oleh

Catatan Tercecer RR ke-19, antara Covid-19, Pilkada Serentak dan Vaksin

-Nasional-84 views

POSKOTA. CO –  “Jika Anda mendengar bunyinya berarti Anda Tidak Jaga Jarak. Jika Anda mencium baunya berarti Anda pakai Masker Tidak Standar. Dan, jika Anda Tidak mencium baunya berarti Anda positif covid19,” jawab seorang Emak-emak yang ditegur saat Kentut dalam sebuah antrian.

Sebait Joke segar di media sosial itu meningkahi teror pandemi corona virus disease alias covid19. Di tengah sebagian negara dirundung kemunculan angka-angka kematian mengejar kesembuhan, dari serangan makhluk berdiameter 0,125 mikrometer. Sebagian lain menguji bahan kimia plus herbal di laboratorium, mencipta vaksin; di antaranya dipakai masyarakatnya dewek, sedangkan Tiongkok menjuali vaksin ke negara-negara peminjam Yuan-nya.

Indonesia, dan konon segelintir negeri, ikutan memborong vaksin Covid19 dari China karena segolongan pejabatnya “meyakini” pengalaman awal mewabahnya di Wuhan serta didukung World Health Organization (WHO) yang mengurusi soal kesehatan dunia alias PBB.

Yaps, heboh itu diawali pengumuman Presiden Joko Widodo bahwa negerinya terpapar pandemi Covid19 mulai diketahui Maret 2020 di Kota Depok, Jawa Barat; kendati WHO sudah mengumumkan wabah lanjut pandemi pada 2019. Nusantara pun menyiasati Lockdown banyak negara diganti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Gugus Tugas Covid19 pimpinan Letjen TNI Doni Monardo rutin mengumumkan fluktuasi angka terpapar, kesembuhan, kematian, dengan juru bicara pemerintah satu pintu; dari semula Achmad Yurianto yang juga Dirjen Pencegahan  dan  Pengendalian Penyakit (P3) Kementerian Kesehatan, digantikan ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito. Mekanisme penanganan pandemi pun berubah; PSBB kemanusiaan diharuskan sejalan PSBB keekonomian.

Tetiba heboh menyeruak manakala Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, berencana mengumumkan PSBB (kemanusiaan) total pada Rabu (9/9/2020) mulai berlaku Senin (14/9/2020). Menko Perekonomian dus ketua satgas covid19, Airlangga Hartarto, sontak merapatkan 4 menteri & 8 gubernur. Hasilnya, Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengungkap rencana Anies itu membuat lose transaksi bursa saham sampai Rp 300 trilyun sehari, yang diberitahu ekonomi Said Didu bahwa transaksi maksimal Rp 6 trilyun/hari. Wamenlu Mahendra Siregar & Mendag Agus Suparmanto meradang bahwa PSBB total DKI Jakarta memperburuk kinerja perdagangan. Alhasil, Gubernur Anies mengalah dengan mengumumkan PSBB ketat.

Tetiba pula, Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, mengumumkan vaksin covid19 China  akan disuntikkan kepada 100 juta penduduk Indonesia mulai Desember 2020, dan berlanjut 127 juta pada awal tahun 2021.

Terus bagaimana kelanjutan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak pada 9 Desember 2020? Kata kehidupan, show muat go on. Alasannya jelas, kepentingan yang banyak juga banyak kepentingan. Sebuah pertarungan antara sisi kemanusiaan  dan keekonomian.***RR

Penulis Rinaldi Rais, Wartawan al-Faqir

NOTE : Catatan Tercecer RR
ke-18 : Kami Bukan Kita & Kita Pasti Kami
ke-17 : Sang Pecundang, sebuah Trilogi Narsis ke-3
ke-16 : Sang Pecundang, sebuah Trilogi Narsis ke-2
ke-15 : Sang Pecundang, sebuah Trilogi Narsis ke-1
ke-14 : Pilkada Depok 2020, Akhir atawa Langgengkan Kuasa PKS
ke-13 : Kota Depok, Kau Mulai Kau Akhiri Covid-19
ke-12 : Covid-19, di tengah Herd Immunity & Skenario Hiduo Normal
ke-11 : Covid-19, di tengah Peluang & Kehancuran
ke-10 : Covid-19, Pasukan Allah versus Manusia Sombong
ke-9 : Antara Ponzy, Hak Ulayat & Nurani Negarawan
ke-8 : Pilkada Depok 2020, Pertarungan PKS-PDIP
ke-7 : Fenomena Emak Emak
ke-6 : Kebablasan Indonesiaku
ke-5 : Stop!!! Tak Cukupkah Pahlawan Berkorban
ke-4. : Antara Kebenaran & Pembenaran
ke-3. : Pilih Presiden atawa Pesinden 2019
ke-2 : Freeport & Diplomasi Asing
ke-1 : ODGJ & Kegilaan Pemilu 2019                         (dk)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *