NAGOYA – Senyum Maulana Rifky Yavianda merekah seusai menyentuh dinding finish paling awal di final 100 meter gaya punggung S12 putra ajang Asian Para Games 2026 di Nagoya City General Gymnasium, Jepang, Selasa (20/10/2026). Namun, di balik kebahagiaan meraih emas keduanya di Nagoya, ada rindu yang tak bisa dia sembunyikan.
“Perasaannya senang sih, sama seperti yang kemarin. Cuman kayaknya makin kangen sama yang di rumah. Sedih,” ungkap Rifky. Kali ini istri dan anak semata wayangnya tidak ikut ke Jepang. Mereka hanya bisa menyaksikan perjuangan Rifky dari jauh. “Saya senang, tapi tetap rasanya ingin mereka di sini. Lebih kangen. Saya lebih ingin ketemu langsung. Kita sekarang kan hanya lewat video call,” tuturnya.
Rifky menyelesaikan lomba dengan catatan waktu 1 menit 3,07 detik. Catatan itu memecahkan rekor Asia milik perenang Jepang, Genki Saito (1:03,46), yang baru dibuat pada Mei 2026. Waktu Rifky juga lebih cepat dari rekor Asian Para Games miliknya sendiri, 1:03,55, yang dia cetak di Hangzhou tiga tahun lalu.
Persaingan di kolam berlangsung ketat. Saito yang turun di lintasan sebelah, finis di posisi kedua dengan selisih 0,69 detik (1:03,76). Perunggu diraih perenang Uzbekistan, Dmitriy Khorlin (1:05,77).
“Iya, betul. Seperti kemarin juga, 100 [meter gaya] bebas tipis,” kata Rifky soal selisih yang tipis dengan lawannya.
Emas ini menjadi yang kedua bagi Rifky di Nagoya, setelah sehari sebelumnya dia juga juara di nomor 100 meter gaya bebas. Begitu turun dari podium, Rifky langsung menghubungi keluarganya lewat video call. “Mereka senang. Ya, menjadi semangatnya terus,” ujarnya.
Meski kebahagiaannya terasa belum lengkap tanpa kehadiran mereka di tribun, Rifky memilih bersyukur. Ini adalah momennya untuk kembali mendulang medali emas di Asian Para Games. “Ya, lebih itulah. Tapi alhamdulillah, nggak apa, yang penting dapat kabar baiknya aja,” katanya.
Medali ini dia persembahkan untuk orang-orang tercinta di rumah. “Terutama ya istri dan anak saya, dan keluarga,” ucapnya. Buah hatinya kini baru berusia sepuluh bulan. Komunikasi lewat layar ponsel menjadi penawar rindu Rifky selama di Nagoya.
Status barunya sebagai suami dan ayah juga membuat Rifky merasakan tanggung jawab yang berbeda dibanding saat tampil di Hangzhou. “Sebenarnya dari Hangzhou waktunya lebih baik. Cuman bedanya sekarang, semenjak berkeluarga ini, tanggung jawab atau tekanannya saya lebih berasa,” ungkapnya.
Namun bagi Rifky, keluarga justru menjadi sumber kekuatan. “Kekuatan itu sih,” katanya singkat. Rifky mengaku sempat gugup saat tampil di nomor 100 meter gaya bebas sehari sebelumnya. Di nomor gaya punggung, dia memilih lebih menikmati perlombaan.
“Jujur, kalau berangkat dari sini sebenarnya target dari pelatih juga nggak ada. Untuk target diri sendiri itu ada. Cuman setelah sampai sini, lihat lawan-lawan, ya sempat deg-degan, paling gemetar juga kemarin di 100 bebas,” akunya.
Rekor Asia itu justru membuatnya ingin berlatih lebih keras. “Alhamdulillah. Itu membuat saya latihan lebih keras lagi, dan semoga bisa lebih tajam lagi,” ujarnya.
Di Asian Games 2022 di Hangzhou, Rifky membawa pulang 2 emas dan 1 perak. Di Nagoya, ia sudah menyamai jumlah emas itu, dan masih punya dua nomor lagi, yaitu 50 meter gaya bebas dan 100 meter gaya kupu-kupu. (dk/jo)







Komentar