
POSKOTA.CO – Gelap malam pukul 2 pagi cukup pekat, bunyi pagar di dorong memecah heningnya malam. Suaranya cukup keras sehingga membangunkan lelap tidur Mbak Dewi. Ia sibak sedikit tirai jendela dengan tangan kanannya, wajahnya ia dekatkan ke jendela dan matanya melihat mbakyunya .
Terpaku karena mbakyunya berpamitan dengan sang pengantar dengan cara berpelukan dan bibir yang saling mengulum. Mbak Dewi segera menutup kembali tirai putih yang ia sibak. Matanya jatuh kepada Diana yang sedang tidur nyenyak. Kasihan…bisik hatinya kepada keponakannya. Angan Diana sejak kecil adalah ingin bertemu dengan mamanya dan mendapat pelukan cinta yang hangat! Mimpi Diana tentang ibunya adalah mimpi indah, tetapi ketika bangun keponakannya harus menghadapi sebuah realita buruk.
Mbak Retno langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya. Mbak Dewi memilih kembali tidur walau pikirannya belum bisa melupakan kejadian yang barusan ia lihat dan alami. Ibunya benar, kakaknya mempunyai gaya hidup yang semakin jauh dari “jangkauan”. Sedih dan prihatin melihat kehidupan kakaknya, anugerah kecantikan yang ada dalam diri kakaknya telah disalah gunakan….
Geliat pagi sudah dimulai ketika jam menunjuk pada pukul 5 pagi. Mbak Dewi dan Diana bangun untuk menyiapkan sarapan serta beres-beres rumah. Ajeng dan Asih di suruh segera mandi agar bisa sarapan dengan tenang tidak terburu-buru.
” tante…biasanya Ajeng dan asih bikin sarapan sendiri kog”
” ahhh…..gak apa-apa, sesekali tante pengin manjain ponakannya”
” makasih tante Dewi, senengnya kalau tante tinggal disini”
” tante juga seneng disini Jeng, tetapi Eyang di Yogya kasihan kalau harus tinggal sendirian”
Diana menyapu ruang tamu, dilihatnya kamar tidur ibunya masih gelap dan terkunci rapat. Ibunya mungkin masih mengantuk, Diana tak ingin mengganggu. Adik-adiknya sangat mandiri dan baik, menyiapkan segala sesuatuanya sendiri. Kegiatan pagi mereka tidak jauh dari dirinya. Yang membedakan, mereka tidak menimba air seperti dirinya di pagi hari sebelum pergi sekolah.
Sarapan sederhana, mie goreng, telur dadar dan segelas teh manis. Ajeng dan Asih senang ketika diberi kemanjaan oleh Tante Dewi dan Diana.
” Mbak Ajeng….seneng yaaa kalau setiap pagi bisa seperti ini”
” iya Dik Asih, kita seperti putri raja, tinggal bangun, mandi dan berdandan….semua sudah tersedia di meja”
Ajeng dan asih bercerita kepada kakaknya kalau setiap pagi mereka berdua harus mengurus segala sesuatunya sendiri. Menurut Diana ini cara mendidik yang baik, adiknya sudah SMP, sudah bukan anak kecil yang butuh disuapi lagi. Toh nanti meteka brrtiga, pekerjaan akan menjadi semakin ringan di rumah ini.
Mama Retno bangun, keluar dari kamarnya dengan santai. Memberikan uang sangu kepada Ajeng dan asih. Menyapa Mbak Dewi dan Diana dengan mesra sambil mengelus rambut anaknya yang cantik.
” Diana, selesai memasak kita pergi mencari sekolah yaaa…sekitar jam 11 an deh”
” iya ma, nanti Diana bantuin memasak biar cepat selesai. Ajarin juga Diana menggunakan mesin cuci nanti Diana saja yang mencuci pakaian”
” Mbak Retno, tidak usah repot-repot. Mbak belanja dan nanti Dewi yang memasak. Mbak konsentrasi mengurus sekolah Diana saja”
Mbak Retno sangat senang, hari ini banyak orang yang membantunya di rumah sehingga ia bisa meneruskan tidurnya sebentar lagi. Kantuk rasanya masih menggelayuti, Kencannya semalam dengan Doni menguras tenaganya!
(Bersamvbung WITA LEXIA )







Komentar