oleh

Media Arus Utama Tertatih-tatih Digempur Medsos, Terus Mau ke Mana?

-Komunitas-295 views

POSKOTA,CO – Bagaimana ruang publik itu kini? Di mana media arus utama bisa bermain? Dua pertanyaan yang menggelitik saya usai diskusi dengan mahasiswa pekan lalu dalam matakuliah jurnalistik media online.

Ya jujur saja media arus utama kini tertatih-tatih menghadapi gempuran media sosial. Kalau dulu reporter harus menggunakan kaki untuk mencari berita. Sindhunata mantan jurnalis Kompas menyebut hidup wartawan bukanlah di kantor tapi di jalanan. Selanjut dia bilang begini: “Wartawan pada awalnya adalah pekerjaan kaki, baru kemudian pekerjaan otak. ”

Artinya, wartawan itu harus mencari objek beritanya dengan menggunakan kakinya, dengan berjalan terlebih dahulu, sebelum ia menggunakan otak dan pikirannya.
Masih menurut Sindhunata, secemerlang apapun otak sesorang wartawan, kalau ia malas menggunakan kakinya, ia tidak akan memperoleh berita yang autentik.

Namun kondisi sudah berubah. Tak bisa dipungkiri lagi banyak wartawan yang malah mendapatkan bahan berita hanya dengan memantau media sosial. Media sosial kini menjadi sumber berita yang tiada habisnya.

Misalnya saja ketika terjadi kecelakaan maut di Jalan Tol Cipularang, maka media arus utama terutama media online tanpa malu-malu mengambil video yang diunggah saksi mata kejadian itu instagram. Berita kecelakaan tersebut lalu dibumbui dengan video dari media sosial. Lengkap sudah berita tersebut!

Copy paste ikut mewarnai dunia persilatan jurnalistik. Ada jurnalis yang copy paste berita dari sebuah atau beberapa portal berita lalu menuliskan ulang dengan gaya penyajian berbeda. Yang penting fakta-fakta utamanya sama.

Tidak lebih pun tak kurang! Ada senior saya dengan enteng mengatakan, dirinya tinggal menulis: pelbagai sumber di bawah berita yang diambil dari sejumlah portal berita. Selesai! Soal etis atau tidak persetan katanya! Itu urusan belakang. Lagi pula siapa yang tahu! Inikah sosok jurnalisme di era internet seperti sekarang ini?

Media Sosial

Diakui atau tidak media sosial kini sedang naik daun. Loncatan perubahan dalam dunia komunikasi digital yang secepat kilat itu telah mengubah cara berkomunikasi manusia. Rektor saya dulu mengistilahkan “isi pernyataan” untuk konten.

Sayangnya perubahan di media sosial itu tidak diimbangi dengan pendidikan literasi digital yang kuat. Akhirnya orang kini bisa seenaknya menclak-menclek di media sosial. Mereka berselancar tanpa batas. Intinya: kedalaman berpikir sering takluk dengan kecepatan jari-jemari.

Warganet tiba-tiba menjadi “cerewet” di media sosial karena banyak isu berseliweran dengan cepat dan memancing lalu membuat jempol pembacanya “gatal” untuk segera menuliskan komentar.

Singkat kata: media sosial kini menjadi panggung mendeklarasikan diri dengan tujuan agar dilihat banyak orang. “Ini gue, elu mana!” Sayangnya tanpa sadar bahwa perilaku di media sosial kadang juga bisa berimbas ke dunia nyata.
Sayangnya media arus utama belakangan ikut bermain dalam ragam media sosial. Bahkan agar berita diklik banyak pembaca, media sosial kini menjadi strategis menyebarkan berita-berita liputannya.

Media Arus Utama

Lantas bagaimana posisi media arus utama? Ikut terus dengan genderang irama media sosial atau bagaimana?
Tanpa sadar media arus utama melupakan apa yang disebut sebagai jurnalisme yang berkualitas, relevan dan bermakna bagi kehidupan publik. Media arus utama kerap lupa bahwa loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada masyarakat. Lupa bahwa kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran bukan hoaks apalagi caci-maki dan malah menjadi penyulut konflik.

Seorang jurnalis senior kepada mengatakan begini: hanya dengan kembali pada fungsi-fungsi utama jurnalisme yakni jurnalisme yang lebih berkualitas, relevan dan bermakna bagi publik, media arus utama utamanya media cetak akan mampu menjaga eksistensi dan mempertahankan relevansinya di tengah terpaan gelombang informasi yang bergulung-gulung tak terbatas. Ada yang mengistilahkan sebagai era banjir informasi!

Jujur hal utama yang dihadapi pencari informasi di Indonesia saat ini bukan lagi kelangkaan informasi seperti di masa Orde Baru melainkan adanya situasi kelimpahan informasi atau the abundance of information.

Dalam kondisi seperti itu maka pencari informasi perlu mencermati serta memilah informasi yang tersedia dari timbunan gunung informasi. Dan ini sebenarnya menjadi tugas media, jurnalis dan editor untuk membantu masyarakat menyediakan informasi yang dibutuhkan, dianggap penting dan dinilai relevan serta lebih bermakna.
Pertanyaannya: sanggupkah media arus utama melakukan itu di tengah bejibun informasi?

Intinya: media arus utama mau tidak mau; suka tidak suka: meletakkan informasi dalam konteks yang tepat, latar belakang yang sesuai serta perspektif yang jelas dan jernih.(norman meoko)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *