oleh

KNKT Rekomendasikan Truk Trailer Pasang Bumper Belakang

POSKOTA.CO – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merekomendasikan pemasangan alat tambahan pada bumper belakang truk trailer dan tronton atau disebut perisai untuk mencegah mobil kecil tergelincir ke kolong mobil besar.

Berdasarkan data dari Insurance Institute for Highway Safety, jumlah kendaraan yang mengalami kecelakaan akibat tabrak belakang sangat tinggi dengan jumlah kematian pada kendaraan kecil sebesar 97%.

Kejadian tabrak belakang di tol Cipali sekitar 37 kecelakaan setiap bulan.

Bumper belakang  alat ini disebut Rear Underran Protection (RUP) atau Perisai Kolong Belakang.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiyadi mengatakan

sebagai langkah tindaklanjut rekomendasi dari KNKT untuk meningkatkan aspek keselamatan bidang LLAJ, serta untuk menurunkan angka fatalitas akibat mobil kecil tabrak belakang mobil besar perlu dilakukan pemasangan RUP pada kendaraan bak muatan.

Dengan penambahan alat RUP ini Dirjen mengharapkan dapat meminimalisir dampak yang ditimbulkan pada saat tabrakan belakang dengan kendaraan kecil, sehingga kecelakaan tidak fatal.

Menurutnya, Direktur Jenderal Perhubungan Darat  telah mengeluarkan surat Nomor  AJ. 510/1/14/DRJD/2020 perihal himbauan pemasangan bumper belakang pada kendaraan bermotor jenis mobil barang bak muatan.

Di Eropa, hal ini telah diatur dalam UN Regulation 58.”Jadi ketika ada kejadian mobil kecil tergelincir atau menabrak bagian belakang truk besar, dia akan tertahan oleh alat ini (RUP), kemudian airbag akan mengembang, dan penumpang mobil kecil bisa selamat,” jelas Dirjen Budi.

Selain perisai kolong belakang, lanjutnya, ada juga stiker pemantul cahaya yang berfungsi membantu pengguna kendaraan di belakangnya terutama pada malam hari.

Namun dirinya mengungkapkan di pasaran banyak beredar stiker pemantul cahaya yang kualitasnya tidak sesuai standar.

Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menambahkan  kecelakaan di Tol Cipali sudah terlalu banyak, sehingga dengan pemasangan perisai kolong belakang diharapkan dapat mengurangi fatalitas akibat tabrak belakang.

“Di Tol Cipali, dalam sebulan rata-rata ada 36 kejadian yang tabrak belakang. Dan fatalitasnya, Jalan Tol Cipali itu enggak ada salahnya, cuma salahnya posisinya. Kalau orang dari Jawa Tengah, Jawa Timur, sampai Cipali sudah mengantuk, dari Jakarta macet sampai situ mengantuk,” kata Soerjanto. (d)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *