oleh

Prof Munif Tawarkan Budidaya Kedelai dengan Teknologi BJA

POSKOTA. CO – Ketergantungan Indonesia terhadap komoditas kedelai menyisakan pertanyaan, apakah Indonesia tidak mampu untuk mandiri dalam memproduksi kedelai? Ketidakmandirian Indonesia terhadap komoditas kedelai berdampak buruk seperti kondisi yang terjadi baru-baru ini.

Yakni ketidakstabilan harga karena kedelai yang diimpor terpengaruh oleh kebijakan internasional dan politik negara yang bersangkutan.

Pakar kedelai IPB University, Prof Dr Munif Ghulamahdi menemukan inovasi untuk menjawab masalah rendahnya produktivitas tanaman kedelai melalui publikasi ilmiahnya pada tahun 2011.

Prof Munif menawarkan solusi teknologi budidaya kedelai di lahan pasang surut atau biasa disebut Budidaya Jenuh Air (BJA).

Apabila teknologi BJA diterapkan, maka hanya membutuhkan lahan seluas 815 ribu hektar untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri.

“Dari dua juta hektar lahan yang cocok untuk ditanam kedelai, bisa dipilih lahan di luar Jawa yang sudah ada permukiman. Sulit meningkatkan produksi kedelai di Jawa karena lahan yang ada bersaing untuk ditanami komoditas yang sedang tren atau lebih menguntungkan,” ungkap dosen Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB University ini.

Melalui risetnya yang inovatif, Prof Munif dapat menghasilkan maksimal hingga 400 polong kedelai per tanaman. Rata-ratanya bisa mencapai 105 polong per tanaman pada populasi 400.000 tanaman per hektar.

“Tahun 2009, kami pernah panen massal di lahan ujicoba di Desa Banyu Urip, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, Propinsi Sumatera Selatan,” terangnya.

Kedelai hasil risetnya yang mula-mula ditanam pada lahan pasang surut seluas 0,25 hektar terbukti menghasilkan 4,63 ton biji kering/hektar.

Selanjutnya kedelai ditanam secara massal pada lahan seluas 2.5 hektar, dan petani masih mampu menghasilkan pada kisaran 2.75-3.38 ton/hektar.

“Pada tahun 2016 dilanjutkan penanaman massal seluas 500 ha di kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi,” papar Prof Munif.

Lebih lanjut dikatakannya, produktivitas kedelai di lahan pasang surut ini tergolong tinggi, karena biasanya jika ditanam dengan sistem budidaya kering, hanya mampu menghasilkan 0.8 ton/hektar.

Sementara itu, dari beberapa varietas kedelai yang diujicobakan seperti Tanggamus, Slamet, Willis dan Anjasmoro, Tanggamus merupakan varietas dengan hasil terbaik yang dikembangkan dengan teknologi budidaya jenuh air di lahan pasang surut.

Adapun kendala yang saat ini terjadi menurut Prof Munif adalah perluasan lahan. Lahan pasang surut yang tersebar di Lampung, Sumatra Selatan, Jambi dan Kalimantan Barat bisa digunakan untuk pertanian kedelai dengan metode BJA. Perluasan lahan, kata Prof Munif, pasti butuh intervensi kebijakan pemerintah.

”Kami siap untuk melakukan penyuluhan, pendampingan, dan pengawasan sampai petani menguasai metode ini.

Bibit juga bisa disiapkan dari lahan binaan kami di Lampung dan Sumatra Selatan. Tapi, harus ada kontrak sejak awal.

“Jangan membuat petani yang menyediakan bibit kecewa karena setelah mereka memilah bibit, ternyata tidak dibeli,” tutur Prof Munif.

Rektor IPB University, Prof Dr Arif Satria mengatakan, “Kami berharap teknologi temuan dosen IPB University ini dapat segera direspon oleh pemerintah untuk diadopsi sebagai upaya mencukupi kebutuhan kedelai nasional,” ujarnya. (yopi/sir)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *