oleh

Kiat Sukses Berkebun, Salah Satunya Pakai Pupuk Ber-SNI!

POSKOTA.CO – Demam berkebun melanda masyarakat perkotaan sejak pandemi Covid-19. Kegiatan ini menjadi pilihan masyarakat untuk mengisi waktu luangnya selama banyak beraktivitas di rumah. Selain relative lebih mudah, berkebun juga kegiatan yang tidak berbiaya mahal. Berkebun tidak banyak menyita waktu dan tidak pula membutuhkan ketrampilan tingkat tinggi. Lebih dari itu, berkebun menurut riset mampu menurunkan depresi atau tekanan yang dialami masyarakat akibat pandemi.

Sebuah riset yang dipublikasikan oleh Jurnal Cities tahun 2021 menyebut orang yang berkebun di sekitar rumah memiliki penurunan tingkat depresi hingga 13 persen, mengurangi tingkat stres hingga 16 persen, dan bisa meningkatkan energi sebesar 12 persen.

Penelitian yang melibatkan 6.914 responden di Inggris tersebut juga menemukan bahwa alasan orang berkebun karena mendapat kesenangan, ada kepuasan tersendiri ketika merawat tanaman dan melihatnya tumbuh subur.

“Banyak orang mengatakan berkebun untuk kesenangan, jadi kemungkinan beberapa orang terpikat untuk berkebun juga tinggi,” kata peneliti di Royal Horticultural Society, Lauriane Chalmin Pui, mengutip lama Happiful.

Tetapi benarkah demam berkebun hanya untuk mengisi waktu kosong selama berada di rumah? Ternyata ada banyak orang yang kemudian jatuh cinta pada kegiatan berkebun dan memutuskan untuk melanjutkan meski saat ini aktivitas publik sudah mulai kembali normal. Mereka tak sekadar berburu berbagai jenis tanaman mulai dari tanaman hias hingga tanaman buah dan tanaman obat. Mereka juga belajar banyak tentang penggunaan pupuk.

“Ketika mulai menanam, saya ingin tanaman tumbuh subur, bebas penyakit dan tentu cepat berbunga atau bahkan berbuah,” kata Den, warga Bantul, Yogyakarta.

Karena itu, ia yang berprofesi sebagai karyawan sebuah bank daerah lantas banyak membaca artikel-artikel tentang pemilihan pupuk yang tepat dan bagus. Ia juga belajar tentang bagaimana dan kapan pemberian pupuk dilakukan.

“Pernah saya menabur pupuk pada tanaman bunga cukup banyak. Dalam pikiran saya, kalau pupuknya banyak, tanaman akan tumbuh subur,” lanjutnya.

Tetapi yang terjadi justeru sebaliknya. Sehari setelah diberikan pupuk kimia, semua tanaman hias dalam pot mati kering. “Dari situ saya belajar bahwa memberikan pupuk pada tanaman juga ada tehniknya,” tukas Den.

Pengalaman hampir serupa juga dialami Imam, warga Mampang Prapatan Jaksel. Karyawan swasta di bilangan Kuningan tersebut pernah membeli pupuk melalui market place untuk jenis pupuk buah dengan harga murah.

Pemupukan yang tepat akan membuat tanaman tumbuh subur

“Maunya biar cepet berbuah, karena pakai produk palsu, yang ada tanaman malah layu. Tapi saya jadi paham, cari pupuk itu gampang gampang susah,” kisahnya.

Memilih Pupuk yang Tepat

Memang berkebun tidak sebatas kegiatan menanam tanaman, menyiram dan merawat. Berkebun juga harus ada kegiatan memberikan pupuk pada tanaman. Pupuk merupakan komponen yang dapat memberikan pemenuhan kandungan unsur hara bagi tanaman dan tanah. Tanpa pupuk, alam berjuang untuk mengisi kembali nutrisi di tanah. Menggunakan pupuk sama dengan menyeimbangkan unsur yang ada di dalam tanah serta membuat tanaman menjadi sehat.

Lantas bagaimana cara memilih pupuk yang sesuai dengan jenis tanaman yang ditanam? Mengutip laman pupuk-kujang.co.id, berikut merupakan beberapa jenis pupuk yang perlu diketahui agar kita dapat mengidentifikasi kebutuhan tanaman di rumah.

Pertama, jenis pupuk berdasarkan kandungan unsur hara. Pupuk jenis ini dibagi menjadi dua yakni pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal merupakan pupuk dengan kandungan unsur yang hanya satu atau tunggal. Pupuk tunggal terdiri dari satu unsur hara makro primer. Sebagai contoh pada pupuk urea yang memiliki satu unsur kandungan yaitu nitrogen (N).

Sedang pupuk majemuk merupakan jenis pupuk yang memiliki jenis kandungan lebih dari satu. Pada packaging pupuk majemuk biasanya tertulis kode konsentrasi seperti contoh NPK dengan kode 10 – 10 – 10. Hal tersebut menunjukan kandungan nitrogen (N), fosfor (P), dan Kalium (K) yang masing – masing kandungannya sebanyak 10.

Lalu berdasarkan cara mengaplikasikannya, pupuk dibagi menjadi dua yakni pupik daun dan pupuk akar. Pupuk daun digunakan dengan cara menyemprotkan pupuk cair tersebut pada helai daun. Ukuran kandungan unsur hara pada pupuk daun yaitu mikro. Sedang pupuk akar digunakan dengan cara disebar disekeliling tanaman atau disemai. Pupuk akar memiliki kandungan makro dan biasanya berjenis pupuk majemuk seperti pupuk NPK.

Kemudian pupuk berdasarkan pelepasan unsur hara dibagi menjadi dua yakni fast release dan slow release. Sesuai dengan namanya, pupuk dengan jenis fast release memiliki kemampuan untuk diserap lebih cepat oleh tanaman. Kandungan unsur hara dari pupuk jenis ini dapat langsung dimanfaatkan oleh tanaman – tanaman demi memenuhi kebutuhan pertumbuhannya. Beberapa jenis pupuk fast release diantaranya KCL, ZA, dan lain sebagainya.

Sedang slow release adalah kebalikan dari pupuk fast release. Pupuk slow release memiliki daya serap yang sedikit sesuai dengan kebutuhan tanaman. Contoh pupuk slow release adalah pupuk TSP.

Untuk memenuhi berbagai kebutuhan pupuk masyarakat, Pupuk Kujang memiliki banyak pilihan produk.  Di antaranya adalah pupuk Jeranti, Nitrea, KCL Kujang, Excow, Kuriza dan lainnya. Semua produk pupuk Kujang memiliki jaminan kualitas. Bahkan beberapa di antaranya telah mengantongi sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI).

Hingga 2021, Pupuk Kujang berhasil memperoleh 21 sertifikat, dimana 15 di antaranya berhubungan dengan SNI. Adapun sertifikat yang diraih Pupuk Kujang antara lain Sertifikat SMK3 dari Kementerian Tenaga Kerja, Sertifikat lSO/lEC 17025:2017 untuk laboratoriumnya, Sertifikat Industri Hijau, Sertifikat SNI Urea dari Kementerian Perindustrian, Sertifikat SNI Urea Merk Nitrea dari Kementerian Perindustrian, Sertifikat SNI Amoniak dari Kementerian Perindustrian, Sertifikat SNl NPK dari Kementerian Perindustrian.

Lalu Sertifikat SNI NPK Merk Phonska dari Kementerian Perindustrian, Sertifikat SNI NPK Jeranti dari Kementerian Perindustrian, Sertifikat SNI NPK Nitroku dari Kementerian Perindustrian, Sertifikat SNI Tripel Superfosfat dari Kementerian Perindustrian, Sertifikat SNI Bion Up dari Lembaga Sertifikasi Pertanian Organik INOFICE, Sertifikat Pertanian Organik, Sertifikat Halal dari LP POM MUI Jawa Barat, Sertifikat SNI ISO 9001 : 2015 dari Sucofindo ICS, Sertifikat SNI ISO 9001 : 2015 dari Sucofindo ICS, Sertifikat SNI ISO 14001 : 2015 dari Sucofindo ICS dan Sertifikat SNI ISO 37001 : 2016 dari Suconfindo ICS serta Sertifikat SNI ISO 50001 : 2011 Sucofindo ICS.

Direktur Utama PT Pupuk Kujang (Persero) Maryadi mengatakan pihaknya bekerjasama dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN) terus secara konsisten menerapkan SNI pada produk pupuknya. Tujuannya adalah melindungi konsumen dari praktik pemalsuan pupuk.

Bagi orang awam, membedakan pupuk yang berkualitas dengan pupuk palsu memang tidak mudah. Karena pelaku pemalsuan pupuk umumnya mencontek persis fisik pupuk yang dipalsukan, baik dari warna pupuk, bentuk sediaan pupuk hingga kemasannya. “Sekilas sama dengan pupuk asli,” tambahnya.

Itu sebabnya untuk memudahkan konsumen mengenali produk pupuk yang berkualitas, Pupuk Kujang mengadopsi SNI pada produk pupuknya. “Dengan SNI, konsumen akan mendapatkan jaminan bahwa pupuk yang digunakan adalah asli dan berkualitas,” jelasnya.

Kreasi tanaman yang dilakukan Den mengisi waktu kosong selama WFH

Ia mengemukakan penggunaan pupuk palsu tidak hanya merugikan konsumen secara finansial, tetapi juga dapat membuat tanaman tumbuh kerdil bahkan mati. Itu sebabnya Maryadi mengimbau konsumen tidak tergiur dengan iming-iming harga pupuk yang murah. “Lebih baik cari pupuk yang dijamin kualitasnya, jelas produsennya, ada SNI-nya dan legal,” tukas Maryadi.

Sertifikat SNI untuk Pupuk

Untuk mendukung kegemaran masyarakat berkebun, Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan dan Halal BSN, Wahyu Purbowasito dalam keterangan tertulisnya menjelaskan pupuk yang berkualitas dan ber-SNI menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam kegiatan perkebunan atau pertanian. Karena itu BSN telah mengembangkan 29 SNI Pupuk.

“SNI Pupuk tersebut ada yang bersifat sukarela, namun juga ada yang diberlakukan secara wajib,” jelas Wahyu.

Saat ini  terdapat tujuh SNI Pupuk yang diberlakukan secara wajib. Ketujuh SNI tersebut yaitu SNI 2801:2010 Pupuk urea; SNI 02-1760-2005 Pupuk amonium sulfat; SNI 02-0086-2005 Pupuk tripel super fosfat; SNI 02-2805-2005 Pupuk kalium klorida; SNI 02-3769-2005 Pupuk SP-36; SNI 02-3776-2005 Pupuk fosfat alam untuk pertanian; dan SNI 2803-2012 Pupuk NPK padat.

Pemberlakuan SNI secara wajib, lanjut Wahyu, ditetapkan pemerintah dengan alasan ini untuk melindungi konsumen. “Untuk pupuk tertentu yang tidak sesuai spesifikasi, akan merusak unsur tanah, dan juga tanaman sehingga akan mempengaruhi keberhasilan panen dan fungsi kelestarian lingkungan hidup,” ujar Wahyu.

SNI 2801:2010 Pupuk urea, misalnya. Standar ini merupakan revisi dari SNI 02-2801-1998 dan disusun oleh Komite Teknis 65-06, Produk Kimia dan Agrokimia. Yang dimaksud pupuk urea dalam SNI adalah pupuk buatan yang merupakan pupuk tunggal, mengandung unsur hara utama nitrogen, berbentuk butiran (prill) atau gelintiran (granular) dengan rumus kimia CO(NH2)2. Adapun syarat mutu pupuk urea dilihat dari kadar nitrogen, kadar air, kadar biuret dan ukuran.

Jika salah satu persyaratan mutu dalam SNI tersebut tidak terpenuhi, maka akan berakibat pada kebaikan alami tanah dan juga keberhasilan tanaman.

“Dalam SNI Pupuk urea persyaratan mutunya terbagi dua yakni butiran dan gelintiran. Mutu yang dilihat dari kadar nitrogen baik butiran maupun gelintiran minimal 46,0%; kadar air, baik butiran maupun gelintiran maksimal 0,5%; sementara kadar biuret, untuk butiran maksimal 1,2% dan gelintiran maksimal 1,5%,” tambahnya.

Mengingat pentingnya persyaratan mutu SNI dan akibatnya jika tidak memenuhi persyaratan tersebut, maka pemerintah tidak menoleransi peredaran atau penjualan pupuk non SNI, yang sudah diberlakukan secara wajib SNI-nya.

Berdasarkan data di bangbeni.bsn.go.id, sampai saat ini tercatat ada 129 Industri pupuk yang menerapkan SNI di Indonesia. PT Pupuk Kujang salah satunya.

Wahyu menyebut penggunaan pupuk ber-SNI adalah cara paling mudah bagi para petani untuk terhindar dari pemalsuan pupuk. Karena itu ia juga mengimbau agar para petani tidak tergiur dengan promosi pupuk murah yang saat ini sangat gencar dilakukan terutama melalui media social. (faisal)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *