POSKOTA.CO-Penyair Pulo Lasman Simanjuntak yang juga berprofesi sebagai wartawan ini tetap berkibar terutama menulis karya sastra berupa puisi dan sajak.
“Ketika memasuki dunia sastra digital atau media siber, proses kreatif saya dalam menulis puisi tak akan pernah putus, terutama bersaing dengan para penyair milenial,” ujarnya di Jakarta, Senin sore (22/8/2022).
Mengaku mulai.menekuni dunia kesusasteraan sejak tahun 1980-an-saat masih kuliah di Sekolah Tinggi.Publisistik- karya puisinya telah dimuat atau dipublikasikan.diberbagai media cetak nasional baik itu suratkabar (koran) maupun majalah ibukota.
“Bagi saya dunia sastra adalah jendela untuk membuka sebuah karya kebudayaan manusia yang disentuh dengan estetika kesenian yang abadi serta monumental,” kata penyair lansia yang telah menerbitkan 7 buku antologi puisi tunggal dan 16 buku antologi puisi bersama seluruh penyair se-Indonesia ini.
Ketika ditanya bagaimana soal perkembangan dunia kesusasteraan di Indonesia, Penyair Pulo Lasman Simanjuntak sejenak menghela nafas dan menundukkan kepalanya seperti melakukan perenungan panjang.
“Sudah saatnya pemerintah lebih serius lagi memperhatikan nasib dan masa depan para penyair di Indonesia.Seperti pemerintah telah memperhatikan masa depan musisi atau seniman lainnya ” ucapnya lirih.
Apalagi, lanjutnya, seiring dengan “bertumbangnya” media cetak akibat serbuan media digital.(online) serta media.sosial, karya sastra (puisi) makin terpinggirkan.
Banyak rubrik puisi “dihilangkan” dari halaman media cetak, termasuk media cetak mainstream.
“Ya, saya sendiri sekarang lebih banyak.mempublikasikan karya puisi di media sosial,” selanya.
Berikut ini salah satu karya puisi Penyair Pulo Lasman Simanjuntak yang ditulis hari ini, Senin, 22 Agustus 2022.
Puisi
Pulo Lasman Simanjuntak
MENULIS PUISI TANPA MEZBAH PAGI
menulisi puisi tanpa mezbah pagi
bersama permaisuri mati suri
larik puisi ini ternyata masih membutuhkan seribu ton beras impor
yang tersimpan dalam kompor
menulis puisi tanpa mezbah pagi
bersama perkawinan kurus kering kerontang
bait puisi ini ternyata masih membutuhkan tiupan daun-daun migas
tersembur liar dari cuaca makin panas
lalu kemanakah penyair usia senja ini mau bercerita
gadai gitar yang bisa bernyanyi rock n roll dengan perut lapar
pinjaman oline yang bertebaran dalam
paru-parunya yang lumpuh setengah badan
ataukah kupilih terus menulis puisi
tanpa matahari risih
tanpa sungai mati
tanpa laut berombak kisruh
tanpa kuburan
dengan kain kafan kejang-kejang
masihkah iman ini kuat
ditusuk bertubi-tubi
dengan jutaan jarum kebenaran
Jakarta, Senin 22 Agustus 2022. (*/fs)







Komentar