oleh

Keracunan Makanan? Berikut Panduan Penanganan dan Pencegahannya dari Dokter RS Sari Asih Bintaro

TANGERANG SELATAN – Keracunan makanan kerap kali dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa yang dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, kondisi tersebut perlu diwaspadai, terutama jika muntah dan diare terjadi berulang karena dapat menyebabkan dehidrasi.

Dokter RS Sari Asih Bintaro, dr. Muhammad Fadil mengatakan, keracunan makanan patut dicurigai ketika keluhan pada saluran pencernaan muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman tertentu.

“Gejala yang paling sering muncul adalah mual, muntah, diare, kram atau nyeri perut, dan pada sebagian kasus dapat disertai demam. Tingkat keparahannya dapat berbeda pada setiap orang,” ujar Muhammad Fadil, dalam keterangan yang didapat POSKOTAONLINE.COM, Selasa (15/9/2026).

Menurut Fadil, muntah dan diare yang terjadi berulang dapat membuat tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit. Kondisi ini berisiko menyebabkan dehidrasi, terutama pada anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu.

Pada kasus ringan, penanganan utama dapat dilakukan dengan memastikan tubuh memperoleh cukup cairan secara bertahap. Larutan oralit dapat digunakan untuk membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare.

Fadil juga mengingatkan, agar pasien tidak memaksakan diri mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak ketika masih mengalami mual. Asupan cairan menjadi hal yang lebih penting pada tahap awal. “Yang lebih penting adalah menjaga asupan cairan. Setelah kondisi mulai membaik, makanan bisa diberikan kembali secara bertahap,” katanya.

Ia juga mengimbau masyarakat tidak mengonsumsi antibiotik secara sembarangan. Sebab, tidak semua penyakit akibat makanan disebabkan oleh bakteri dan tidak seluruh kasus membutuhkan antibiotik.

Pertolongan medis perlu segera dicari apabila muntah atau diare berlangsung terus-menerus, tubuh terasa sangat lemas, pasien kesulitan minum, mengalami nyeri perut hebat, buang air besar berdarah, atau demam tinggi. “Jangan menunggu sampai semakin lemas. Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan,” tegas Fadil.

Fadil menjelaskan, penyakit akibat makanan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari bakteri seperti Salmonella, Campylobacter, dan E. coli, hingga virus, parasit, maupun zat kimia berbahaya.

Kontaminasi dapat terjadi sejak proses produksi, pengolahan, penyimpanan hingga penyajian makanan. Risiko tersebut juga dapat meningkat akibat kontaminasi silang antara bahan makanan mentah dan makanan yang sudah matang.

Karena itu, pencegahan menjadi langkah penting untuk menghindari keracunan makanan. Mengacu pada panduan Five Keys to Safer Food dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), masyarakat dianjurkan menjaga kebersihan, memisahkan makanan mentah dan matang, serta memasak makanan hingga matang sempurna.

Selain itu, makanan yang mudah rusak perlu disimpan pada suhu yang aman. Masyarakat juga dianjurkan menggunakan air dan bahan pangan yang aman, termasuk memperhatikan kualitas bahan serta tanggal kedaluwarsa.

“Pencegahan sebenarnya dimulai dari hal sederhana, yaitu menjaga kebersihan, mengolah makanan dengan benar dan menyimpan makanan secara aman. Kalau sudah muncul gejala berat, segera cari pertolongan medis,” pungkas Fadil. (*/imam)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *