur TPA dengan sistem sanitary landfill ini diperkirakan  mencapai 7 tahun kedepan. Pada sistem ini  residu atau sisa hasil penyortiran dan pengolahan sampah akan diletakkan pada lahan terbuka yang sudah tersedia. Diharapkan nantinya tumpukan sampah sisa hasil pengolahan itu akan menjadi kawasan hijau.

Dia berharap masyarakat yang membuang sampah rumah tangga hendaknya dapat  memilahnya terlebih dahulu sebelum diangkut ke TPA Supit Urang. Dengan cara ini maka umur TPA bisa lebih panjang. Dengan sistem sortir mandiri yang dilakukan oleh setiap rumah tangga maka beban sampah yang diangkut ke TPA ini akan semakin berkurang. Saat ini jumlah sampah yang diangkut ke TPA tersebut rata-rata mencapai 450-500 ton per hari.

Sampah yang telah disortir di TPA Supit Urang sebagian dijadikan pupuk organik untuk berbagai keperluan

“Umur TPA ini  kita perkirakan  antara 5-7 tahun, tapi tergantung dari kita. Saya berharap setiap rumah tangga mulai melakukan penyortiran sendiri  sampah yang akan dibuangnya sehingga saat masuk kesini bisa lebih efisien,” imbuhnya.

Reva menambahkan. bahwa dalam proyek pengembangan kawasan TPA Supit Urang juga telah dipasang instalasi khusus untuk memproduksi gas metana yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan memasak rumah tangga. Hal ini sebagai wujud komitmen pemerintah dalam mendukung pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT).

“Harapan nanti teknologinya akan semakin berkembang (untuk pengolahan sampah), saat ini udah kita siapkan infrastruktur untuk pemanfaatan sampah sebagai sumber energi EBT, nanti gas metana itu kita tangkap lalu diproses untuk kemudian dialirkan melalui pipa yang sudah kita tanam sehingga bisa dimanfaatkan untuk keperluan memasak atau lainnya,” pungkas dia. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *