JAKARTA – Gubernur Daerah Khusus Jakarta (DKJ) Pramono Anung dan Wagub Rano Karno berupaya memenuhi janjinya untuk lebih serius melestarikan seni budaya Betawi. Upaya tersebut diwujudkan dengan sesering mungkin melibatkan nilai budaya lokal Jakarta di berbagai kegiatan pemerintahan maupun swasta.
“Sesuai janji saya dan Bang Doel serta mendukung Perda tentang pelestarian budaya Betawi, maka kami mulai sering memberikan panggung kepada seniman Betawi,” ujar Gubernur Pramono kepada wartawan di Jakarta, Senin (7/7). Belakangan ini, hampir setiap perhelatan yang digelar Pemprov DKJ selalu ada hiburan tari tradisional betawi, ondel-ondel, pencak silat, dan lainnya.
Pramono mencontohkan pada kegiatan Festival Budaya bertajuk Jakarta Dalam Warna yang dihelat Pemprov Jakarta di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada kegiatan Car Free Day (CFD) Minggu (6/7) kemarin berlangsung meriah dan didominasi seni Betawi.
Sekitar 2.000 pesilat berkolaborasi dengan 5.000 penari tradisional ditambah aksi Marching Band Jakarta Drum Crops serta sejumlah artis ternama seperti Rossa, Ayu Ting Ting, Maudy Koesnaedi, Mandra, Happy Salma dan Prisia Nasution, memukau warga yang hadir.
Ajang apresiasi terhadap kekayaan budaya, kreativitas seni, dan dinamika masyarakat yang dilaksanakan bersamaan dengan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) ini, meraih rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Hajatan tersebut memecahkan rekor MURI untuk kategori jumlah penari dan pesilat terbanyak di Indonesia.
Pramono menuturkan, dirinya bersama Wagub Rano Karno berkomitmen mewujudkan wajah Jakarta adalah Kebudayaan Betawi sesuai amanat UU Nomor 2 tahun 2024. “Yang terpenting agar warga Jakarta bangga dan menikmati budayanya. Secara perlahan, kita akan ubah dan perbaiki untuk wujudkan Jakarta aman dan nyaman bagi semua bagi warga asli dan pendatang,” ujar Pramono.
Pramono berharap, ekspresi budaya seperti ini harus ada di dalam masyarakat, bukan hanya tampil saat ada perayaan. “Kami telah mewajibkan pemakaian busana tradisional Betawi. Termasuk saat melantik pejabat diwajibkan memakai baju Ujung Serong. Wajah Betawi tidak sekadar perayaan, tetapi ada di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jakarta,” tukasnya.
Wagub Rano menambahkan, pencak silat bukan sekadar ilmu bela diri, tetapi juga melambangkan keindahan budaya Betawi. “Mudah-mudahan bukan hanya kebudayan Betawi yang ditampilkan, tetapi ada budaya dari Sumatera Barat, Jawa Barat, dan sebagainya. Semua budaya yang ada di Jakarta akan tampil di sini. Sekarang kita awali dengan kebudayan Betawi,” tandasnya. (jo)







Komentar