oleh

PURNAMA PRAMBANAN 23

prambanan-2POSKOTA.CO – Berangsur-angsur tetangga yang berdatangan di rumah Diana pulang ke rumah masing-masing. Bapak dan ibu sambung Diana sudah masuk ke rumah dan mulai tenang. Pak RT setempat cukup sigap melerai masalah keluarga warganya.

Di gubug Mbok Wongso, juga sudah lengang. Ibu-ibu serta anak-anak kecil yang pengin tahu keadaan Diana sudah bubar. Terakhir Pak RT ke rumah Mbok Wongso untuk meminjamkan kasur busa tipis dan bantal, agar Mbok Wongso bisa menjaga Diana dengan tidur di bawah bilik bambu miliknya.

Jika ada sebuah kejadian di kampung, pikiran masyarakat terbelah pendapatnya maupun pandangannya adalah hal biasa. Sebagian membenarkan tindakan Ayah Diana dan sebagian lain menyalahkan tindakan kejam ayah Diana. Mereka berbicara dengan argumen dan pembenaran masing-masing.

Mbok Wongso tidak peduli omongan orang-orang pinter di Kampungnya. Dalam benaknya yang sederhana saat ini, bagaimana doa dan tangannya bisa menyembuhkan bilur-bilur di sekujur tubuh orang yang dia kasihi.

Semalaman Diana mengerang karena sakit di sekujur tubuhnya. Mbok Wongso berencana esok pagi pengin minta tolong Pak RT untuk memintakan obat anti sakit ke dokter atau Puskesmas. Wanita tua ini tidak tega melihat erangan Diana sepanjang malam.

” mbok…simbok…aku haus, minta air putih ya mbok”

Untuk sekedar minumpun Diana menemui kendala, dia susah bangun dan bibirnya yang pecah terasa perih. Tubuhnya dari ujung rambut hingga telapak kaki rasanya sakit semua! Diana membutuhkan sedotan agar tidak perlu bangun untuk minum.

Mbok Wongso memikirkan dan mencatat beberapa keperluan Diana ke dalam pikirannya, ia coba mengingat-ingat kebutuhan Diana melalui pikirnya yang sederhana dan mulai pikun! Wanita tua ini juga berencana membuatkan bubur agar Diana lebih mudah makan. Yah…bubur sederhana dengan garam, daun salam dan daun pandan sebagai bumbunya.

Memberikan cinta disaat ia sendiri butuh dicintai. Memberi kasih dimana dia sendiri butuh dikasihi. Memberi pertolongan pada hal dia sendiri butuh pertolongan! Mbok Wongso memberikan semuanya dalam segala keterbatasan yang melekat pada dirinya!

Erangan Diana dalam kesakitan juga menjadi pikirannya bergulat. Pertanyaan antara sadar dan tidak yang keluar dari mulut Diana yang berdarah membuatnya dilematis. Aku katakan tidak tentang eyang dan tantenya yang tinggal di Yogya….yang tentu tahu soal keberadaan ibu kandung Diana?

Mata tua Mbok Wongso terpejam di samping Diana tetapi ia tidak bisa tidur. Dirinya tahu terlalu banyak tentang hidup serta kehidupan keluarga Diana. Prawan kencur ini tidak banyak pilihan dalam hidupnya. Maju mundur samping kiri dan kanan serba tidak enak. Namun Diana berhak tahu siapa dan seperti apa ibu kandungnya. Ini yang ada dalam benak sederhananya.

Biarlah nanti Diana yang menentukan dan memilih hidupnya akan bersama siapa. Yang penting pilihannya bukan atas dasar cerita si A atau si B tetapi atas dasar rasa atau kenyamanan yang dia rasakan.

” ibu…ibu…ibuku dimana mbok?” Diana mengigau atau bertanya Mbok Wongso sudah terlalu mengantuk waktu mendengar. (Bersambung…)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *