oleh

Ipe Maaruf Sang Maestro Sketsa, Bekerja dengan Hati dan Sepenuh Hati

-Komunitas-73 views

POSKOTA.CO – Ipe Maaruf sang maestro sketsa di usia yang sudah hampir 82 tahun masih terus berjalan dan membuat sketsa apa saja yang membuat hatinya suka. Gunung, pohon, pasar, sosok, pohon hingga pemandangan alam dan sesuatu yang abstrakpun dibuatnya.

Dengan bahan bahan yang sederhana Ipe berusaha menampilkan gaya dan karakternya sebagai seorang sketser. Garisnya hidup, tarikkannya lentur, seakan seperti tarikan nafasnya yang panjang. Kekuatan garisnya menyiratkan kekuatan fisik dan spirit jiwanya yang berbahagia. Ipe tidak mempedulikan apa kata orang dan kepada siapa orang yang diajak berkomunikasi.

Tatkala hatinya suka ia akan menemukan suatu resonansi jiwa. Ngeklik mungkin istilah nyambung dan bisa berkomunikasi satu sama lain. Ipe berkarya dalam bentuk ilustrasi.

Dari majalah buku buku cerita semua dikaitkan dengan kesukaan dan dengan hatinya. Ipe menceriterakan kalau tidak cocok bisa saja ia enggan melanjutkan komunikasinya. Pada suatu acara ia diminta membuat sketsa seorang artis terkenal. Nampaknya artis itu sibuk dengan penggemarnya.

Ipe mencoret sketsanya dan meninggalkannya pergi. Ipe menceriterakan bahwa membuat sketsa bukan sekedar menggambar tetapi ada suatu dialog antara si pelukis dengan yg dilukis. Tatkala tidak ada komunikasi yg baik maka tidak akan ada karya yang baik menurutnya.

Ipe tidak membedakan pangkat derajat golongan ia sebagai maestro mau mendatangi anak anak muda seniman jalanan dan memberikan spirit berkarya. ” hasilkan karya yang bagus kerjakan dengan hati dan sepenuh hati” katanya kepada para seniman muda di pasar baru. Ipe tetap konsisten dari tahun ke tahun hingga di usianya yang telah senja. Karyanya tersebar dimana-mana disemua lapisan ada.

Ipe sangat bersahaja dengan gaya hidupnya yang sederhana, berjalan kaki menjadi bagian dari pengembaraan berkeseniannya. Ia membuat sketsa apa saja yang menyentuh hatinya. Ia bisa saja berimajinasi atau on the spot. Ipe tidak hanya menggambarkan apa yg dilihatnya ttp juga apa yg dirasakannya. Ia tidak pernah sekolah formal di bidang seni.

Karyanya banyak dikoleksi para kolektor hingga warga masyarakat biasa. Ipe membuat sketsa ttg hidup dan kehidupan apa yg membuatnya senang maka kaeyanyapun akan baik demikian sebaliknya. Ipe mengatakan kalau dirinya tidak bisa dipaksa atau memaksakan dirinya untuk melukis.

Ipe akan melakukan tatkala ada getar hati atau ada dialog antara indera dg jiwanya. Kekuatan sketsa ipe yang luar biasa perlu diberibruang dan apresiasi yangbsetinggi tingginya. Apa yg telah dirintis dan ditorehkan merupakan sejarah panjang akan hidup dan pengalaman hidup sepanjag perjalanan.

Ipe Maaruf suaranya memang sudah lirih namun spirit jiwa senimannya terus berkobar. Tak heran kalau ia masih enerjik dan ingatannyapun masih tajam. Tak semua karyanya dibubuhi tanda tangan. Ia terus melakukan studi karena menurutnya seni itu hidup dan terus digali didalami untuk dapat menemukan yang hakiki.

Ipe Maaruf telah menghasilakan ribuan karya yang dia sendiri lupa ada di mana saja. Tatkala pameran lukisan karyanya di hotel crown ia sendiri terheran heran bertanya kepada pelukis suwito : ” wit ini yang membawa lukisan lukisan saya ini siapa ya”. Suwito menjawab dengan enteng sambil berseloroh : ” mbuh …”.

Suwito sudah dianggap anaknya dan Suwito pun menganggap Ipe sebagai guru dan orang tuanya. Seringkali Ipe tiba tiba muncul di sanggar nya di pasar baru ttp juga tiba tiba menghilang. Ruang apresiasi bagi ipe memang pernah digalakkan dalam sketsa Kamisan di galeri nasional namun entah babagaimana sekarang. Sang maestro memang tidak meminta dipuji atau dihargai namun kita sebagai anak bangsa sepatutnya memberi ruang dan apresiasi bagi maestro maestronya.(chryshnanda DL)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *