oleh

Penampilan Afgan Sedot Animo Ribuan Pengunjung Night at The Library di Perpustakaan Jakarta ‎

‎JAKARTA – Dinas Perputakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta melalui UPT Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin menyelenggrakan Night at The Library. Kegiatan yang berlangsung di Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Menteng, Jakarta Pusat ini turut dimeriahkan penampilan artis kenamaan Indonesia, Afgansyah Reza.

Penampilan Afgan yang membawakan lagu-lagu hits sukses menyedot animo lebih dari 1.000 pemustaka di Perpustakaan Jakarta. “Kolaborasi kreatif dengan figur publik seperti Afgan menjadi magnet baru bagi masyarakat untuk kembali menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar dan berekspresi,” kata Kepala Dispusip DKI Jakarta Nasrudin Djoko Surjono, Jumat (28/11) malam.
‎
‎”Karya-karya Afgan tadi, termasuk video klipnya, syutingnya dilakukan di sini. Saya berharap itu akan menarik lagi pengunjung yang akan datang ke perpustakaan,” kata Nasruddin, Jumat (28/11/2025) malam.
‎
‎Nasruddin menyampaikan, rasa syukurnya atas tingginya antusiasme masyarakat terhadap perpustakaan yang kini menjadi ruang publik multidimensi. “Kita bisa berkumpul dalam suasana yang sangat mendukung perjalanan kreatif yang menghidupkan kembali ruang perpustakaan sebagai jantung literasi Jakarta,” terangnya.
‎
‎Menurutnya, perpustakaan kini bukan sekadar tempat membaca, tetapi juga ruang bekerja, belajar, berdiskusi, berkolaborasi, hingga menikmati seni dan budaya. “Kami berencana mereplikasi kegiatan serupa di perpustakaan-perpustakaan lain di tingkat kota dengan tentu dilakukan penyesuaian,” jelasnya.
‎
‎Kepala UPT Perpustakaan Jakarta dan PDS HB Jasin, Diki Lukman Hakim menegaskan, gelaran ini menyoroti eratnya hubungan antara proses kreatif dan literasi. “Night at The Library kali mengusung tema Retrospektif, sama dengan album ketujuh Afgan,” bebernya.
‎
Diki menjelaskan, dalam sesi talkshow, para narasumber menekankan bahwa lahirnya karya besar tidak pernah lepas dari kekuatan membaca dan eksplorasi informasi. “Dalam proses kreatif ini memang perlu proses literasi yang cukup panjang. Seperti yang Mas Muhammad Iqbal sampaikan tadi saat sesi talkshow untuk menciptakan suatu karya itu memang membutuhkan literasi yang cukup banyak sehingga menjadi karya-karya yang luar biasa,” bebernya.
‎
‎Menurutnya, Night at The Library terbukti konsisten menarik antusiasme publik sekaligus menjadi ruang kreatif bagi komunitas. Sejak pertama digelar pada 2022, acara ini sudah berlangsung 14 kali.
‎
‎”Jumlah pengunjung saat kegiatan ini kami batasi karena keterbatasan tempat. Kami akan terus menghadirkan program literasi yang relevan dengan minat masyarakat, termasuk kegiatan yang menghubungkan seni, musik, dan pengetahuan,” ujar Diki.

Sementara itu, salah seorang pemustaka Farah menyampaikan, inovasi Night at The Library sangat bagus. Melalui kehadiran penyanyi papan atas Indonesia, secara nyata dapat menyedot animo generasi muda atau Gen Z untuk datang ke perpustakaan.

“Sangat luar biasa dan bagus. Ini mengubah paradigma perpustakaan yang tidak hanya menjadi tempat membaca, tapi juga ruang kreatif hingga hiburan, menjadikan perpustakaan tempat yang menyenangkan,” pungkas Farah. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *