oleh

Media Utama Kenapa Mengekor Media Sosial

-Komunitas-221 views

POSKOTA.CO – Masih percayakah kita pada media arus utama terutama media cetak? Sebuah pertanyaan yang menuntut jawaban panjang atau bisa juga secepat kilat Gundala.

Siapa yang tak menduga tiba-tiba saja media arus utama kehilangan rohnya. Kepiawainnya dalam menyampaikan kabar kini benar-benar redup tergilas kian gilanya media sosial (medsos).

Tengok saja di gerbong kereta api terutama KRL Commuter Line. Dari deretan bangku panjang ternyata sudah sudah tak terlihat pemandangan penumpang pembaca koran. Mereka sibuk dengan jarinya menari-nari di atas smartphone-nya. Koran seakan menjadi anak tiri. Tak dilirik lagi.

Kondisi itu membuktikan bahwa dunia di mana pemilik media pemilik “tunggal” informasi jelas sudah berakhir. Era komunikasi satu arah – dari pemilik ke pembaca – sudah game over. Now, everybody is a publisher.

Ya kini semua orang adalah pemimpin redaksi, redpel, redaktur sekaligus reporter. Semua orang bisa mencari berita sendiri. Minimal menyaksikan peristiwa atau kejadian lalu memposting melalui media sosial yang dimilikinya. Entah itu Twitter, Instagram atau Facebook and etc.

Sekarang ini orang bisa menyuarakan opininya, menyumbang foto dan menayangkan video melalui media sosial. Seperti halnya setiap orang bisa menjadi wartawan dengan blog masing-masing. Enteh itu pakai blogspot atau worldpress.

Jujur saja banyak contoh bagaimana sebuah kejadian yang diangkat melalui media sosial dan kemudian menyentuh hati banyak orang lalu diikuti oleh media arus utama. Sungguh terbalik kondisinya memang.

Media arus utama mengekor media sosial. Arus informasinya sudah berbalik. Tragis memang! Lantas di mana media arus utama bermain? Maraknya arus informasi di media sosial sebenarnya dapat menjadi peluang untuk media arus utama bangkit.

Informasi yang begitu membanjir bahkan disampaikan secara serampangan oleh media sosial satu sisi akan membuat masyarakat gamang alias bingung. Parahnya lagi tak sedikit informasi yang beredar di media sosial tidak akurat, meleset, mentah karena hanya permukaan saja dan parahnya lagi informasi di media sosial hanya sampah busuk.

Inilah sebenarnya peluang yang masih tersisa bagi media arus utama untuk kembali berkibar menjadi sumber berita terpercaya dengan tetap mengedepankan akurasi fakta dan cover both side ditambah kedalaman informasi dari setiap fakta demi fakta yang disajikan kepada pembaca. Jujur saja.

Diakui atau tidak pembaca akan muak dengan informasi sampah yang diproduksi melalui jari-temali yang tak bertanggung-jawab.
Satu lagi yang nyaris lupa. Seperti dipesankan suhu saya Aristides Katoppo. Katanya begini: “Jangan lupa menyisikan satu kalimat atau lebih sebuah harapan sehingga pembaca selalu disuguhkan sebuah optimisme bahwa masih ada harapan di balik setiap berita yang disajikan kepada publik.

Sampai di sini coretan saya karena KRL Commuter Line yang saya tumpangi sebentar lagi lego jangkar di Stasiun Besar Sudirman. Selamat pagi. Jangan lupa bahagia gais!(norman meoko)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *