oleh

Delapan Entertainment Garap Film Begu Ganjang, Sebuah Foklor dari Sumatera Utara

JAKARTA – Delapan Entertainment Studios resmi mengumumkan produksi film layar lebar Begu Ganjang, sebuah film bergenre medical horror mystery yang mengangkat folklor Sumatera Utara.

Film ini diadaptasi dari novel Begu Ganjang karya dr. Ferdiriva Hamzah, memadukan dunia kedokteran, misteri, dan legenda lokal dalam sebuah cerita layar lebar.

“Delapan Entertainment Studios hadir dengan visi besar untuk memajukan lanskap kreatif ke skala yang lebih luas. Kami tidak hanya memosisikan diri sebagai rumah produksi, melainkan sebuah ekosistem integratif. Melalui kekuatan sinergi bersama 8 Management yang telah membentuk industri hiburan dan melahirkan talenta papan atas selama dua dekade,”ujar Rama Michael, Direktur Utama PT Delapan Entertainment Studios, dalam keterangannya, kemarin.

Rama Michael, yang telah berkiprah di industri hiburan sejak 2005, kini mengambil peran baru di balik layar. Setelah sekitar satu tahun hilang dari dunia akting, ia kembali sebagai pimpinan rumah produksi sekaligus mengawal film Begu Ganjang sebagai Executive Producer dan Producer.

Menghadirkan pendekatan berbeda dalam genre horor Indonesia, film Begu Ganjang memadukan dunia kedokteran modern dengan legenda supranatural yang mengakar dalam kepercayaan masyarakat Batak di Sumatera Utara.

Melalui genre medical horror mystery, film ini membawa teror Begu Ganjang ke dalam lingkungan rumah sakit, tempat ilmu pengetahuan dan keselamatan manusia seharusnya menjadi prioritas utama.

Perpaduan antara misteri medis, kekuatan supranatural, serta konflik psikologis menjadi daya tarik utama cerita yang tidak hanya mengandalkan ketegangan, tetapi juga menghadirkan pertentangan antara logika dan kepercayaan.

Diadaptasi dari novel Begu Ganjang karya dr. Ferdiriva Hamzah yang pertama kali diterbitkan pada 2017, film ini membawa karya sastra populer Indonesia ke medium layar lebar. Novel tersebut telah terjual lebih dari 50.000 eksemplar dan kini memasuki cetakan keempat.

Menariknya, latar belakang dr. Ferdiriva Hamzah sebagai seorang dokter turut menjadi nilai tersendiri dalam pengembangan cerita yang mempertemukan dunia medis dengan folklor lokal. Adaptasi ini sekaligus membuka peluang pengembangan ekosistem intellectual property (IP) Begu Ganjang yang lebih luas melalui berbagai medium kreatif.

Film Begu Ganjang mengisahkan Tobias (Tobi), seorang dokter muda yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan meyakini bahwa setiap fenomena mistis memiliki penjelasan medis.

Melalui konten edukasinya, Tobi bahkan aktif membantah berbagai kepercayaan mistis menggunakan pendekatan ilmiah. Namun, di balik keyakinannya tersebut, ia menyimpan trauma masa kecil akibat tragedi kebakaran yang merenggut kedua orang tuanya.

Kesempatan bekerja di Rumah Sakit Rotua membawa Tobi kembali ke tanah kelahirannya di Sumatera Utara, sekaligus mempertemukannya dengan masa lalu yang selama ini berusaha ia lupakan.

Keyakinan Tobi mulai terguncang ketika serangkaian kematian pasien secara misterius, kondisi medis yang sulit dijelaskan, serta kemunculan sosok mengerikan mulai menghantui Rumah Sakit Rotua.

Situasi semakin mencekam ketika Lena, kekasihnya yang merupakan dokter residen kejiwaan, turut menjadi korban teror tersebut. Demi menyelamatkan perempuan yang dicintainya, Tobi harus mengungkap misteri yang menghubungkan rumah sakit dengan legenda Begu Ganjang.

Ketika ilmu kedokteran tak lagi mampu menjelaskan segalanya, mampukah seorang dokter mempertahankan keyakinannya pada logika, atau justru harus menerima keberadaan sesuatu yang selama ini dianggapnya mustahil.

Disutradarai oleh Arwin Tri Wardhana, Film Begu Ganjang menghadirkan jajaran pemain lintas generasi, di antaranya Randy Pangalila, Nasya Marcella, Dwi Sasono, Alexandra Gottardo, Omara Esteghlal, Moudy Whilhelmina, hingga Mathias Muchus.(*/ta)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *