oleh

Brigjen Pol Chrysnanda: Kenangan Menjadi Pasukan PBB Modal Nekat

POSKOTA.CO – Kami pasukan PBB di Mozambique, polisi dari Indonesia untuk berbahasa Inggris dalam kegiatan sehari hari masih bisa mengikuti. Di masyarakat yg berbahasa Portugis benar benar nol dan harus nekat. Memulai dari bahasa tarzan bertanya tanya setidaknya bisa untuk berbaur dalam kehidupan masyarakat.

Waktu itubLouis col Jata polisi dari Guine bissau mengajara kami. ” oki e isto?” Apa ini. “Quanto quata?” Berapa harganya. “Quanto distancia?” Berapa jaraknya. Kata kata mulai dihafal dan hajar saja. Belajar menghitung angka. Belajar menukar uang ke pasar gelap. Hitung menghitung ini sangat penting karena mau tidak mau harus menawar atau tawar menawar saat di pasar.

Kalau mahal ya teriak :” muito caro” mahal amat. ” no disqonto?” Ga ada diskon?. Entah tulisanya benar atau tidak entah pengucapannya betul atau tidak mereka tahu juga. Dari head quarter tidak mau tau kalau sudah diberi uang yg lain silakan survival.

Kehidupan di kampung kampung Mozambique sangat memprihatinkan pada waktu itu. Ranjau masih bertebaran, penyakit ada flu kuning, ebola ditambah lagi baru heboh2-nya aids. Kami sebelum berangkat divaksin mungkin ada 6 jenis kami lupa apa itu badan meriang 2 hari.

Kesulitan kehidupan masyarakat pada kehidupan. Rasa ketakutan trauma mendalam sangat mempengaruhi produktivitas mereka. Perang saudara sangat berdampak pada semua lini kehidupan.

Brigjen Chryshnanda DL saat berpangkat Letnan Satu

Saling mencurigai saling serang seolah ada musuh dalam keluarga sendiri. Kehancuran vasilitas pelayanan publik membuat sangat menderita. Akan ke kota saja bisa menginap di tepi jalan menanti angkutan umum lewat. Kadang kami ajak mereka naik di
bak belakang karena mobil dinas dari UN double cabin sehingga sesekali bisa membantu mereka.

Jalanan pasir berdebu pohon pohon juga tinggal kecil kecil. Mereka kalau membuat arang kayu dimasukkan dalam tanah dan pohon2 sekitarnya dibakar lalu ditinggal pergi begitu saja. Seminggu kemudian baru diangkat kayu2nya yang sudah jadi arang.
Makanan mereka kacang merah lauknya apa saja yg mereka dapat.

Memasak dengan kaleng kaleng bekas sbg pancinya. Yang saya kagum dengan mereka adalah hati yg gembira. Walaupun sangat miskin mereka tetap bernyanyi menari. Kemanapun pergi dan berkegiatan selalu saja ada yg mendendangkan nada lagu2 mereka.

Kehidupan yang sangat sulit ini mereka jalani seperti pasrah namun mereka bukan bodoh. Bagi yg cerdas akan ke kota bekerja menjadi pembantu di kota supaya dpt belajar dan sekolah lagi sampai doktor di luar negeri. Angan angan mereka adalah ke portugal atau Amerika.

Samora Machel, tokoh kemerdekaan Mozambique yg berasal dari Cibabava kampung terpencil yg juga sangat miskin. Distrik yang kurang lebih 350 km dari Beira. Bisa sekolah dan lulus sbg doktor di Amerika.

Memimpin pergerakkan kemerdekaan dari luar negeri hingga Mozambique merdeka. Menjadi presiden pertama Mozambique. Sayang beliau meninggal pada saat naik pesawat dan pesawatnya di bom kaum teroris. Selain Samora Machel banyak tokoh2 pergerakkan dan tokoh intelektual lainnya.

Keadaan tidak menyurutkan hasrat tidak juga mematahkan semangat dan cita cita. Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Setiap masa ada orangya dan setiap orang ada masanya. (cdl) Jakarta 8 Pebruari 2021 Dari pengalaman lama ONUMOZ 1994.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *