POSKOTA.CO – Butuh kerja keras, kerja sama, pengorbanan, dan waktu untuk mencapai tujuan. Maka, sumber daya manusianya harus matang dan paham teknologi informasi dan betul-betul digital.
Hal tersebut menjadi acuan Marten Teny Pietersz yang baru dilantik sebagai panitera Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur untuk membangun zona integritas di institusinya tersebut menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK), dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).
“Begitu saya dilantik kemarin, Pak Ketua (Ketua PN Jakarta Timur-red) menginstruksikan saya untuk melakukan suatu kegiatan WBK dan WBBM,” katanya memulai perbincangan dengan POSKOTA.co di ruang kerjanya, baru-baru ini.
Selain itu, Ketua PN Jakarta Timur juga menekankan kepada ayah dua anak tersebut untuk segera melakukan komunikasi-komunikasi dan kerja sama yang baik sehingga dapat mencapai target.
“Artinya, lewat pengalaman-pengalaman saya sebagai panitera, baik di PN Jakarta Barat, maupun PN Medan, akan saya tularkan di sini (PN Jakarta Timur-red), sehingga reformasi birokrasi betul-betul terlaksana sesuai program yang dicanangkan pemerintah,” terangnya.
Langkah berikutnya, Marten berencana membuat terobosan atau menciptakan inovasi-inovasi baru yaitu pelayanan mandiri. Di mana seluruh masyarakat pencari keadilan dapat melihat hak-haknya. Apa saja terkait dengan apa yang menjadi haknya di pengadilan, seperti dengan melihat gambarnya, biaya-biaya perkaranya, juga pengambilan putusan.
“Saya berencana membuka pelayanan mandiri. Ini nantinya akan membuat masyarakat lebih dekat dengan lembaga peradilan, sehingga masyarakat bisa merasakan bahwa pengadilan benar-benar hadir untuk masyarakat,” bebernya.
Bahkan pihaknya juga akan membuat inovasi yang diproduksi sendiri dan untuk kalangan sendiri. “Nanti kita laporkan kepada pimpinan, kemudian kita teruskan ke Direktorat Jenderal (Ditjen) di Mahkamah Agung (MA), serta pimpinan MA. Mudah-mudahan program inovasi yang akan kita kembangkan itu nantinya bisa dipakai oleh MA sebagai inforamasi keterbukaan,” paparnya.
Terkait teknologi, lanjut Marten, seluruh pegawai kepaniteraan PN Jakarta Timur harus melek teknologi, melek digital, supaya tidak gagap informasi.
“Sumber daya manusia itu sangat diperlukan. Artinya, seluruh pejabat kepaniteraan harus memahami ilmu teknologi informasi. Maka sumber daya manusianya betul-betul digital,” katanya dengan tegas.
Dia memberikan contoh, untuk memangkas waktu, tempat, biaya dalam agenda persidangan nantinya, yakni ada e-court, e-litigasi, juga e-raterang. “Inilah salah satu tujuan kita menuju pengadilan modern,” ujarnya.
Marten pun berharap, ke depan dapat bekerja sama dengan stakeholder seperti para panitera muda, dan juga seluruh staf, sehingga bisa menciptakan sesuatu yang bahagia dan indah guna mencapai peradilan yang agung.
“Kata kuncinya adalah kerja sama yang bagus, yaitu kerja sama yang saling terbuka (tidak menutupi) sehingga mencapai kerjasama yang up to date secara keterbukaan informasi dengan saling menjaga dan saling membangun. Apa pun yang menjadi program Bapak Ketua PN Jakarta Timur, nantinya bisa tercapai,” terangnya.
Disinggung soal acara pelantikan dirinya sebagai panitera PN Jakarta Timur yang digelar sangat sederhana dan singkat, Marten pun mengaku sangat bahagia dan kesederhanaan itu tak akan menghilangkan rasa kebersamaan di antara stakeholder.
“Saya bahagia sekali. Di mana kita mesti mengikuti aturan pemerintah, juga keputusan MA yang menyebut acara-acara pelantikan di lingkungan MA harus dilakukan dengan sederhana guna mempersempit perkembangan pandemi virus Corona,” pungkasnya. (r sormin)







Komentar