oleh

Covid-19 di Antara ‘Herd Immunity’ dan Skenario Hidup Normal

-Komunitas-96 views

POSKOTA.CO – Virus Corona dari Wuhan, Tiongkok, tahun 2019 alias Covid-19, itu bikin ambyar. Merontokkan kebiasaan manusia-manusia pongah, yang membanggakan kehidupan dunia di atas segalanya, juga memurnikan homo homini lupus modern, bahkan melacurkan keilahian Sang Khalik.

Benarkah virus seukuran 0,125 mikrometer itu pasukan Allah Swt penguji janji para cucu Nabi Adam as sebagai khalifah di bumi? Atau Covid-19 itu, seperti klaim manusia sombong bahwa makhluk subfamili Orthocoronavirinae, hasil rekayasa senjata biologis pemusnah masal demi tercipta Tatanan Dunia Baru-nya Yahudi, yang bakal dihuni cuma golongan majikan dan budak?

Entahlah! Yang jelas, bergelimpangannya jasad-jasad manusia penyebab muncul kebijakan lock down banyak negara menghasilkan kembali langit membiru. Juga menambal bolong lapisan ozon akibat polusi industri efek rumah kaca, sesegar mentari memancarkan ultraviolet yang berguna bagi kehidupan sehat makhluk hidup.

Bagi Indonesia, ada hikmah di balik kebijakan timpang Pembatasan Sosial Berskala Besar. Umat Islam yang diwajibkan mengosongkan masjid dan musala, justru memperkuat tatanan kehidupan berkeluarga batih dalam keimanan Ilahiyah yang kaffah.

Yups, ibadah para keluarga muslim malah kian istiqamah di jalan Allah Swt. Mereka abai akan dibukanya kebijakan tempat-tempat keramaian seperti pasar, terminal dan bandara, sementara masjid/musala tetap dilarang melaksanakan Salat Jumat dan Idul Fitri 1441 Hijriah.

Juga, virus Corona menjadi alibi mengumbar utang. Pandemi Global Bond dari IMF pun dipakai Indonesia senilai 4,3 miliar dolar AS setara Rp68,8 triliun dengan tenor pembayaran sampai 12 April 2070. Pun, gelontoran APBN 2020 sebesar Rp405,1 triliun.

Aturan ini dibuat tanpa wajib dipertanggungjawabkan secara hukum dengan disahkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 menjadi UU Nomor 2 Tahun 2020 pada 12 Mei terkait Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19.

Herd immunity pun dipilih mengiringi skema new normal life-nya ekonom Raden Pardede, kendati keduanya diprotes; Kekebalan kelompok dikecam WHO dan Hidup Normal Baru dikritisi ahli epidemiologi.

Namun, kedua konsep itu, sama-sama tidak mempertimbangkan adanya campur tangan Ilahi sebagai kunci solusi sebelum ditemukan vaksin anti-Corona. Mulai isyarat meteorologi-klimatologi-geofisika, suasana kebatinan budaya nusantara, hingga keyakinan kekuatan doa kepada Sang Khalik.

ilustrasi

Rekayasa Kehidupan
Sejak pandemi diumumkan virus mematikan menjadi momok. Rasa ketakutan terhadap virus sekelas influenza itu, bagi kalangan intelijen, bagian dari teror. Mengutip buku-nya Komjen Dharma Pongrekun berjudul Indonesia dalam Rekayasa Kehidupan, seperti diungkap Tony Hasyim pada FNN (15/4/2020), mengamati perkembangan pandemi Covid-19 sebulan terakhir ternyata persis dengan keadaan dunia termasuk Indonesia hari ini yang dipenuhi rasa ketakutan.

Bagian akhir bukunya Dharma menyimpulkan globalisasi hanyalah sebuah sistem dari supra sistem yang merekayasa kehidupan manusia agar menjauh dari rasa keimanan kepada Kemahakuasaan Tuhan. Supra sistem ini mendorong manusia menjadi atheis. Proses ini sudah terjadi sejak Allah menciptakan dunia, persisnya sejak iblis berhasil menggoda Siti Hawa untuk membujuk Adam memetik buah terlarang di surga. Proses penyesatan tersebut terjadi sampai sekarang. Dharma mengingatkan kepada kita, bahwa iblis adalah oknum yang nyata dan terus mempengaruhi manusia agar menjauhi Tuhan dan akhirnya manusia menemani iblis di neraka. Wallahu ‘alam bisshawab. (Penulis: Rinaldi Rais, Wartawan al-Faqir, 1 Syawal – Mei 2020)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *