oleh

Wujudkan Kampus Inklusif, Ukrida Jadi Tuan Rumah Sarasehan ULD LLDikti Wilayah III dan Luncurkan Inovasi Bahasa Isyarat

JAKARTA – Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) kembali menegaskan komitmennya sebagai pelopor pendidikan tinggi yang ramah dan setara bagi semua lapisan masyarakat. Sebagai wujud nyata komitmen tersebut, Ukrida menjadi tuan rumah pelaksanaan Sarasehan dan Sosialisasi Pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD) Perguruan Tinggi di lingkungan LLDikti Wilayah III, yang digelar di Auditorium Kampus 2 FKIK Ukrida, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Mengusung tema “Asesmen Modalitas Perguruan Tinggi yang Inklusif bagi Perguruan Tinggi di Lingkungan LLDikti Wilayah III”, forum strategis ini menghadirkan tokoh-tokoh penting nasional, di antaranya Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Stella Christie, Ph.D., Kepala LLDikti Wilayah III Dr. Henry Tambunan, S.E., M.A., serta Komisioner Komisi Nasional Disabilitas (KND) Jonna Aman Damanik.

Hadirkan Satgas Disabilitas
Wakil Rektor III Bidang Pengembangan Akademik dan Inovasi Ukrida, Dr. Ir. Oki Sunardi, S.T., M.M., IPM, ASEAN Eng., menegaskan bahwa Ukrida terus berbenah dan berinovasi menciptakan lingkungan belajar tanpa diskriminasi. Ukrida tidak hanya membuka kesempatan kuliah setara bagi mahasiswa disabilitas, tetapi juga menghadirkan terobosan dalam kurikulum pembelajaran.

“Pada tahun 2026 ini, Ukrida resmi membentuk Unit Satuan Tugas (Satgas) khusus untuk mahasiswa-mahasiswi disabilitas. Tak hanya itu, salah satu langkah nyata kami adalah memasukkan materi Bahasa Isyarat sebagai salah satu mata kuliah wajib di Program Studi Kedokteran dan Ilmu Kesehatan,” ujar Dr. Oki Sunardi, dikutip dari rilis yang didapat POSKOTAONLINE.COM, Selasa (20/10/2026).

Langkah inovatif ini diharapkan menjadi jembatan komunikasi yang efektif antara calon tenaga medis dan pasien disabilitas di masa depan. “Kami ingin membangun kampus inklusif yang ramah dan terarah. Kita tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar dari para mahasiswa disabilitas melalui interaksi yang saling memberdayakan,” tambahnya.

Keberhasilan Ukrida dalam membangun ekosistem inklusif tercermin langsung dari hadirnya Agnes, mahasiswi Program Studi Sistem Informasi Ukrida angkatan 2024 yang merupakan penyandang disabilitas sensori tuli. Dalam testimoninya, Agnes menyampaikan betapa berharganya ruang perkembangan yang disediakan oleh Ukrida.

“Kuliah tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga tempat mengembangkan diri. Tuli bukan berarti tidak bisa berprestasi. Kami memiliki kemampuan lain yang terus dikembangkan hingga kelak dapat meraih gelar sarjana,” ungkap Agnes.

Ia juga menyuarakan harapannya agar pembelajaran di kampus dapat terus disajikan melalui berbagai modalitas media –selain suara, juga melalui teks tulisan dan bahasa isyarat– sehingga seluruh mahasiswa disabilitas dapat mengikuti perkuliahan dengan optimal.

Dorongan Kuat dari Kementerian
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Stella Christie menyoroti pentingnya melihat investasi pada disabilitas bukan sekadar masalah moralitas, melainkan kebutuhan mendasar bangsa untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

“Stephen Hawking adalah bukti nyata bahwa ilmuwan disabilitas mampu memberikan kontribusi sains luar biasa bagi dunia. Negara butuh talenta disabilitas yang mandiri dan berkualitas. Oleh karena itu, penyediaan akses, teknologi, serta asesmen kebutuhan yang tepat di perguruan tinggi adalah investasi negara yang sifatnya wajib,” tegas Wamendiktisaintek.

Sementara itu, Kepala LLDikti Wilayah III Dr. Henry Tambunan mengapresiasi keaktifan Ukrida dan mendorong kampus-kampus lain untuk segera menyusul. Dari sekitar 4.000 kampus di Indonesia, data Komnas Disabilitas mencatat baru sekitar 200 kampus yang menyatakan diri inklusif, dan hanya 26 Perguruan Tinggi yang telah resmi mendirikan Unit Layanan Disabilitas (ULD) — salah satunya adalah Ukrida.

Komisioner KND Jonna Aman Damanik menggarisbawahi bahwa pembentukan ULD adalah mandat kebijakan yang wajib dijalankan oleh setiap perguruan tinggi demi mewujudkan kesetaraan pendidikan bagi seluruh warga negara tanpa terkecuali.

Melalui penyelenggaraan sarasehan di Ukrida ini, diharapkan lahir langkah-langkah aplikatif yang dapat segera diterapkan oleh perguruan tinggi swasta maupun negeri di Indonesia, menjadikan pendidikan inklusif bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang berdampak. (*/dk)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *