oleh

Simak Cara Cerdas Atur Penggunaan Gadget pada Anak Usia Dini

JAKARTA-“Ternyata penggunaan gadget itu tidak hanya oleh ayah, bunda, remaja, atau bakan lansia, karena anak-anak usia dini ini juga sudah sangat terpapar dan juga banyak yang mengalami adiksi untuk menggunakan gadget,” terang Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak dr. Irma Ardiana, MAPS pada saat membuka acara Kelas Orang Tua Hebat (Kerabat) Seri 8 Tahun 2024 yang disiarkan langsung pada Youtube BKKBNOfficial pada Rabu (29/08/2024).

Irma menjelaskan bahwa anak usia dini adalah anak yang berusia 0 – 6 tahun.

“Jadi kita akan membahas di Kerabat Seri 8 bagaimana caranya mencegah dan juga menangani anak-anak kita yang sudah keburu kecanduan dengan penggunaan gadget,” tambahnya.

Sementara itu, Psikolog dari PP HIMPSI Anrilla E M Ningdyah, PH.D. yang menjadi narasumber dalam acara tersebut memaparkan hasil studi NeuroSensum Indonesia Consumers Trend 2021: Social Media Impact on Kids.

“92% anak-anak dari rumah tangga berpenghasilan rendah mengenal media sosial lebih dini, 54% di antaranya diperkenalkan ke media sosial sebelum mereka berusia 6 tahun,” jelasnya.

Saat ini anak- anak usia dini 0 – 6 tahun masuk ke dalam Generasi Alpha. Menurut Anrilla karakteristik Generasi Alpha sangat menyukai konten-konten audio visual, mereka bahkan bisa memiliki jaringan relasi sosial yang lebih luas karena penggunaan teknologi digital tersebut.

“Putra-putri kita yang generasi Alpha ini sudah sadar pada isu-isu Global mereka sudah bisa bicara tentang keadilan, mereka sudah bicara bisa bicara tentang kesehatan mental,”

Menurutnya gadget adalah bentuk teknologi digital yang praktis dan mudah dibawa sehingga mudah digunakan bagi anak-anak usia sekolah bahkan usia dini seperti misalnya tablet dan _smartphone_. Gadget memudahkan siswa untuk belajar dan mengakses materi dengan hobi dan minat mereka yang tidak didapat oleh generasi sebelumnya.

Namun menurut Anrilla sebenarnya pada anak usia dini masih membutuhkan aktivitas langsung tanpa menggunakan gadget untuk pertumbuhan dan perkembangannya.

“Sesungguhnya pengasuhan anak usia dini di 0 sampai 6 tahun masih jauh lebih banyak yang membutuhkan penanganan berupa aktivitas-aktivitas langsung dibandingkan yang bisa dipindahkan kedalam gadget putra putri kita,”

Dampak Penggunaan Teknologi Digital

Ia menjelaskan dampak penggunaan teknologi digital pada anak diantaranya terhadap kesehatan mental: tingkat depresi lebih tinggi muncul setelah penggunaan media sosial di atas 3 atau 4 jam per hari, termasuk peningkatan resiko _cyberbullying_, ketergantungan, dan pemborosan waktu/_time drain_.

“Kemudian muncul penyakit yang dipicu oleh _screen time_ terlalu lama yaitu _tics_ and _Tourette syndrome_, menurunnya keamanan pribadi dan kerahasiaan/_privacy_, Penyalahgunaan data-data pribadi, serta menjadi target berlebihan bagi iklan-iklan, mendorong perilaku  konsumtif dan _impulsive buying_,” imbuhnya.

Oleh karena itu ia menegaskan perlunya mencegah sejak dini dengan menerapkan _digital parenting_.

“Kita mengelola secara cerdas (penggunaan teknologi) itu adalah yang efektif dan yang efektif itu yang sudah terbukti keberhasilannya salah satu konsep yang harus kita pelajari adalah dengan pola pengasuhan digital atau _digital parenting_ itu prinsipnya tiga saja, gampang sekali untuk diingat, pahami, dukung dan kemudian atur aktivitas anak-anak,”

Dalam ‘memahami’ menurutnya pertama harus dimulai dari diri orang tuanya sendiri dengan menolak pandangan bahwa kita menggunakan gadget untuk membuat kita menjadi lebih mudah menyelesaikan pekerjaan dengan memberikan anak gadget untuk bisa ‘anteng’. Orang tua perlu mengevaluasi dan memastikan penggunaan tepat teknologi digital bagi dirinya sendiri dahulu, sebelum membantu anak-anak. Penggunaan yang tepat dapat menunjang kesehatan mental. Terakhir pahami fondasi kesehatan mental.

“Fondasi Kesehatan mental diantaranya pola tidur cukup, aktivitas fisik dengan tetap aktif bergerak minimal 60 menit perhari, asupan nutrisi yang cukup, berikan dan dapatkan dukungan sosial, membuat batasan antara rumah dan kantor seperti menghindari bekerja di tempat tidur,”

Pada pola asuh digital selanjutnya adalah ‘dukung’. Anak-anak usia dini menurut Anrilla membutuhkan stimulasi-stimulasi langsung untuk memiliki fungsi eksekutif yaitu sekelompok proses mental dan kemampuan kognitif kompleks yang mengatur ketrampilan untuk melakukan perilaku mencapai tujuan. Pada anak pra-sekolah diantaranya fokus dan perhatian, paham dan ingat instruksi, kontrol diri, organisasi dan prioritas, serta pengaturan emosi.

“Fungsi eksekutif dapat diajarkan, dilatih, dan dikembangkan. Syaratnya adalah berikan kesempatan dan pengalaman melalui asah, asih dan asuh,” imbuhnya.

Yang terakhir yaitu ‘Atur’ (Batasi, Kelola, Arahkan). Waktu, durasi dan frekuensi bisa menggunakan aplikasi _parental monitoring/control_, mesin akses dan isi/_content_, membuat kebijakan dan kontrak penggunaan dengan anak seperti batasan waktu mengunakan gadget sedari awal, memberi pengertian lalu barulah memberikan fasilitas.

Bagaimana Sikap Orangtua

Selain itu pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum Persit Kartika Chandra Kirana Susi Tandyo Budijuga menjelaskan bagaimana seharusnya sikap orang tua dalam menghadapi penggunaaan teknologi pada usia dini.

“Sebagai orang tua kita bisa mulai dengan membatasi penggunaan waktu bermain gadget dan memilih program yang baik bagi tubuh kembang anak, program yang harus diberikan jika ada tersebut disesuaikan dengan anak seperti pengenalan warna, bentuk, suara, kita di sini bukan melihat gadgetnya tetapi di gadget tersebut dijadikan sarana edukasi saja. Tetapi bagaimana tugas kita sebagai orang tua untuk bisa memberikan bimbingan pendampingan kepada tumbuh kembang putra-putri tercinta,”

Pada acara tersebut juga terdapat paparan dari Kader Bina Keluarga Balita Terbaik salah satunya berasal dari Mimosa, Kelurahan Wamena, Papua, Asmarilla Yulianti. Ia telah membuat inovasi permainan sejenis monopoli untuk mencegah anak kecanduan gadget.

“Dalam permainan monopoli ini ketika ada dadu di mainkan dan kita di bidak-bidaknya itu di kelompok itu biasanya kalau monopoli itu kanberjualan tetapi ini saya ubah jadi seperti kertas kecil kotak-kotak begitu kita susun seperti monopoli tersebut, dan disitu saya tulis sesuai dengan Acuan KKA (kartu kembang anak) dari sesuai dengan umur misalnya dapat nomor satu di situ menyanyi misalnya. Si anak bisa menyanyikan lagu, atau pada saat itu dia jatuh di bidaknya bercerita anak itu bisa bercerita. Jadi seperti itu harapan saya ketika mereka bermain ada komunikasi antara bapak, ibu dan anak. Jadi bermain sambil belajar bisa mengalihkan permainan tidak hanya ada di gadget saja,” jelasnya. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *