JAKARTA – Selama Ramadhan ini MUI kembali mengeluarkan imbauan boikot produk terafiliasi Israel. Sementara, Boikot Divestasi dan Sanksi (BDS) Indonesia menegaskan tidak memasukkan Danone maupun Aqua dalam list boikot.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim pada acara Safari Ramadhan yang bertajuk “Ramadhan Bersama Palestina, Ramadhan Membasuh Luka Palestina”, kembali menegaskan bahwa MUI tidak pernah mengeluarkan daftar produk yang dianjurkan untuk diboikot yang beredar di media sosial adalah hoaks. MUI menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat terkait produk yang perlu diboikot.
Terkait hal ini beberapa tokoh agama juga memberikan anjuran agar masyarakat bijak dalam melakukan tindakan boikot, mengingat hal ini juga rentan disusupi pihak tertentu untuk menjatuhkan kompetitor mereka demi meraup keuntungan pribadi. Beberapa produk yang tidak masuk dalam daftar produk yang dianjurkan oleh Palestinian BDS National Committee (BNC) selaku pelopor gerakan Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS), kemudian dimasukan dalam selebaran selebaran yang beredar di masyarakat. Salah satunya adalah Danone yang tidak masuk dalam daftar website bdsmovement.net
Cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU) Nadirsyah Hosen menjelaskan, penyusupan dilakukan pihak tertentu melalui penyebaran daftar produk yang harus boikot. Menurutnya, masyarakat perlu jeli dalam meneliti produk apa saja yang tersebar di ranah publik.
“Aksi boikot ini tak semudah yang dibayangkan. Sebab, banyak hal yang harus diperhatikan, termasuk sumber yang menyatakan produk itu terafiliasi Israel atau tidak?” jelas Nadirsyah alias Gus Nadir belum lama ini.
Dalam unggahan di Instagram @nadirsyahhosen_official, Gus Nadir menyebutkan bahwa situs-situs yang dijadikan acuan produk yang terafiliasi dengan Israel bisa memiliki daftar yang berbeda. Artinya, kembali lagi masyarakat harus teliti dan mencermati keterkaitan produk dengan Israel.
Pengajar di Fakultas Hukum Universitas Monash ini melanjutkan, masyarakat perlu bersikap kritis dan bukan hanya sekadar mendukung dengan emosi saja. Menurutnya, diperlukan data dan proses verifikasi yang jelas dan terukur tentang produk yang dianggap mendukung Israel.
“Agar tidak jadi bola liar dan tak satupun yang nanti mau bertanggung jawab terhadap dampak ekonominya, semisal banyak yang kehilangan pekerjaan,” katanya.
Ulama tafsir Al-Quran Prof Muhammad Quraish Shihab juga mengimbau masyarakat lebih menyikapi kritis terkait hal tersebut. Dia mengungkapkan, hal yang paling mudah dilakukan untuk membantu Palestina adalah dengan mengirimkan doa.
Dia kemudian bercerita telah mendapat aduan dari seorang pengusaha Indonesia yang mengalami penurunan pendapatan hingga 60 persen akibat boikot tersebut. Pengusaha tersebut merasa dirugikan akibat gerakan tersebut.
“Saya itu beri gaji orang-orang muslim. Bahan-bahan yang saya buat itu dari bahan-bahan yang ada dalam negeri, apa saya juga harus diboikot? Bagaimana? Ini kan problem,” kata Quraish menirukan pengusaha tersebut.
Ulama kharismatik itu menekankan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau otoritas tertentu perlu membuat daftar produk yang masuk dalam daftar boikot. Dia melanjutkan, hal ini dilakukan guna menghindari boikot yang salah sasaran.
“Pada dasarnya kita harus memboikot yang jelas-jelas membantu Israel, yang tidak, kita harus berhitung dong. Apakah dia lebih rugi atau kita lebih rugi?” katanya.
Tunggangi isu boikot
Saat ini kembali muncul ajakan untuk melaksanakan Ramadhan tanpa Aqua. Gerakan yang dikomandoi pihak tertentu itu menunggangi isu boikot untuk mendapatkan keuntungan pribadi dari persaingan bisnis air minum dalam kemasan (AMDK).
Sejumlah buzzer dikerahkan untuk membuat publik tidak memilih Aqua sebagai bahan konsumsi mereka. Oknum tersebut menggunakan isu boikot dan afiliasi produk israel guna memberikan kampanye negatif agar merusak reputasi sambil memperlemah kewibawaan kompetitor mereka.
Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyayangkan apabila ada pihak yang dirugikan akibat gerakan positif namun ditunggangi agar dapat mengeruk keuntungan pribadi. Dia berpendapat bahwa gerakan boikot yang salah sasaran dikhawatirkan akan berdampak pada peningkatan tingkat pengangguran menyusul potensi gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mungkin terjadi.
“Jadi saya harus dipilah mana pemboikotan itu mesti dilakukan, mana negara yang juga selama ini berdiplomasi dengan baik, tetapi di sisi yang lain jangan menimbulkan korban-korban yang tidak kita inginkan bersama,” kata Ma’ruf Amin.
Ketua MUI Lampung, Ustadz Suparman juga meminta masyarakat lebih teliti dalam melakukan boikot terhadap produk tertentu. Menurutnya, pemberian donasi lebih baik dilakukan Indonesia untuk membantu Palestina.
“Itu bukan solusi. Saya hanya ingin katakan, kita tidak boleh mengharamkan sesuatu yang tidak Allah haramkan. Karena sama saja kita sudah menyekutukan Allah,” katanya.
Umat Islam diimbau untuk mendukung perjuangan Palestina, seperti gerakan menggalang dana kemanusiaan dan perjuangan, mendoakan untuk kemenangan, dan melakukan shalat ghaib untuk para syuhada Palestina. Pemerintah diimbau untuk mengambil langkah-langkah tegas membantu perjuangan Palestina.
“Diimbau menyalurkan zakat, infaq, shodaqoh, atau bentuk donasi yang lain untuk membantu korban di Palestina. Hati-hati, jangan sembarang menyumbang agar tidak disalahgunakan. Jalur paling aman melalui Pemerintah RI atau Kedutaan Besar Palestina di Indonesia,” katanya. (*/fs)







Komentar