oleh

Hari Pers Hendaknya Lebih Peduli Kepada Pensiunan Wartawan

ALHAMDULILLAH WA SYUKRILLAH, Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2021 ini bergema di mana-mana. Pejabat negara dan insan pers bersatu dalam suatu upacara, meski dalam suasana terbatas di tengah pandemi Covid-19.

Sebagai seorang purna tugas dari satu perusahaan media terkenal di Ibukota Jakarta, senang rasanya melihat dan mendengar acara peringatan HPN. Lalu tersiar di mata publik dengan segudang kegiatan pendukungnya.

Antara haru dan senang, karena banyak rekan junior dan senior berkumpul diskusi dan dialog dalam berbagai kesempatan oleh wadah jurnalis, semangat ke-Indonesia-an dan rasa bangga sebagai wartawan Indonesia, tentulah suatu hal yang menyenangkan yang tidak dapat digambarkan melalui susunan kalimat.

Haru, ya tentu terasa haru. Karena tidak semua kalangan pensiunan wartawan gembira pada saat peringatan Hari Pers Nasional yang jatuh pada 9 Februari ini. Nasib mereka tidak sama antara satu dengan yang lain.

Banyak di antara pensiunan jurnalis yang mengalami nasib sengsara, kurang beruntung dan kehidupan makin parah. Begitu purna dari perusahaan, kehidupannya kian menderita. Bukan itu saja, ia harus berjuang melalui jalur hukum untuk menuntut hak uang pensiun dan pesangon hingga ke Mahkamah Agung (MA). Demikian juga terhadap mereka yang terkena korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak, kepedulian organisasi maupun pemerintah masih kurang.

Kondisi ini hendaknya dibaca oleh penguasa negara. Perhatian tidak hanya kepada insan pers yang masih produktif. Akan tetapi hendaknya melihat dan mendengarkan rintihan sebagian pensiunan wartawan dari perusahaan pers yang menjadi tempat  bernaung pada saat masih aktif. Nasib pensiunan wartawan sungguh berbeda dengan pensiunan BUMN, ASN, TNI/Polri maupun pejabat publik.

Terus terang, nasib pensiunan wartawan belum tersentuh secara kemanusiaan. Seakan lepas begitu saja setelah purna dari media pers tempat ia bekerja, padahal bukan tidak mungkin ia memiliki andil besar terhadap perkembangan perusahaan media nya selama ini. Karena itu, peringatan HPN pada tahun ini hendaknya membuka kepedulian terhadap perlindungan dan kesejahteraan pensiunan wartawan.

Kata pensiunan wartawan, terkadang masih dipolemikkan. Ada yang bilang wartawan tidak mengenal kata pensiun. Seorang wartawan disebut pensiun apabila ajal telah tiba atau otaknya sudah beku alias pikun. Namun di sisi lain, pensiunan wartawan lebih tepat disebut pensiun dari perusahaan media nya yang selama ini memberi gaji sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Bukan pensiun dari profesi atau skill [kemampuan menulis].

Sekali lagi, pemerintah hendaknya turut melindungi kalangan pensiunan jurnalis, serta memberikan dukungan terhadap kelompok pensiunan wartawan yang menuntut haknya sebagaimana diamanatkan UU Ketenagakerjaan.

Agar Hari Pers Nasional ini lebih membumi lagi, hendaknya lembaga pers memberi edukasi kepada perusahaan agar kesejahteraan wartawan nya  diperhatikan, sehingga  pada saat memasuki masa pensiun dapat menikmati sisa umurnya dengan tenang, sebagai konsekuensi atas pengabdian selama puluhan tahun di perusahaan media tersebut.

Pensiunan wartawan jangan sampai menjadi beban sosial. Pemerintah harus bersikap tegas apabila ada perusahaan yang mengabaikan kewajiban hak wartawan dan pensiunan nya. Wartawan Indonesia adalah aset bangsa bukan aset kaleng-kaleng.

Selamat Hari Pers Nasional, semoga lebih peduli kepada pensiunan wartawan. [syamsir/pensiunan wartawan ibukota]

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *