oleh

BKKBN Sulbar Intervensi Langsung Keluarga Risiko Stunting

MAMUJU-Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terus berupaya menekan angka prevalensi stunting di Sulawesi Barat. Salah satu upaya yang massif dilakukan adalah melakukan intervensi langsung kepada keluarga risiko stunting (KRS) bersama mitra kerja melalui penyediaan data KRS.

Dalam rangka meningkatkan kualitas data KRS, BKKBN mengadakan Verifikasi dan Validasi KRS tahun 2024 yang rencananya akan diadakan serentak pada 23 April hingga 31 Mei 2024. Untuk itu, Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Barat menggelar Workshop Verifikasi dan Validasi (Verval) KRS di tingkat Kabupaten Mamasa dan Mamuju Tengah, Kamis (04/04/2024).

Workshop ini menyasar pengolah data tingkat kabupaten serta pengolah data dan verifikator tingkat kecamatan di enam kabupaten di Sulbar. Pelaksanaan Verval KRS tahun 2024 menargetkan sebanyak 648 desa/kelurahan di Sulbar.

Prioritas sasaran yang akan didata pada Verval KRS adalah keluarga yang belum terdata dan keluarga dengan ibu hamil dan balita. Pendataan akan dilakukan langsung oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) dengan supervisi Penyuluh KB/PLKB. Pengolah data di seluruh tingkatan diharapkan dapat bersinergi dengan Satgas Stunting.

Pada  2023, Sulbar  mencapai target 100 persen pelaksanaan Verval di 259 desa/kelurahan lokus Verval dengan total  41.481 KRS. Pemanfaatan data KRS yang telah diperbarui melalui Verval tersebut turut berperan serta dalam menekan angka stunting di Sulbar yang berhasil turun sebanyak 4,7 persen pada  2023.

Menurut Ketua Tim Kerja Pelaporan, Statistik dan Pengelolaan TIK BKKBN Sulbar, Dian Pancawaty, Data yang dikumpulkan secara serentak oleh TPK pada Verval KRS tahun 2024 akan menghasilkan data ‘by name by adress’ keluarga sasaran yang akan menjadi panduan bagi TPK dalam melakukan pendampingan keluarga berisiko stunting.

Ia berharap melalui hasil Verval tersebut, TPK akan lebih fokus dalam mencari sasaran keluarga untuk didampingi sesuai kondisi keluarga sasaran (ibu hamil, pasca persalinan, bayi di bawah dua tahun atau baduta dan balita).

“Ibaratnya kalau mau berperang, kita harus tahu siapa musuhnya, di mana, dan bagaimana kondisi musuh. Sehingga kita dapat membuat strategi jitu untuk memutus rantai penyebab stunting,” ungkap Dian.

Dian juga menekankan peran TPK bersama seluruh Penyuluh KB yang ada di desa/kelurahan sebagai penggerak di lini lapangan untuk melakukan pencegahan dan mendeteksi sejak dini potensi keluarga yang dapat menjadi keluarga berisiko stunting.(*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *