oleh

Salurkan BST di Wilayah Kepulauan, Pos Tanjung Pandan Gandeng Komunitas

POSKOTA.CO-Tidak ada kantor pos, PT Pos Indonesia (Persero) gandeng komunitas untuk menyalurkan Bantuan Sosial Tunai (BST) Kemensos kepada warga di Selat Nasik, Pulau Belitung, Kepulauan Bangka Belitung. Di pulau tersebut terdapat sekitar 50 KPM yang berhak menerima BTS senilai Rp300 ribu per bulan.

“BST merupakan program bantuan sosial dari Kementerian Sosial (Kemensos) yang disalurkan kepada para KPM yang terdampak pandemi Covid-19. Bantuan berupa uang tunai Rp300 ribu per KPM disalurkan melalui kantor pos setiap bulan, hingga April 2021,
kata Kepala Kantor Pos Tanjung Pandan 33400 Syifa Fauziyah.

Menurut Syifa,  di wilayah kepulauan tersebut tidak ada kantor pos. Karena itu penyaluran BTS harus menggandeng komunitas yang ada.

“Untuk bisa ke sana, tim Kantor Pos Tanjung Pandan 33400 harus sudah melakukan penjadwalan dua hari sebelum berangkat. Termasuk sudah berkoordinasi dengan aparat desa setempat. Dan begitu tiba, KPM penerima BST sudah berkumpul semuanya dan sudah dikondisikan. Dengan demikian, penyaluran BST tetap memerhatikan protokol kesehtan (prokes). Pembayaran juga bisa selesai dalam sehari,” ujarnya.

Proses penyaluran BST di lapangan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat seperti memakai masker, menjaga jarak aman dan menggunakan handsanitizer.

Secara keseluruhan untuk wilayah Kabupaten Belitung, tercatat ada 2.717 KPM penerima BST. Jumlah tersebut sudah mengalami penurunan karena status ekonomi beberapa KPM sudah mengalami peningkatan.

“Awalnya ada 3.000-an. Ada yang status ekonominya berubah setelah didata dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS),” kata Kepala

Bidang Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial PPPA Kabupaten Belitung Eko Wijarnoko.

Sementara itu, Wakil Bupati Belitung Isyak Meirobie memandang BST sangat penting dalam memulihkan perputaran roda ekonomi daerah. Secara khusus, membantu meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat menengah ke bawah.

“BST ini sangat memengaruhi kehidupan masyarakat Belitung semenjak covid-19 mewabah. Kebutuhan masyarakat untuk BST ini sangat penting,” kata Isyak.

Isyak berharap pemerintah pusat melakukan transparansi jadwal penyaluran BST agar lebih tertib. Penyaluran BST yang tidak tertib, hingga menimbulkan kerumunan, menurutnya, disebabkan karena penyampaian jadwal yang tidak transparan.

Penyampaikan informasi jadwal penyaluran BST bisa ditingkatkan melalui Diskominfo, media sosial, dan RT/RW. Isyak menjamin, para KPM akan tertib untuk melakukan transaksi BST.

Selain itu, dia memandang diperlukan sebuah inovasi agar penyaluran BST bisa disalurkan langsung ke rumah KPM. Tidak perlu lagi mengambil ke kantor pos. Pendataan dengan sistem digital, menurutnya, akan memperlancar proses ini.

“Blankspot di Belitung tinggal sedikit. Hanya di wilayah kepulauan saja, dan tidak banyak. Jadi sangat  mudah untuk akses digitalisasi membantu percepatan penyaluran BST,” kata Isyak.

Sejauh ini, ada tiga cara penyaluran BST yang dilakukan Pos Indonesia. KPM mengambil langsung ke kantor pos, melalui komunitas, dan mengantarkan langsung ke rumah KPM, khususnya bagi lansia dan yang sedang sakit.

Sejumlah KPM di Kecamatan Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung tampak gembira ketika sudah mencairkan BST di Kantor Pos Tanjung Pandan 33400. Dengan menunjukkan KTP dan KK, para KPM sudah bisa mendapatkan BST Rp300 ribu.

“Saya sempat susah. Suami tidak kerja. Saya sangat tertolong dengan bantuan dari Kemensos ini,” tutur Sri Wulandari, warga.

KPM lainnya, Lisa Novianti juga mengungkapkan dana BST telah digunakan  untuk kebutuhan hidup sehari-hari. “Seperti beras dan lauk pauk. Sudah cukup untuk satu hingga dua minggu ke depan,” tutur Lisa.

Baik Sri dan Lisa, berharap agar pemerintah mau memperpanjang program BST. Setidaknya program bantuan ini tetap disalurkan selama pandemi Covid-19 belum usai.

Pulau Belitung sebetulnya sedang mempersiapkan diri menjadi kawasan destinasi wisata unggulan sebelum pandemi Covid-19. Dengan harapan, hasilnya sudah terlihat pada 2020. Tanpa disangka, wabah Covid-19 melanda seluruh dunia yang mematikan seluruh sektor pariwisata. Termasuk Pulau Belitung. Dampak ini juga turut berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi daerah menjadi minus 2,31 persen pada 2020. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *