JAKARTA – Setelah tidak lagi menyandang nama Daerah Khusus Ibukota (DKI), sebutan Jakarta menjadi ‘Betawi Raya’ dinilai lebih tepat, dibanding Daerah Khusus Jakarta (DKJ). Pasalnya, daerah yang kini berkembang menjadi megapolitan dengan latar belakang penduduk yang multi etnis ini merupakan asal muasal lahirnya kaum Betawi.
“Nama Betawi Raya lebih pas dibanding DKJ, sebagai bentuk penghargaan terhadap penduduk asli,” kata Sekretaris Jenderal Badan Musyawarah (Bamus) Betawi, Tahyudin Aditya di Jakarta, Sabtu (23/3). Hal itu juga sudah disampaikan oleh Tahyudin saat ia menjadi narasumber di acara Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Fraksi Partai Nasdem DPR RI pada Kamis (21/3) lalu di Gedung Nusantara I DPR RI Senayan.
Menurut sejarah berdirinya kota Jakarta, kata Tahyudin, sudah 13 kali berganti nama. “Mulai dari nama Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia dan nama-nama Jakarta lainnya, namun dari belasan kali ganti nama, tidak pernah melibatkan masyarakat inti Betawi. Jadi sebagai bentuk kado terindah Jakarta, tepat rasanya kalau DKJ diganti menjadi Betawi Raya,” ujar Tahyudin.
Tahyudin Aditya, juga menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada Fraksi NasDem DPR RI, yang telah memberikan ruang sebagai narasumber di acara FGD dengan tema ‘Mempertaruhkan Kedaulatan Rakyat pada Daerah Khusus Jakarta (DKJ)’. Kegiatan digelar merupakan bagian dari komitmen bersama Nasdem dan Masyarakat Betawi, untuk kemajuan Jakarta ke depan.
Sedikitnya ada empat usulan yang disampaikan Bamus Betawi untuk diperjuangkan oleh wakil rakyat. “Pertama adalah Partisipasi dalam Proses Pengambilan Keputusan. Jadi, masyarakat inti kaum Betawi harus aktif terlibat dalam proses pengambilan keputusan terkait perubahan status Ibukota. Kaum Betawi harus menyuarakan pendapat, aspirasi, dan kebutuhan mereka kepada para pemangku kepentingan,” paparnya.
Kedua adalah Mengawasi Implementasi Kebijakan. “Masyarakat Betawi harus mengawasi implementasi kebijakan dan program yang dilakukan oleh pemerintah, khususnya Pemprov DKI Jakarta dan dilibatkan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Usulan ketiga yaitu Mempromosikan Identitas Budaya Betawi yakni mempromosikan identitas budaya Betawi sebagai bagian dari warisan budaya Jakarta yang kaya. Mereka dapat mengadakan acara-acara budaya, pertunjukan seni tradisional, dan festival yang memperkuat kesadaran akan warisan budaya,” bebernya.
Keempat adalah Pemberdayaan Ekonomi Lokal. “Kaum Betawi dapat berperan dalam pemberdayaan ekonomi dengan menonjolkan produk dan jasa khas Betawi. Dengan demikian, mereka dapat berkontribusi dalam pembangunan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Semoga diskusi ini dapat memberikan manfaat dan masukan dalam upaya kita bersama memajukan Jakarta dan meningkatkan eksistensi dan kesejahteraan masyarakat Betawi,” pungkasnya. (jo)







Komentar