oleh

Biang Perbuatan Keji dan Dosa adalah Khamar

ALLAH Subhanahu Wata’ala telah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar (minuman keras), berjudi, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji, termasuk berbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan itu, agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah, 5:90).

Dalam firman-Nya yang lain disebutkan, “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (minuman keras) dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, “Yang lebih dari kebutuhan pokoknya.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-atat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (QS. Al-Baqarah, 2:219)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi dan berhala-berhala (patung-patung).” (HR. Bukhari dan Muslim melalui Jabir r.a.).

Khamar, bangkai, babi dan berhala haram diperjualbelikan. Hal ini menunjukkan bahwa minuman arak, makan daging babi, dan mengambil berhala hukumnya haram pula.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Khamar adalah biang segala perbuatan keji dan dosa yang paling besar. Barang siapa meminum khamar, niscaya dia meninggalkan salat dan menyetubuhi ibunya, bibi (pihak ayah)nya dan bibi (pihak ibu)nya.” (HR. Thabrani melalui Ibnu Umar r.a.).

Khamar, merupakan biang keladi dari semua perbuatan keji dan merupakan dosa besar. Dikatakan demikian karena barang siapa yang gemar minum khamar, maka ia malas mengerjakan salat dan akhirnya meninggalkan salat. Apabila mabuknya berat, maka ia tidak ingat siapa-siapa lagi, akhirnya ia menyetubuhi ibunya, bibinya, dan saudara-saudara perempuannya tanpa ia sadari.

Dalam hadits yang lain Nabi Saw bersabda, “Setiap yang memabukan adalah arak, dan setiap yang memabukan haram. Sesungguhnya Allah telah berjanji terhadap orang yang meminum minuman yang memabukkan bahwa Dia akan memberinya minuman perasan keringat punduduk neraka.” (HR. Muslim melalui Jabir r.a.).

Thiinatul Khabaal ialah keringat atau nanah yang keluar dari tubuh ahli neraka. Barang siapa yang meminum khamar, kelak di hari kemudian Allah Swt. akan mengazabnya dengan menyuruh dia meminum perasan keringat atau nanah ahli neraka.

Dari Aisyah r.a., dia berkata, “Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang minuman mead madu (minuman keras di Yaman yang dibuat dari madu). Maka beliau bersabda, “Setiap minuman yang memabukkan adalah haram hukumnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Minuman yang memabukkan itu haram diminum. Barang siapa yang meminum khamar, kelak ia akan disiksa di dalam neraka dan diberi minuman nanah ahli neraka.

Dalam beberapa ayat itu Allah menyatakan dengan positif, bahwa semua perbuatan dosa haram dikerjakannya. Minuman keras dinyatakan sebagai perbuatan dosa, karena itu, maka haram dikerjakan.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Barang siapa meminum minuman keras (khamar) di dunia, lalu tidak bertobat untuk meninggalkannya. Maka minuman itu diharamkan baginya di akhirat nanti.” (HR. Bukhari dan Muslim melalui Abdullah bin Umar r.a.).

Juga dalam hadits yang lain Nabi Saw bersabda, “Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata, “Ketika Rasulullah diisra’kan pada suatu malam, maka di Iliya’ (Baitul Maqdis) kepada beliau dihidangkan dua gelas minuman, “Satu gelas khamar dan satu gelas susu. Setelah beliau memperhatikan keduanya, kemudian mengambil gelas yang berisi susu, maka Jibril a.s. berkata kepada beliau, “Segala puji bagi Allah yang telah menuntun engkau pada fithrah (kesucian). Andaikan engkau mengambil minuman khamar, pasti umat engkau banyak yang tersesat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam bahasa Arab, banyak disebutkan bahwa kata Khamar dinyatakan dengan sebutan kata itsm (dosa). Seperti dalam ungkapan bait syair, “Aku telah meminum minuman keras sampai akalku sesat. Begitu pula dosa, maka dosa itu dapat melenyapkan akal.”

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda, “Tidaklah akan berzina, orang yang imannya sempurna. Tidaklah akan meminum minuman keras, orang yang imannya sempurna. Dan tidaklah akan mencuri, orang yang imannya sempurna.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Baihaqi pernah menceritakan kepada kami melalui sanad dari Hasan, bahwa dia berkata, “Pernah seorang laki-laki datang membawa minuman keras yang terbuat dari anggur kepada orang yang sangat dicintai Allah, sehingga orang itu akalnya tidak sehat.” Pernah dikatakan pula kepada sebagian orang Arab, “Mengapa kamu tidak meminum air perahan anggur?” Orang Arab itu menjawab, “Demi Allah, saya tidak menyukainya, dikala akal saya sehat. Karena itu, mana bisa saya akan meminum sesuatu yang dapat merusak akal?”
Semoga.

Karsidi Diningrat.
*Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.
*Anggota Pengurus Besar Aljam’iyatul Washliyah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *