oleh

Anhar Gonggong Harap IndoNarator Dapat Mendidik Rakyat dan Menjaga Integritas

POSKOTA.CO – Sejarawan Anhar Gonggong menaruh harapan besar atas kehadiran IndoNarator sebagai lembaga yang bergerak di bidang riset kebijakan dan kajian publik. Menurutnya peranan ini senafas dengan apa yang dicita-citakan presiden Soekarno pasca kemerdekaan Indonesia.

Anhar menilai, kalau Indonesia 1928 itu dijadikan spirit dasar, maka membumikan pendidikan politik rakyat harus dilakoni. Sebab yang menjadi persoalan dewasa ini, katanya, pudarnya peranan organisasi politik, seperti partai, dalam menjalankan fungsi edukasi.

“Pertanyaan saya sekarang adakah partai mendidik rakyat. Kan itu persoalannya. Hal ini yang harus dipikirkan. Kalau bisa anda punya organisasi harus mendidik rakyat. Nah sekarang, pesan saya, IndoNarator tolong Didik rakyat sambil tetap mempertahankan integritas anda,” papar Anhar dalam Talk Show bertajuk Indonesia 1928, yang digagas IndoNarator, Kamis (24/03/2022).

Menurutnya fungsi edukasi ini bertujuan untuk memperbaiki mental ditengah kecenderungan perilaku korup di sebagian elite. Oleh karena itu, tegasnya, bagaimana pendidikan kita memberikan sistem tertentu yang bisa mengubah mentalnya.

Selanjutnya, Anhar juga mengingatkan kalau, orang-orang yang berjuang memerdekakan Indonesia adalah pemimpin yang mampu melampaui diri sendiri. Kontras dengan kondisi saat ini dimana rakyat terkesan diabaikan ketika politisi telah menang Pemilu.

Senafas dengan itu, ekonomi Rizal Ramli menegaskan bahwa saat ini kita terperangkap dalam narasi-narasi yang bersifat retorik, emosional, dan romantisme belaka. Perkara ini malah membuat Indonesia sulit tumbuh menjadi bangsa besar.

Jika nasionalisme yang digaungkan hari ini betul-betul bersandar pada cita-cita kemerdekaan, sambungannya, maka narasi yang muncul harusnya bersifat substantif, seperti isu keadilan dan kesejahteraan.

“Saya sependapat dengan pak Anhar Gonggong, bahwa kita ini karakter tidak punya. Selain kecerdasan, profesionalisme. Karakter juga penting.” Timpal Rizal

“Beban ini menyeret anak Indonesia turun ke bawah. Jadi tugas kita, kita harus potong ketiga beban itu. Karena tidak ada negara maju jika masih ada korupsi, tidak ada negara maju jika masih ada nepotisme. Perbedaan harus kita hargai, yang anti perbedaan tidak cocok karena kita negara Pancasila”, tekannya.

Pada kesempatan yang sama, senior Advisor IndoNarator Samsul Hadi, menyampaikan pengalaman dan amatannya yang diharapkan dapat menjadi dasar untuk program di masa mendatang. Menurutnya peristiwa 1928 bukan semata-mata hanya menyangkut sumpah pemuda.

Menurutnya setiap event penting dalam sejarah Indonesia, selalu berakhir dengan angka delapan. Peristiwa 1908 terkait dengan Budi Utomo, 1928 juga terdapat sumpah pemuda dan kongres kebudayaan pertama, hingga momentum 1968 dan 1998 tercatat sebagai tahun berakhirnya kekuasaan presiden Soekarno dan presiden Soeharto.

Selain itu, Pendiri Pusat Orientasi Rusia Indonesia (PORIN) Sunaryo N. Soenhadji juga menambahkan keterkaitan bahasa dan budaya. Baginya, mempelajari kosakata dan gramatikal saja tidak cukup untuk memahami budaya. Sedangkan seseorang yang mengetahui bahasa, maka besar kemungkinan dia akan mengetahui budaya.

“Tapi dengan adanya wacana Indonesia 1928 ini akan memperkaya wacana kalangan anak muda”, imbuhnya

Terakhir, Direktur Eksekutif IndoNarator Sekar Hapsari mengungkapkan bila masih terdapat banyak hal yang dipelajari oleh generasi muda dan diterapkan ke depannya. Baginya ini bukan sekadar urusan kontestasi 2024, melainkan untuk kepentingan jangka panjang generasi muda Indonesia.

“Ada satu hal yang sifatnya kasuistik dalam melihat bingkai kesatuan Indonesia saat ini. Dan itulah yang membuat kami merajut pulang bingkai tersebut dan membuat satu narasi dan narasi itu semoga kedepannya bermanfaat,” pungkas Sekar.(fatar/sir)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.