oleh

Gelar Obrolan Soal Cukai MBDK, Fakta Indonesia: Pemerintah Sudah Bahas Sejak 2016 Hingga Kini Belum Terealisasi 

JAKARTA – Dalam rangka mendorong pemerintah menerapkan cukai pada Minuman Berpemanis dalam Kemasan (MBDK), Forum Warga Kota (Fakta) Indonesia terus menggelar berbagai kegiatan demi mewujudkan  tujuan mulia dari bahaya konsumsi gula. Kegiatan paling anyar adalah menggelar diskusi ‘Kongkow Bersama Wartawan’ masih seputar upaya mencukaikan produk guna melindungi masyarakat konsumen.

Kegiatan kongkow tersebut dihadiri sejumlah undangan seperti dari Yayasan Ginjal Anak (Yagin) Indonesia,  orangtua dari anak penderita gagal ginjal, penggiat kesehatan, dan wartawan. “Masih dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN), Fakta Indonesia menggelar kegiatan obrolan dalam upaya melindungi masyarakat konsumen,  terutama anak-anak dari bahaya gula. Untuk itu, kami terus memperjuangkan agar MBDK dicukaikan dan memuat label peringatan sehingga peredarannya lebih terkontrol,” ujar moderator Azas Tigor Nainggolan di Kedai Tjikini, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (4/8).

Ketua Fakta Indonesia Ari Subagyo menegaskan dalam kongkow ini, diperlukan peran media memberikan informasi masyarakat mengenai advokasi pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) dan regulasi MBDK. “Sebagaimana kita ketahui, salah satu dampak buruk sering mengkonsumsi MBDK dapat menimbulkan PTM seperti diabetes, gagal ginjal, dan sebagainya,” kata Ari.

Ia mengungkapkan  MBDK ajib dikenakan cukai seperti produk rokok atau alkohol serta  cantumkan label peringatan. “Perjuangan ini sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Bahkan sejak 2016, pemerintah sudah membahas masalah cukai, tapi anehnya sampai hari ini tak kunjung realisasi,” tandas Ari. Kalau cukai tak kunjung diterapkan, Indonesia makin sulit mewujudkan Generasi Emas. “Bahkan Ggenerasi kita makin lemah dan sakit-sakitan karena tiap hari dicekoki MBDK yang harganya sangat murah karena tidak ada cukai,” sambungnya. 

Agustya Sumaryati, Ketua Pengurus Yayasan Ginjal Anak Indonesia memaparkan dari tahun ke tahun jumlah penderita PTM teehada anak terus meningkat. “Sejak beberapa tahun ini, anak yang menderita  diabetes maupun gagal ginjal terus meningkat. Menurut testimoni anak maupun orangtuanya karena sering mengkonsumsi MBDK yang berlebihan,” kata Agustya. Menurutnya yayasan nonprofit yang didirikan Syaihul Hady banyak membantu anak-anak gagal ginjal dari donasi masyarakat. 

Sedangkan Ny Siti, warga Cilincing, Jakarta Utara, mengungkapkan alangkah sedihnya anak yang dibanggakannya menderita gagal ginjal sejak tiga tahun lalu. “Anak saya, Ibrahim, didiagnosis ginjalnya mengecil pada umur 12 tahun. Sekarang dia sudah usia 15 tahun. Sejak tiga tahun ini, dia dua kali cuci darah. Gara-garanya Ibrahim tiap hari hari mengkonsumsi minuman manis dalam kemasan. Di luaran sana banyak jenis MBDK yang harganya sangat murah, cuma Rp 500 sehingga banyak anak-anak beli tanpa sepengetahuan orang tua,” ujar Siti. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *