oleh

Dekonstruksi dan Kebebasan Literasi

POSKOTA.CO – Literasi yang menggambarkan minat baca dan kemampuan-kemampuan lainnya, seperti menulis, mengolah data dan informasi, dan mengekspresikan ide merupakan salah satu indikator yang kerap digunakan untuk mengukur kualitas pembangunan manusia dalam sebuah negara.

Tidak sampai di situ, minat terhadap literasi juga dapat dijadikan sebagai alat untuk mengukur tingkat kebebasan dalam masyarakat demokrasi.

Kali ini kita akan melihat bagaimana pemikiran filosofis dari Jacques Derrida (1930-2004) berperan penting dalam hal mendorong minat literasi. Tepatnya dalam bentuk dukungan terhadap kebebasan literasi demi membuka jalan bagi munculnya literatur-literatur baru yang akan memperkaya khazanah pustaka dengan berbagai sudut pandang yang coba untuk yang ditawarkan.

Kerangka pemikiran Derrida dibangun atas dasar penolakan terhadap “logosentrisme” yang merujuk pada sebuah prinsip dasar dari seluruh sejarah pemikiran filsafat Barat.

Logosentrisme adalah prinsip yang menyatakan esensi atau hakikat sebagai sebuah kehadiran atau keberadaan (Of Grammatology, 1967, hal. 12).

Bentuk kehadiran dari esensi ini serupa dengan kehadiran benda (thing) dan entitas (being) di hadapan kita. Perbedaan di antara keduanya adalah, kalau esensi hadir pada tataran rasio atau mental manusia, sedangkan benda dan entitas hadir pada tataran indrawi. Namun prinsip kehadiran yang menyatakan keduanya sebagai “hadir” adalah sama.

Ketika esensi dinyatakan sebagai sebuah kehadiran atau keberadaan (being), maka ia telah dijadikan sebagai tolok ukur yang menentukan atau bahkan membentuk persepsi kita terhadap realitas.

Karena esensi hadir mendahului pengalaman indrawi kita dengan realitas. Contohnya dapat ditemukan pada penemuan esensi atau hakikat manusia yang dilakukan oleh epoch di bawah literatur humanisme Barat. Esensi-manusia menurut humanisme Barat niscaya telah menentukan atau membentuk persepsi kita terhadap manusia konkret yang ada di hadapan kita.

Alhasil, ketika kita memandang si Budi, si Joni, si Wati, dan si Ani, kita tidak bisa memandang mereka sebagai manusia konkret yang memiliki keunikannya masing-masing, tapi kita akan memandang mereka sebagai manusia pada umumnya, yang mengacu pada esensi-manusia.

Maka tak ayal lagi, esensi-manusia telah menentukan cara pandang kita terhadap manusia konkret, dan menjadi pedoman bagi pengembangan manusia. Karena tujuan akhir dan sekaligus pencapaian tertinggi manusia telah ditentukan sejak semula, yaitu penyatuan atau menjadi sama dengan esensinya sebagai manusia.

Pendek kata, literatur tentang manusia konkret telah dibatasi atau dikurung sesuai dengan rubrik yang telah ditentukan sejak semula dan tidak bisa keluar dari itu.
Namun kenyataan tersebut telah menyisakan sebuah pertanyaan terkait dengan kebenaran dari keberadaan esensi itu sendiri, yaitu apakah esensi benar-benar hadir?.
Di mata Derrida, esensi bukanlah sebuah kehadiran atau keberadaan layaknya thing atau being, karena pada kenyataanya esensi hanya dapat diucapkan atau dituliskan.

Pandangan Derrida tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Heidegger di dalam karyanya yang berjudul Letter on Humanism (1946), yaitu: “[B]ahasa adalah ‘rumah’ bagi esensi” (Pathmarks, hal. 245).

Penyingkapan bahwa esensi bukanlah sebuah kehadiran merupakan topik utama dari seluruh pemikiran Derrida dengan jargon yang terkenal “tidak ada [kehadiran] yang lain di luar teks (il n’y a pas de hors-texte).

Derrida menjelaskan bahwa teks hadir tanpa hubungannya dengan esensi yang hadir di luar teks, tapi teks hadir dalam jalinan rantai-perbedaan dengan teks lainnya (Margins of Philosophy, 1972, hal. 11).

Ketika mengucapkan atau menuliskan teks “manusia,” teks tersebut tidak merujuk pada esensi-manusia yang berada ruang-ruang dari rasio manusia, tapi merujuk pada teks itu sendiri dalam jalinan rantai-perbedaan dengan teks lainnya, seperti teks: pohon, batu, hewan, kursi, dan lain-lain. Penyingkapan ini telah melenturkan literatur tentang manusia atau tentang realitas secara keseluruhan yang selama ini telah berubah menjadi kaku (rigor) karena berpatokan pada esensi.

Karena esensi tidak hadir dimanapun, kecuali di dalam teks, maka kita dapat dengan bebas membicarakan atau menuliskan pandangan kita terhadap realitas, tanpa mesti dibatasi oleh dominasi tafsir tertentu yang merujuk pada esensi.

Dalam suasana kebebasan inilah literatur-literatur baru diharapkan bermunculan dengan menawarkan berbagai sudut pandang.
Setiap proposisi tidak lagi dinilai melalui kedekatannya atau ketepatannya dalam merujuk pada esensi, tapi dinilai sebagai sebuah kebebasan berekspresi yang mutlak tidak dapat dibatasi oleh apapun dan siapapun.

Keberagaman sudut pandang menjadi sesuatu yang sungguh-sungguh disadari oleh Derrida sebagai sesuatu yang tidak mungkin dapat dihindari.

Namun keberagaman ini bukan merupakan hasil dari keberadaan esensi yang majemuk, tapi dihasilkan oleh karakteristik dari teks itu sendiri yang memiliki “kemampuan untuk dapat dibaca dan ditulis ulang dalam bentuk lain.” Derrida menyebut karakteristik teks ini sebagai “iterability,” yang merupakan perpaduan dari kata “iter” yang berasal dari kata Sansekerta “itara” yang artinya: “lain,” dan kata “ability” atau kemampuan (Limited Inc., hal. 7).

Dengan demikian, kontribusi langsung Derrida terhadap pengembangan literasi adalah dengan mendorong kemunculan literatur-literatur baru sebagai pemantik untuk meningkatkan minat membaca dan mengembangkan kemampuan untuk menulis tanpa harus dibatasi oleh sudut pandang tertentu. Salam literasi dan salam dekonstruksi!

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *