POSKOTA.CO – Maka, raja mulai tidak sabar. “Oh, begitu sulit! Bahkan bagi raja seperti diriku?” Dia berkata, “Bagi semua orang sama.” Sang tabib berkata, “Yah, saya telah mengemukakan aturan obatnya kepada Anda, lima aturan/sila (Guru dan semua tertawa), dan kita hanya butuh kesabaran, dan semua ketabahan untuk menemukan bahan obat ini; jika tidak, saya tak bisa berbuat apa-apa untuk sang puteri.” Maka, raja menjadi separuh ragu, separuh percaya.
Dia terus berpikir keras dengan akalnya yang bodoh. Dia berpikir; daripada berpikir di sini (Guru menunjuk ke mata kebijaksanaan-Nya), dia terus berpikir di sini dan kemudian dia berpikir di sini (Guru menunjuk ke mata-Nya lalu ke hidung-Nya. Guru dan semua tertawa) Mata dan hidung.

Dan kemudian dia berpikir pada pelipisnya, lalu pada telinganya, lalu pada janggutnya, lalu dia tak bisa berpikir, lalu dia berpikir dengan rambutnya, memilin rambutnya seperti ini; dan dia masih tidak bisa memahami apakah bahan-bahan yang dikatakan orang itu benar ataukah dia tidak perlu mengikutinya.
Tapi sang ratu, untungnya, dia sang ratu – wanita selalu memiliki sedikit lebih banyak akal sehat meski keduanya bodoh (Guru tertawa). Maka, sang ratu berkata, “Oh, tidak mengapa. Kita coba saja. Kita tak rugi apa-apa.” Maka, raja berkata, “Oke.” Tentu saja, wanita selalu memutuskan hal-hal besar di alam semesta (Guru dan semua tertawa). Kalian tahu itu, ya kan? Di setiap negara, First Lady (Ibu Negara). Oh! Kita tidak membahas itu.
Kita akan mendapat masalah. Yah, saya dengar bahwa kebanyakan First Lady adalah yang berkuasa di Istana. Tidak di setiap negara. Bukan di Amerika, mungkin. Maafkan saya. Lalu raja berkata, “Oke.” Dia bertanya kepada sang tabib, “Berapa lama? Satu minggu, oke?” (Guru tertawa) Sang tabib menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak, tidak, maaf. Itu perlu lebih lama.
Setidaknya 12 tahun, Anda harus menyerahkan sang puteri dalam pengawasan saya, pengasuhan saya, dan saya sendiri akan merawatnya. Tak ada orang lain yang boleh mendekati. Tak seorang pun dari keluarga raja. Tak seorang pun dari luar boleh mendekati sang puteri; jika tidak, itu takkan berhasil.
Saya beri jaminan kepada Anda, setelah 12 tahun, jika sang puteri tidak tumbuh seperti orang normal, Anda penggal kepala saya.” (Guru dan semua tertawa, Guru berkata, “Itu juga bisa saya jamin.”) Maka, raja berkata, “Baiklah, baiklah. Yah, kukira aku tak bisa berbuat apa-apa.” Kemudian sang ratu berkata, “Oke, persilakan dia. Setelah 12 tahun, jika dia tidak berhasil, kita bisa memenggal kepala keduanya. Jadi, tak masalah.” Maka, raja sekali lagi mendengarkan ratu.
Dia menyerahkan sang puteri kepada tabib itu untuk diasuh; dan kemudian sang tabib harus menulis surat jaminan, jaminan uang kembali, tahu kan? “Jika Anda tidak puas, uang kembali dalam 12 tahun.” Dia menandatanganinya lalu dicap, dan semuanya oke.
Maka, sang tabib membawa pulang sang puteri, dan tentu saja kalian tahu apa yang terjadi. Dua belas tahun kemudian, dia membawa kembali sang puteri kepada raja dan ratu, orang paling cantik yang pernah mereka lihat – rambut hitam yang panjang dan indah berkilauan, dan mata yang besar seperti mata saya (Guru dan semua tertawa. Hadirin bertepuk tangan); seperti mata saya, tapi dua kali lebih indah dan besar. Maka, semua orang sangat gembira.
Tentu saja raja dan ratu memberi sang tabib hadiah berlimpah, dan mereka hidup bahagia sesudahnya, mereka bertiga. Sang puteri, selama 12 tahun ini, telah mempelajari banyak hal dari berbagai profesor, doktor, dan guru di negara itu, yang sang tabib biayai untuk tujuan itu. Maka, dia tumbuh dewasa menjadi cantik serta bijaksana.
Jadi, dia mengetahui semuanya. Dia kemudian menggantikan ayahnya dan memerintah kerajaan itu dengan kebijaksanaan dan belas kasih dan cinta kasih. Maka, China pada saat itu, di bawah pemerintahannya, sangat, sangat, sangat baik. Sekian! (bersambung)







Komentar