oleh

Fenomena Lain di Balik Ulama Wafat dan Bencana Alam

POSKOTA.CO – Pengamat kebijakan publik, Rinaldi Rais, mengaku tersentak saat menerima kabar dari media sosial terkait wafatnya Syech Ali Jabber disusul bersamaan lima (5) ulama pimpinan sejumlah pesantren di Indonesia. Bahkan menyusul beruntunnya bencana alam seperti, banjir, gempa dan gunung meletus seakan mengiringi.

“Benarkah ini sebagian tanda-tanda percepatan Hari Akhir Dunia, seperti janji Tuhan YME sebagai Kiamat Besar?”  kata batin Rinaldi yang juga menulis Catatan Tercecer RR itu, Minggu (17/1/2021). Syech Ali Jabber termasuk ke-17 ulama garis lurus wafat baru separoh Januari 2021 bahkan menjadi 295 ulama digabung catatan sepanjang 2020.

“Berarti ilmu-ilmu terkait akhlak mulia dalam kehidupan manusia yang dikuasai para ulama itu dicabut Sang Khalik,” gumam praktisi hukum itu. Alam pun seperti ikut berduka ditandai erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur, banjir longsor di Sumedang, gempa Mamuju di Sulawesi Barat, yang memunculkan puluhan bahkan ratusan ribu pengungsi.

Artinya, seperti diyakini Rinaldi Rais, kematian pendakwah penerus Rasulullah SAW itu bagai padamnya api atau sinar menuju kegelapan. Kehidupan manusia tanpa akhlak, boleh jadi membuktikan kebenaran teori Homo Homini Lupus-nya Thomas Hobbes dimana manusia menjadi serigala bagi manusia lain.

“Ukurannya tidak lagi moralitas melainkan materi, kekayaan bendawi (harta) dan tahta (kekuasaan), yang seringkali mengabaikan harkat martabat kemanusiaan,” ujar wartawan Al-Faqir itu. “Seperti kisah Fir’aun mewakili kekuasaan, atau cerita Qorun mewakili harta karun”.

 PESAN SANG KYAI

Indonesia dibangun berdasar sendi-sendi relijius, yang terimplementasikan dalam ideologi Pancasila dengan Sila ke-1 Ketuhanan Yang Maha Esa. Komunisme, yang berideologi Karl Marxisme, pun dituntaskan Tap MPRS nomor XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai partai terlarang.

Namun begitu, sambung Rinaldi Rais, gonjang-ganjing kehidupan bernegara & berbangsa ditandai Menteri Keuangan, Sri Mulyani, bersemangat menambah utang APBN 2021 Rp 1.654 trilyun dari yang telah ada Rp 6.000 trilyun karena defisit anggaran.

Pengamat kebijakan publik, Rinaldi Rais. (dk)

Benang merah fenomena relijius itu mengingatkan pengamat Rinaldi akan sebuah pesan Sang Pencerah, Kiyai Ahmad Dahlan. “Apabila pemimpin-pemimpin negara dan para ulama itu baik, maka baiklah alam; dan apabila pemimpin-pemimpin negara dan para ulama itu rusak, maka rusaklah alam dan negara (masyarakat dan negara).”

Kalimat pendiri Muhammadiyah itu diungkap KRH Hadjid pada Halaman 59 dalam buku karya Pelajaran Kiai Haji Ahmad Dahlan 7 Falsafah  dan 17 Kelompok Ayat Al-Qur’an (2018), terbitan Suara Muhammadiyah.

“Konteksnya terjadi pada bulan Maulud tahun 1335 Hijriyah. Ketika itu, di hadapan para penghulu, ketib (khatib), ulama, kiai, dan tokoh agama di serambi Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Kiai Dahlan menerangkan kitab Hidayatul Bidayah karangan Imam Ghozali, tentang kerusakan umat Islam dan sifat-sifat ulama suu’ (ulama yang busuk),” ujar Rinaldi, wartawan Al-Faqir itu mengutip buku Kiai Raden Haji (KRH) Hadjid. (dk)

 11 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *