oleh

Praktik Aborsi Ilegal Dapat Menyeret Dokter dan Pasien ke Ranah Hukum Pidana

POSKOTA.CO – Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya kembali berhasil mengungkap praktik klinik aborsi ilegal. Setelah sebelumnya juga pernah menggrebek beberapa tempat seperti di Cikini, kini giliran ‘Klinik Paseban’ yang sudah hampir dua tahun melakukan praktik aborsi ilegal tersebut, pada 11 Februari 2020. Sejumlah warga tak tahu kalau rumah sewaan itu digunakan untuk praktik pembunuhan janin.

Banyaknya kasus praktik aborsi ilegal ini membuat sejumlah kalangan yang merasakan keprihatinannya. Seperti advokat Andi Hakim SH, yang merasa heran mengapa praktik aborsi ilegal masih saja bermunculan. Seolah mereka tak ada jeranya dan seharusnya tempat praktik seperti ini sudah sejak awal dibongkar sebelum banyak korban.

Menurutnya, tidak jeranya para pelaku melakukan hal itu, barangkali hukumannya tidak ada yang berat. Di samping itu bisa saja mereka beralasan ada rujukan dari dokter lainnya kalau bayi si pasiennya harus diaborsi karena ada kelainan. Memang secara medis bila ada masalah atau ada alasan kesehatan dengan janin si cabang bayi, aborsi bisa saja dilegalkan.

“Jadi sesuai dengan aturan yang berlaku, aborsi sebenarnya boleh saja dilakukan dengan adanya indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, karena mengancam nyawa ibu atau janin karena menderita penyakit genetik berat atau cacat bawaan maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan,” ucapnya.

Advokat pendiri Himpunan Advokat dan Pengacara Indonesia (HAPI) ini menambahkan, selain itu sesuai Pasal 75 Ayat (2) UU Kesehatan, bisa juga karena kehamilan tersebut akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan. Itu pun juga harus dilakukan setelah melalui konseling pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.

“Jadi intinya, di negara ini, aborsi merupakan tindakan ilegal, kecuali bila dilakukan dengan pertimbangan medis tertentu. Tanpa hal itu pelakunya dapat dipidana. Berbeda dengan di Tiongkok yang menganut kebijakan hanya satu anak, jadi di negara itu aborsi dilegalkan,” tandasnya.

Namun apa pun alasannya, yang jelas hal ini tidak dibenarkan sepanjang aborsi ini tanpa adanya rujukan dari dokter yang berkopenten secara medis. Tentunya, atas perbuatan ini baik pihak yang mengaborsi maupun yang diaborsi dapat dikenakan tindak pidana sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Andi yang anggota Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia) DPC Jakarta Pusat ini sependapat dengan penyidik yang menjerat para medis atau pasien yang melakukan aborsi ilegal itu dengan Pasal 194 Undang-Undang Kesehatan yang berbunyi, “Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar.”

“Ancaman bagi pelaku ini memang cukup tinggi. Tentunya sanksi hukumannya berbeda-beda antara si perantara atau calo, dokter, bidan dan bagi oknum yang mengaku sebagai dokter,” katanya.

Jadi pada prinsipnya, bila ada dokter yang melakukan aborsi ilegal, maka masyarakat dapat melaporkan dokter tersebut ke kepolisian untuk diselidiki. Selanjutnya, bila memang ada bukti yang cukup dokter tersebut dengan sengaja telah melakukan aborsi ilegal terhadap pasiennya, maka proses pidana akan dilanjutkan penyidik dan jaksa sebelum diproses di pengadilan.

Menurut Andi, aborsi ilegal merupakan satu tindakan pembunuhan yang berarti melawan terhadap perintah Sang Pencipta Allah. Dengan perbuatan ini berarti melakukan tindakan kriminal. Jadi jelas, aborsi yang dilakukan dengan tujuan menghentikan kehidupan bayi dalam kandungan tanpa alasan medis dikenal dengan istilah abortus provokatus kriminalis.

“Dengan terbongkarnya praktik aborsi ilegal di bilangan Paseban, Jakarta Pusat ini perlu diapresiasi. Kita acungkan jempol kepada polisi yang telah berhasil membongkar sindikat praktik aborsi ilegal tersebut,” ucapnya.

Menurutnya, tidak ada kehamilan yang merupakan ‘kecelakaan’, atau kebetulan. Setiap janin yang terbentuk adalah merupakan rencana Tuhan. “Seberapa pun kecilnya, manusia adalah ciptaan Yang Mahakuasa. Membunuh satu nyawa sama artinya dengan membunuh semua orang. Menyelamatkan satu nyawa sama artinya dengan menyelamatkan semua orang,” pungkasnya. (budhi)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *