oleh

Minimalisasi Gangguan Hama dan Penyakit Tanaman, Batan Optimalkan Potensi Ekspor Buah melalui Teknologi Iradiasi

POSKOTA.CO-Indonesia negara dengan kekayaan sumber hayati yang melimpah. Mulai dari tanaman makanan pokok, sayuran, dan buah-buahan. Negeri dengan sejuta budaya tersebut juga melahirkan aneka makanan olahan yang menjadi ciri khas masing-masing daerah.

Namun industri pangan khususnya komoditas pertanian Indonesia harus berhadapan dengan masalah hama, iklim, perubahan cuaca, dan masalah transportasi. Ini semua bisa mempengaruhi kualitas dan kesegaran produk pertanian bahkan mempengaruhi area pemasaran.

Padahal komoditas hortikultura khususnya buah-buahan memiliki potensi besar untuk menambah pundi-pundi devisa negara melalui kegiatan ekspor dan juga menjadi andalan di pasar masa kini. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekpor buah terus mengalami pertumbuhan, termasuk saat terjadi pandemi Covid-19. Bulan Juni 2020 lalu, pertumbuhan nilai ekspor buah Indonesia ke mancanegara mencapai 23,21 persen atau nilainya mencapai USD430,4 juta (setara Rp6,25 triliun pada kurs Rp14.557 per USD).

Jenis-jenis buah yang menyumbang ekspor terbesar meliputi mangga, manggis, salak, kacang-kacangan, dan nanas. Data Kementerian Perdagangan 2019, ekspor buah nanas ke Amerika Serikat, Belanda, Spanyol, Jerman, dan, Jepang mencapai Rp1,5 triliun. Kemudian ekspor manggis ke Hongkong, China, Malaysia, Saudi Arabia dan Prancis mencapai Rp1,09 triliun. Dan ekspor untuk seluruh jenis buah tropis ke Cina mencapai Rp94 triliun.

Buah lokal yang memiliki potensi menjadi komoditas ekspor dan sumberdevisa negara

Dalam upaya akselerasi ekspor buah tropis ke sejumlah negara, munculnya organisme pengganggu tanaman (OPT) menjadi hambatan non tarif yang cukup mengganggu. Organisme pengganggu tanaman ini misalnya lalat buah dan kutu putih. Karena itu beberapa negara memberlakukan persyaratan teknis Sanitary and Phytosanitary World Trade Organisation (SPS-WTO), yaitu perlakuan disinfestasi OPT.

Pemberlakuan persyaratan tersebut juga berlaku untuk buah-buahan tropis asal Indonesia. Karena itu, Indonesia harus mengupayakan teknologi untuk mengatasi masalah hama dan penyakit pada buah-buahan ini jika ingin menggenjot ekspor buah ke manca negara.

OPT ini terutama untuk jenis lalat buah, tidak hanya merusak buah dalam skala kecil. Acapkali seluruh area perkebunan menjadi rusak dan petani mengalami gagal panen.

Samsu, salah seorang petani buah manggis di Cipaku Ciamis, mengatakan hama lalat buah menjadi musuh utama petani buah. Hama ini meningkat cepat pada musim penghujan.

“Hama lalat buah sulit dikendalikan. Sebab banyak inang lalat buah yang bebas menyerang tanaman lain yang sedang berbuah, ditambah lalat buah akan cepat aktif saat musim hujan, sehingga proses pembusukan akan lebih cepat,” terang Samsu.

Bahkan saking jengkelnya dengan lalat buah, Bagus, petani buah belimbing di Temanggung Jawa Tengah, terpaksa membabat habis pohon belimbingnya dan mengganti dengan pisang. “Satu pohon diserang lalat buah, maka pohon yang lain sulit diselamatkan,” katanya.

Murni Indarwatmi, peneliti Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mengakui persoalan lalat buah dan kutu putih, menjadi jenis hama dan penyakit yang banyak menyerang produk hortikultura di samping hama-hama lainnya. Jenis hama ini cukup sulit untuk dikendalikan atau dibasmi. Beberapa petani buah menggunakan cara-cara tradisional seperti memasang perangkap atau menggunakan minyak tertentu, tetapi hasilnya tidak efektif.

Padahal syarat buah bisa lolos ekspor adalah bebas dari hama dan penyakit. Jika pada proses pemeriksaan produk masih ditemukan hama atau penyakit, produk ekspor buah kita akan ditolak oleh negara lain. Itu sebabnya perlu pengendalian hama dari sejak di kebun hingga pasca panen dengan tepat.

“Untuk hama tersembunyi seperti kutu putih dan lalat buah, sangat sulit diatasi, perlu perlakuan yang tepat,” kata Murni dalam sesi webinar yang ditayangkan Youtube Humas Batan.

Diakui, untuk membunuh serangga buah, para petani sebelumnya banyak memanfaatkan fumigasi metil bromide. Tetapi pemakaian zat ini kemudian dilarang dengan berbagai alasan. Karena itu, Batan kemudian mengembangkan teknologi  serangga mandul (TSM) dan perlakuan karantina dengan iradiasi gama.

Lalat buah dapat menjadi pengganggu potensi ekspor Indonesia

“Dua tehnologi  tersebut menggunakan radiasi dari nuklir dan Batan  sudah dapat melakukannya,” kata Murni.

Iradiasi pangan adalah metode penyinaran terhadap pangan baik dengan menggunakan zat radioaktif maupun akselerator untuk mencegah terjadinya pembusukan dan kerusakan pangan serta membebaskan dari jasad renik patogen. Iradiasi pangan merupakan proses yang aman dan telah disetujui oleh lebih kurang 50 negara di dunia dan telah diterapkan secara komersial selama puluhan tahun di USA, Jepang dan beberapa negara Eropa.

Murni menjelaskan prinsip dasar teknologi nuklir dalam bidang entomologi menggunakan tehnik dasar perunut dengan menggunakan isotop stabil dan isotop radioaktif, dengan memanfaatkan radiasi gamma, sinar x dan berkas electron.

Tehnologi  perunut dapat dilakukan dengan menggunakan isotop stabil dengan memanfaatkan kesamaan pada sifat kimia spesifik dari unsur kimia yang digunakan tetapi berat molekulnya berbeda. Lalu isotop radioaktif atau radioisotop memanfaatkan paparan radiasi dari unsur kimia yang digunakan.

Isotop dalam bidang entomologi digunakan untuk penandaan serangga, mempelajari interaksi hama dengan tanaman, perunutan bahan aktif insektisida, mengukur jarak terbang. Selain itu juga untuk mempelajari fisiologi tanaman, mempelajari hubungan tanah dengan tanaman, menentukan komposisi pakan hewan ternak.

Menurut Murni tehnologi  serangga mandul (TSM) adalah tehnologi  pengendalian hama dengan memandulkan serangga menggunakan radiasi pengion. Tehnik ini dinilai cukup efektif untuk menurunkan populasi hama, memiliki spesifik target, dan ramah lingkungan.

Dalam penelitian yang dilakukan terhadap hama lalat buah, radiasi dengan dosis 40 -100 G berhasil membuat melanisasi dan pupa mengecil, sayap keriting, abdomen tidak sempurna. Bahkan perhitungan hipotesis pelepasan serangga mandul, untuk populasi hama 1 juta ekor di areal yang dikendalikan menunjukkan bahwa pada generasi ke lima populasi bisa dikendalikan hinggal nol. Tetapi jika tidak dikendalikan maka pada generasi kelima, populasi hama lalat buah bisa mencapai 125 juta ekor.

“Tehnologi  serangga mandul jika dilakukan pada area yang terisolasi dan terkoordinasi antar petani antar instansi, akan sangat efektif membasmi serangga buah,” jelasnya.

Sedang iradiasi gamma untuk perlakuan karantina lanjut Murni sangat efektif menjangkau hama yang tersembunyi pada buah-buahan. Misalnya saja kutu putih pada kelopak buah manggis. Jenis hama ini hanya bisa diatasi dengan sinar gamma karena sinar gamma memiliki daya tembus yang tinggi sehingga bisa menjangkau area yang tersembunyi.

Senada juga disampaikan Ir Turhadi Noerachman, Kabid Karantina Tumbuhan Non Benih, Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian. Dengan semakin ketatnya larangan penggunaan insektisida kimia, maka iradiasi merupakan alternatif efektif untuk melindungi pangan dari kerusakan akibat serangga serta sebagai tindakan karantina untuk produk pangan segar.

Iradiasi pangan di Indonesia diakui Turhadi telah memiliki legalitas melalui Permenkes nomor 701/Menkes/PER/VIII/2009. Implementasi perlakuan iradiasi terhadap bahan pangan dengan tujuan mengeradikasi OPT dan memperpanjang masa simpan. Parameter sasaran perlakuan iradiasi pada OPT meliputi kematian (mortalitas), kegagalan perkembangan imago, kemandulan (sterilitas) dan sifat dorman (inaktivasi).

Dalam Permenkes tersebut juga ditetapkan dosis serap maksimum (1 kilogray) perlakukan iradiasi terhadap 7 kelompok tipe pangan dengan tujuan: pengawetan, pembasmian serangga, mikroba dan menghambat pertumbuhan.

“Sasaran perlakukan iradiasi sebagai phytosanitary measure di Indonesia untuk pemenuhan persyaratan negara lain terkait fitosanitari produk ekspor,” kata Turhadi.

Pusat Iradiator milik Batan sebagai sarana mengatasi persoalan organisme pengganggu tanaman (OPT)

Menurutnya, penggunaan sinar gamma untuk fitosanitari adalah pilihan yang tepat. Karena tehnik ini setidaknya memiliki 4 keunggulan yakni waktu aplikasi yang cepat, dapat diaplikasikan pada komoditas yang sudah dikemas, tidak meninggalkan residu bahan kimia dan tidak merusak kualitas komoditas. Berbagai buah toleran terhadap pada aplikasi sesuai dosis.

Turhadi mengatakan target terdekat aplikasi iradiasi pada buah adalah terkait protokol SPS mangga ke Australia yang sudah ditandatangani pada Februari lalu. Saat ini Indonesia masih dalam tahapan koreksian on site audit setelah sebelumnya melalui tahapan tahap IRA (2015),  workplan (2017), SOPs (2018), on site audit (2019).

Selain mangga, aplikasi teknologi  iradiasi juga telah dilakukan pada beberapa jenis buah dan sayuran segar, seperti bawang merah, kedelai dan alpukat. Hasilnya, penggunaan teknologi  iradiasi sebagai perlakuan karantina dengan dosis yang sesuai dan aman dapat memperpanjang daya simpan berbagai jenis buah dan sayuran segar dan tidak berbahaya bagi kesehatan manusia.

Ia mengingatkan bahwa buah tropis Indonesia memiliki masa simpan sebentar, potensial mikrobiologi, cendawan, hingga reinfestasi serangga. Selain itu, kecenderungan dunia menggunakan teknologi  iradiasi juga terus meningkat karena adanya keuntungan yang diperoleh antara lain tersedianya pangan yang bebas dari serangan (infestasi) serangga, kontaminasi dan pembusukan; pencegahan penyakit karena pangan dan pertumbuhan perdagangan pangan yang harus memenuhi standar impor dalam hal mutu dan karantina. Karena itu iradiasi menjadi solusi untuk memecahkan permasalahan kualitas komoditas buah-buahan Indonesia sekaligus memperluas pasar ekspor buat tropis.

Tercatat lebih dari 60 negara yang sudah bisa menerima produk pangan yang mendapat perlakuan iradiasi. Fakta ini tentu menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperbaiki kualitas buah-buahan tropis mulai dari kebun hingga pasca panen sehingga nilai ekspor buah terus meningkat.

Teknologi iradiasi gamma untuk produk pangan dan buah saat ini telah tersedia di Indonesia, salah satunya adalah Iradiator Gamma Merah Putih (IGMP) berada di Kawasan Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan. Keuntungan dari pemanfaatan IGMP adalah proses efektif, dapat membunuh hama dan penyakit dan tidak ada residu kimia beracun.

“IGMP juga tidak merusak kandungan gizi pada bahan pangan, bisa untuk produk kemasan, dapat digunakan untuk sterilisasi serta aman dikonsumsi,” kata Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi Batan Totti Tjiptosumirat.

Meskipun bagi sebagian masyarakat iradiasi merupakan suatu hal yang baru dan mungkin mengkhawatirkan, tetapi teknologi  iradiasi pangan diakui Totti telah dimanfaatkan secara luas dan komersial. Kekhawatiran masyarakat muncul akibat dari kasus nuklir yang pernah terjadi dan mengakibatkan banyak korban jiwa, meskipun hal tersebut tidak berhubungan dengan pengolahan pangan.

Di samping itu masyarakat tidak mendapatkan informasi yang cukup tentang penggunaan teknologi  iradiasi terhadap pangan. Padahal sama halnya dengan teknologi  pengolahan pangan lain, teknologi iradiasi telah terbukti aman digunakan untuk pangan.

“Selama bertahun-tahun teknologi  iradiasi telah digunakan di beberapa negara dan pangan iradiasi telah diproduksi, diedarkan dan dikonsumsi oleh berbagai lapisan masyarakat di dunia,” jelas Totti.

Pemerintah sendiri mulai memperbolehkan penggunaan teknologi  iradiasi untuk pangan sejak tahun 1987 melalui beberapa surat keputusan dan sejak saat itu iradiasi telah dimanfaatkan baik dalam skala penelitian maupun untuk tujuan komersial. Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan bagi produsen pangan dan pihak fasilitas iradiasi dalam pelaksanaan iradiasi pangan yang bersangkutan. Pedoman ini juga merupakan acuan bagi instansi pemerintah dalam melaksanakan pengawasan pangan iradiasi.

Totti mengatakan iradiasi yang dilakukan pada tahapan karantina buah-buahan dimaksudkan agar produk hortikultura Indonesia bisa menembus pasar global. Iradiasi ini dilakukan untuk mengeliminasi hama sternochetus frigidus yang persebarannya dicegah di seluruh dunia.

Totti memastikan bahwa tehnik iradiasi buah dengan dosis kurang dari 0,5 kGy akan mengeliminasi hama tanpa merusak kualitas dan mengubah rasa buah. Buah yang sudah diiradiasi juga tetap aman dikonsumsi.

Selain mengeliminasi hama pada buah, iradiasi pangan lanjut Totti juga bisa meningkatkan umur makanan segar maupun makanan dalam kemasan seperti rendang, bandeng presto, dan semur yang akan dikirim ke luar negeri. Dengan demikian, makanan tetap aman dikonsumsi meskipun telah menempuh perjalanan sekitar sepekan atau lebih dalam proses pengiriman ke luar negeri.

“Dengan iradiasi, waktu ketahanan pangan bisa ditambah sampai 3 bulan atau 1,5 tahun,” ujarnya.

Teknologi pengawetan makanan dengan radiasi nuklir diakui sudah banyak dikembangkan di negara-negara lain. Pengawetan dengan radiasi itu tidak meninggalkan zat berbahaya bagi tubuh manusia, tidak seperti pengawetan yang menggunakan zat kimia.

“Bahan makanan yang diawetkan dengan menggunakan teknologi radiasi tidak berkurang protein dan rasanya,” katanya.

Kepala Batan  Anhar Riza Antariksawan mengatakan aplikasi radiasi untuk fitosanitary dan tehnik serangga mandul untuk pengendalian hama merupakan dua hal yang sangat penting bagi kita untuk mendukung pembangunan sektor pangan nasional. Karena itu dimasa mendatang keduanya harus semakin kuat dan nyata aplikasinya.

“Untuk aplikasi radiasi kita sekarang punya fasilitas dengan kapasitas yang lumayan besar di Puspitek Serpong yaitu Iradiator Gama Merah Putih yang kita dedikasikan untuk berbagai hal baik untuk fitosanitary maupun sterilisasi maupun pasteurisasi. Tetapi yang banyak memang pasterisasi dan fitosanitary,” jelasnya.

Demikian juga untuk iradiasi tehnik serangga mandul. Anhar mengaku sudah membahas dengan beberapa pakar di PAIR Batan, karena tehnik serangga mandul, selain untuk sektor kesehatan yakni mengendalikan vector nyamuk, juga bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan serangga buah seperti lalat buah.

Diakui peminat dari iradiasi ini sangat banyak. Sayangnya hingga saat ini Indonesia baru memiliki 3 fasilitas iradiator. Satu dikelola swasta di kawasan Cibitung dan dua dibawah kelola Batan  yaitu Iradiator Gama Merah Putih di Puspitek Serpong, Tangerang Selatan untuk kebutuhan industri, dan Iradiator Mirzan T Razak di STT Batan  Yogyakarta untuk riset dan pendidikan.

“Dua fasilitas iradiator dibawah kelola Batan  tersebut dibangun Batan  bersama perusahaan dari Hongaria. Proses pembangunannya memakan waktu sekitar 3 tahun,” jelas Anhar.

Bandingkan dengan Vietnam, sebuah negara kecil yang kini sudah memiliki 8 fasilitas iradiator untuk menunjang kegiatan ekspor dan impor pangannya.

Karena itu dalam pertemuannya dengan Wapres Maruf Amin beberapa waktu lalu, Wapres dalam kesempatan tersebut mendorong agar fasilitas iradiator ini diperbanyak. Harapannya nanti bisa membantu menaikkan ekspor produk pertanian maupun produk kelautan.

Menindaklanjutinya, Batan  tahun ini sedang berusaha untuk menggandeng investor guna membangun fasilitas iradiator di sejumlah pelabuhan utama di Indonesia. Saat ini dokumen sedang disiapkan untuk mendapatkan bankable sehingga dapat meyakinkan calon investor untuk membangun fasilitas radiator.

“Batan  bertekad membuktikan bahwa iptek nuklir kita benar-benar sesuai dengan harapan founding father kita. Dapat menciptakan Indonesia adil makmur. Kita wujudkan nuklir untuk Indonesia,” tutup Anhar. (faisal)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *