BEKASI – Matahari belum tinggi benar ketika arena Car Free Day (CFD) Bekasi mulai ramai. Sepeda hilir mudik, anak-anak berlarian, dan di pinggir jalan, gerobak-gerobak kecil sudah mengepulkan asap. Di antara riuh itu, Elisa sibuk meracik kupat tahu, jajanan khas Ciamis yang jadi andalannya tiap akhir pekan.
Tangannya cekatan mengaduk bumbu kacang, tapi matanya sesekali melirik ponsel yang tergeletak di atas meja kecil. Bukan untuk main media sosial, melainkan menunggu notifikasi. Sebab pagi itu, seperti pagi-pagi lain belakangan ini, hampir tidak ada lagi pembeli yang membayar dengan uang kertas.
“Nggak repot nyiapin uang receh kembalian, pak. Apalagi baru buka jualan, ada yang beli tapi uangnya perlu kembalian,” kata Elisa sambil terus mengaduk, tanpa menghentikan pekerjaannya sedikit pun.
Kalimat sederhana itu menyimpan cerita besar. Cerita tentang bagaimana pedagang kecil, yang dulu identik dengan uang recehan dan catatan buku tulis lusuh, kini pelan-pelan bergeser ke dunia digital. Semua berkat selembar kode kotak-kotak bernama QRIS yang kini menempel di gerobak-gerobak mereka.
Kembalian yang tak Lagi Bikin Pusing
Bagi Elisa, dulu urusan uang receh adalah perkara serius. Pagi-pagi sebelum dagangan digelar, ia harus menyisihkan waktu ke warung atau ke bank hanya untuk menukar uang pecahan kecil.
Kalau lupa, sial baginya. Pembeli pertama yang datang justru bisa jadi masalah, bukan rezeki. “Sekarang pembayaran cukup lewat aplikasi QRIS. Tidak perlu menyediakan uang kembalian yang bikin pusing mencari uang receh,” ujarnya.
Cara bayar yang dulu terasa asing itu kini jadi andalan. Cukup pembeli membuka aplikasi, arahkan kamera ke kode di meja, ketik nominal, selesai. Tak ada lagi drama mencari uang seribu atau dua ribu di antara tumpukan recehan yang kadang lengket oleh minyak gorengan.
Menurut Elisa, keuntungan digitalisasi transaksi ini bukan cuma soal kembalian. Waktu transaksi jadi lebih singkat, antrean pembeli tidak menumpuk lama. Risiko kejahatan pun berkurang. “Selain menyingkat waktu transaksi, juga meminimalkan risiko pencurian atau menerima uang palsu,” katanya lagi.
Ia bilang, dulu uang tunai yang menumpuk di gerobak kadang jadi incaran. Belum lagi risiko menerima uang palsu dari pembeli yang terburu-buru di tengah keramaian CFD. Sekarang, uang yang masuk langsung tercatat rapi di rekening, tak ada yang bisa dipalsukan.
Suara Senada dari Pedagang Sosis
Tak jauh dari lapak Elisa, Zaskia berjualan sosis bakar. Aroma manis kecap yang dipanggang di atas bara menarik perhatian pengunjung CFD yang lalu lalang. Ketika ditanya soal QRIS, jawabannya tak jauh berbeda dari Elisa.
Cerita senada itu juga dikatakan Zaskia, pedagang sosis, yang mengaku sistem pembayaran digital sudah jadi bagian dari rutinitas dagangnya. Bukan lagi hal aneh, apalagi sejak banyak pembeli, terutama anak muda, yang jarang membawa uang tunai saat jalan-jalan pagi.
Bagi Zaskia dan Elisa, QRIS bukan sekadar tren. Ia adalah alat bertahan hidup di tengah kebiasaan masyarakat yang makin jarang membawa dompet tebal berisi uang kertas.

Yang Penting Jualan Laku, soal Bank Biar Juragan yang Urus
Cerita berbeda datang dari Pasar Minggu. Di sudut pasar yang selalu padat itu, Aris berjualan teh poci, minuman hangat khas yang disukai pelanggan setianya. Aris termasuk pedagang yang baru saja mengenal transaksi QRIS.
Ketika ditanya soal bagaimana proses uang dari pembeli bisa sampai ke rekening, Aris hanya menggeleng pelan. Baginya, urusan teknis semacam itu bukan wilayahnya. “Juragan saya yang tahu, pak,” katanya singkat, sambil terus menuangkan teh panas ke gelas plastik pesanan pembeli.
Jawaban Aris ini justru menyingkap sisi lain dari cerita digitalisasi UMKM, bahwa tidak semua pelaku di lapangan paham betul mekanisme di baliknya. Ia hanya tahu satu hal, kode QRIS itu memudahkan pekerjaannya sehari-hari.
Soal bagaimana uang berpindah dari ponsel pembeli ke rekening pemilik usaha, biar jadi urusan atasannya. Justru di titik inilah pentingnya peran perbankan seperti Bank Jakarta, yang menyediakan sistem QRIS bagi pelaku usaha kecil sekaligus edukasi penggunaannya, agar pedagang di lapangan seperti Aris tidak perlu pusing dengan urusan teknis, cukup fokus berjualan.
Uang Ratusan Ribu untuk Beli Pecel Rp12 Ribu
Kembali ke CFD Bekasi, ada satu pedagang lagi yang punya cerita menarik soal betapa pentingnya QRIS bagi dagangan kecil. Cerita itu dari Suwardi, penjual pecel.
Bagi Suwardi, QRIS benar-benar jadi penyelamat di jam-jam sibuk pagi hari. Sebab menurutnya, banyak pembeli di CFD yang datang membawa uang pecahan besar, seratus ribu misalnya, padahal yang dibeli cuma sepiring pecel seharga Rp12 ribu. “Kalau dulu, bayangkan, Pak, harus keluar berapa lembar uang kembalian buat satu porsi begitu,” katanya sambil tersenyum.
Dengan QRIS, ia tak perlu lagi berpikir dari mana kembalian Rp88 ribu harus didapat di tengah antrean pembeli yang mengular. Kini, satu ketukan kode, transaksi selesai, dan Suwardi bisa segera melayani pembeli berikutnya tanpa harus sibuk menghitung recehan.
Di Balik Kode QR, Ada Peran Bank Jakarta
Cerita Elisa, Zaskia, Aris, dan Suwardi bukan kebetulan belaka. Data dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) DKI Jakarta menunjukkan, pelaku UMKM justru mendominasi penggunaan QRIS di Ibu Kota, dengan porsi mencapai 75,22 persen dari total 6,1 juta pengguna QRIS di Jakarta sepanjang 2025. Bahkan, lebih dari sepertiga volume transaksi QRIS se-Indonesia, sekitar 36 persen, tercatat berasal dari Jakarta saja.
Kepala KPw BI DKI Jakarta Iwan Setiawan menyebut, fenomena ini sebagai bukti bahwa QRIS bukan cuma milik gerai-gerai mewah di mal. Ia menyebut, banyak pedagang gerobak yang kini menggunakan QRIS, menandakan sistem pembayaran itu inklusif hingga ke pedagang kecil.
Di balik pertumbuhan ini, ada peran bank daerah milik Pemerintah Provinsi Jakarta yang sejak Juni 2025 resmi berganti nama dari Bank DKI menjadi Bank Jakarta.
Bukan sekadar ganti logo, rebranding itu menjadi penanda transformasi menyeluruh, mulai dari penguatan tata kelola, modernisasi teknologi, hingga percepatan digitalisasi layanan bagi masyarakat, termasuk pedagang kecil seperti Elisa dan kawan-kawan.
Bank Jakarta selama ini menjadi salah satu motor di balik digitalisasi pasar-pasar tradisional lewat program bertajuk SIAP QRIS, hasil kolaborasi dengan Perumda Pasar Jaya dan Bank Indonesia.
Program ini sudah menjangkau puluhan pasar di Jakarta, mulai dari Pasar Santa, Pasar Kedoya, Pasar Rumput, hingga Pasar Induk Kramat Jati, dengan pertumbuhan transaksi QRIS di lingkungan pasar yang tercatat melonjak hingga ratusan persen dalam setahun terakhir.
Lewat aplikasi JakOne Mobile dan JakOne Merchant, ribuan pedagang, dari kios pasar becek sampai gerobak kaki lima di pinggir jalan, kini bisa menerima pembayaran nontunai tanpa perlu mesin kasir mahal.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus Haryoto Widodo menegaskan, perubahan nama dan wajah baru ini mencerminkan komitmen yang lebih dalam ketimbang sekadar tampilan. Baginya, transformasi digital adalah cara bank ini hadir nyata dalam denyut ekonomi warga Jakarta, termasuk pedagang-pedagang kecil yang selama ini jadi tulang punggung perputaran uang di pasar dan trotoar kota.
Dengan kata lain, ketika Elisa tak lagi pusing mencari recehan, atau Suwardi bisa melayani pembeli tanpa menghitung kembalian belasan ribu rupiah, di sanalah kerja panjang sinergi antara regulator, bank daerah, dan pengelola pasar benar-benar dirasakan langsung oleh rakyat kecil.
Digitalisasi yang Tumbuh dari Bawah
Dari kupat tahu Elisa, sosis bakar Zaskia, teh poci Aris, hingga pecel Suwardi, satu benang merah terlihat jelas bahwa digitalisasi transaksi bukan lagi milik toko besar atau kafe kekinian di mal. Ia sudah menyentuh gerobak kecil di pinggir jalan, di CFD, di dekat stasiun, di sudut-sudut pasar tradisional.
Kehadiran layanan QRIS yang difasilitasi perbankan daerah seperti Bank Jakarta menjadi salah satu kunci di balik perubahan ini. Bukan sekadar soal teknologi canggih, tapi soal hal yang jauh lebih sederhana bagi pedagang kecil, yakni tidak perlu pusing cari kembalian, transaksi lebih cepat, dan uang lebih aman tersimpan di rekening ketimbang di kantong celana.
Bagi Elisa, Zaskia, Aris, dan Suwardi, kode kotak-kotak hitam putih itu bukan sekadar simbol teknologi. Ia adalah cara baru bertahan hidup, cara baru berdagang, dan yang paling penting, cara baru agar dagangan tetap laku tanpa harus direpotkan oleh urusan recehan setiap pagi.
Dan begitulah, di antara asap gorengan dan aroma teh yang mengepul, sebuah revolusi kecil sedang berlangsung, senyap tapi nyata, membawa pedagang kaki lima Jakarta dan sekitarnya melangkah satu kaki lebih dekat ke masa depan ekonomi digital. (djoko waluyo)


![[Gambar 4] Hari Anak Nasional 2026, Morinaga Ajak Orang Tua Rayakan Potensi Anak Lewat Dunia Generasi Platinum_ Door of Future – Advance Intelligence Lab](https://poskota.co/wp-content/uploads/2026/07/Gambar-4-Hari-Anak-Nasional-2026-Morinaga-Ajak-Orang-Tua-Rayakan-Potensi-Anak-Lewat-Dunia-Generasi-Platinum_-Door-of-Future-–-Advance-Intelligence-Lab-300x178.jpg)




Komentar