JAKARTA – Sebuah rekor pelayanan kesehatan pecah di tengah momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-58 Pusrehabkesan Kemhan. Rumah Sakit Pusat Pertahanan Negara (RSPPN) mencatatkan lonjakan kunjungan pasien hingga lebih dari 100 persen dalam setahun terakhir. Sinyal kuat bahwa kepercayaan publik terhadap institusi medis pertahanan negara ini tengah berada di titik tertinggi.
”Pada pertengahan 2025, poliklinik kami melayani sekitar 800 sampai 1.000 pasien per hari. Hari ini, angka itu mendobrak lebih dari 2.000 pasien setiap harinya,” ungkap Plt. Kepala Pusat Rehabilitasi Kesehatan Pertahanan (Kapusrehabkeshan) Kemhan
Brigadir Jenderal TNI dr. Sunaryo Kusumo, M.Kes., Sp.OT., Subsp.P.L. (K), saat sesi jumpa pers usai melepas Fun Bike HUT ke-58 di Jakarta.
Brigjen Sunaryo menuturkan, angka 2.000 jiwa per hari ini bukan sekadar deretan statistik mati. Di dalamnya ada detak jantung manusia, ada ribuan harapan kesembuhan, dan kepercayaan penuh dari masyarakat jelata hingga personel pertahanan yang berhasil dirawat oleh tangan-tangan dingin tim medis RSPPN.
Robotik Medis hingga Duet DSA dan Stem Cell
Mengapa masyarakat berbondong-bondong datang? Jawabannya, kata dr. Sunaryo, ada pada keberanian RSPPN mengadopsi lompatan teknologi medis mutakhir.
Layanan Digital Subtraction Angiography (DSA) yang dipelopori oleh Prof. Terawan di rumah sakit ini terbukti menjadi magnet utama bagi pasien yang membutuhkan penanganan stroke dan pembuluh darah tingkat lanjut. Tak puas sampai di situ, RSPPN juga membuka layanan stem cell (sel punca) yang pertumbuhannya berjalan sangat progresif.
Menatap masa depan teknologi medis modern yang tak lepas dari kecerdasan buatan (AI), Kapusrehab membocorkan strategi besarnya tahun ini. “Tahun ini, sejumlah perangkat robotik akan tiba di rumah sakit kami. Targetnya jelas, kami siap mengeksekusi operasi-operasi berbasis robotik,” tegasnya secara lugas.
Namun, RSPPN tidak melupakan akar budaya bangsa. Di lantai 5 bangunan megah ini, mereka mendirikan Traditional Indonesia-China Medicine (TICM). Sebuah pusat integrasi herbal lokal dan pengobatan alternatif (seperti akupunktur dan tuina) yang dikembangkan langsung lewat kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM). Di Indonesia, pusat medis hibrida yang memadukan teknologi barat dan timur secara resmi baru ada dua: di UGM dan di RSPPN Kemhan.
Memutus Monopoli Stem Cell Mahal
Selama ini, terapi stem cell selalu diidentikkan dengan pengobatan kaum elite berkantong tebal karena biayanya yang selangit. Menjawab tantangan dari Harian Pos Kota terkait isu biaya tersebut, Kapusrehab memberikan jawaban yang menyentuh esensi tertinggi dari nasionalisme dan kemanusiaan.
”Saat ini kami memang masih bekerja sama dengan lab luar dan mengikuti regulasi harga asosiasi. Tapi mimpi besar kami tidak di sana. Kami sedang menyiapkan pembangunan laboratorium stem cell mandiri di sini,” ujarnya.
Rencana ini menjadi tamparan bagi komersialisasi medis: jika lab mandiri ini berdiri, rantai biaya produksi bisa dipangkas signifikan. Hasilnya? Terapi stem cell yang tadinya eksklusif akan berubah menjadi pelayanan yang ramah kantong bagi masyarakat kecil. Sebuah bukti nyata bahwa negara hadir untuk menyembuhkan rakyatnya tanpa pandang bulu.
Sinergi Akar Rumput dan Penyembuhan Alam
Keberhasilan memikat hati 2.000 pasien per hari ini tidak lepas dari tema besar yang diusung: “Bersama, Solid, Peduli, dan Mengabdi”. Pagi itu, soliditas bukan sekadar slogan. Di samping Kapusrehab, berdiri kompak jajaran elite kesehatan nasional: Kapuskes TNI, para Kapuskes tiga matra angkatan (AD, AL, AU), Kapusdokkes Polri, hingga perwakilan BPJS dan NGO. Mereka berikrar menyatukan komando untuk menaikkan derajat kesehatan rakyat hingga ke pelosok daerah.
Sebelum selebrasi hari ini dimulai, denyut kepedulian sosial lebih dulu diketuk. Melalui aksi nyata di pesisir Tanjung Pasir, seluruh komponen kesehatan ini tidak hanya membagikan kacamata gratis dan sembako bagi warga tak mampu, melainkan turun langsung memungut sampah di sepanjang pantai dan menanam 1.000 pohon mangrove.
Pusrehab Kemhan kini telah bertransformasi secara dinamis. Ia bukan lagi sekadar barak rehabilitasi fisik militer, melainkan sebuah benteng kemanusiaan modern yang tajam melihat teknologi, namun tetap meletakkan jantungnya pada keselamatan dan kesembuhan rakyat Indonesia. (aga/fs)







Komentar