JAKARTA – Organisasi kemanusiaan global, Human Initiative (HI) menandatangani perjanjian kerja sama dengan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) dan KEIND terkait penguatan penanggulangan bencana di Indonesia. Penandatanganan tiga lembaga itu dilakukan di gedung JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (14/8).
MoU ini akan menjadi payung hukum dalam kolaborasi penanggulangan bencana ke depan. Sebab, bencana bisa datang sewaktu-waktu dan tak bisa diprediksikan secara akurat. Namun, membangun kesiapan tidak bisa dilakukan dalam semalam, apalagi di tengah kekacauan.
Acara penandatanganan MoU tersebut juga diisi kegiatan talk show tentang kebencanaan yang menghadirkan sejumlah narasumber. Diskusi bertajuk ‘Private Sector In Disaster Management: Building A Culture Of Resilience’ berlangsung di ajang Emergency Disaster Reduction & Rescue (EDRR) Expo Indonesia. Forum yang mempertemukan pegiat kemanusiaan, pelaku usaha, dan berbagai pihak yang peduli pada pengurangan risiko bencana.

Bagi Human Initiative dan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) serta KEIND, ketangguhan adalah hasil kolaborasi yang berkelanjutan, bukan reaksi sesaat. Itulah sebabnya ketiga organisasi ini menandatangani MoU sebagai komitmen bersama memperkuat kesiapsiagaan dan pemberdayaan masyarakat.
“Aktor respon bukan hanya para pegiat kemanusiaan atau relawan saja, tetapi para pelaku usaha yang memiliki peran penting untuk hadir memulihkan kehidupan masyarakat saat dan pasca bencana. Maka kolaborasi yang terbangun diharapkan bukan hanya saat emergency, tetapi sepanjang waktu jauh sebelum bencana terjadi. Menjalin relationship dengan pelaku usaha lokal sejak dini,” ujar Vice President Worldwide Partnership & National Development Human Initiative Bambang Suherman usai tanda tangan bersama Ketum HIPPI Erik Hidayat dan Ketum KEIND Afdal Rizal Armashita.
“Kesepakatan ini mencakup pelatihan dan edukasi masyarakat di bidang sosial dan kemanusiaan, penanggulangan bencana, dukungan logistik, pertukaran informasi, hingga kerja sama dalam tanggap darurat dan pemulihan,” kata Bambang.
Ketua Umum HIPPI Erik Hidayat menambahkan bahwa dunia usaha memiliki kekuatan besar untuk berkontribusi pada ketangguhan bangsa. “Kami ingin memastikan pengusaha juga menjadi bagian dari solusi sosial, bukan hanya ekonomi,” kata Erik.
Diskusi di forum tersebut, dan MoU yang dihasilkan menggarisbawahi satu pesan penting: membangun budaya ketangguhan adalah pekerjaan jangka panjang. “Ketika sektor kemanusiaan, dunia usaha, dan masyarakat bergerak bersama sejak dini, kita bukan hanya siap menghadapi bencana, kita siap menghadapinya dengan kepala tegak,” tuturnya.
Diskusi publik di ajang EDRR Indonesia yang dimoderatori Victor Rembeth menampilkan pembicara mantan Ketua BNPB dan Guru Besar Sosiologi Kebencanaan Universitas Pertahanan, Prof Dr Syamsul Ma’arif, Ketua Umum Keind Afdal Rizal Armashita, Ketua Umum HIPPI Erik Hidayat dan VP Human Initiative Bambang Suherman.
Syamsul Ma’arif mengatakan dalam menanggulangi bencana serta tahapan rekonstruksi harus melibatkan pengusaha dan masyarakat lokal semaksimal mungkin. “Dalam membangun kembali atau rekonstruksi berbagai fasilitas masyarakat, kita harus melibatkan sebanyak mungkin warga lokal. Agar tiap masyarakat bergairah dan bangkit kembali dari bencana. Jangan mengajari masyarakat tergantung pada bantuan,” kata Syamsul Ma’arif. (jo)







Komentar