Oleh : Karsidi Diningrat
Pengakuan Ulama Yahudi dan Nashrani Tentang Kebenaran Islam
SEBAGIAN ulama Yahudi dan Nashrani yang berpegang teguh kepada kitab asli mereka meyakini dan menerima kebenaran Islam. Mereka menampakkan dan tidak menyembunyikan informasi tersebut, sebagaimana Allah berfirman, “… dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya …” (QS. Yusuf, 12: 26).
Orang Yahudi yang pertama kali masuk Islam, di zaman Rasulullah Saw., adalah Abdullah bin Salam. Ia telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a., “Ketika Abdullah bin Salam berjumpa dengan nabi di Madinah ia bertanya, ‘Aku menanyakan kepadamu tiga hal yang tidak diketahui orang kecuali ia seorang nabi. Pertama, apakah yang menjadi tanda datangnya kiamat? Kedua, apakah jenis makanan yang pertama kali dimakan oleh ahli surga? Ketiga, bagaimana seorang anak bisa mirip ibunya atau bapaknya? Ketika itu Nabi menjawab, ‘Baru saja Jibril a.s. memberi tahu tiga hal ini.’ Malaikat itu musuhnya orang Yahudi.’ Kata Abdullah bin Salam. Rasulullah melanjutkan perkataannya, ‘Tanda datangnya kiamat adalah terbentangnya api dari timur ke barat.
Dan makanan yang pertama disantap ahli surga adalah hati alhut (ikan hiu). Adapun masalah kemiripan seorang anak (dengan kedua orang tuanya), bila seorang laki-laki bersenggama dengan istrinya dan ia mengeluarkan sperma terlebih dahulu, maka anaknya kelak akan mirip ayahnya. Namun sebaliknya, jika istrinya mengeluarkan cairan (sel telur) terlebih dulu, maka anaknya kelak akan mirip ibunya’. Usai mendengar jawaban tersebut, Abdullah bin Salam berikrar, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Dialog Ja’far bin Abi Thalib dengan Raja Najasyi
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ketika Ja’far bin Abi Thalib bertemu dengan orang nomor satu di negeri Habasyah (Ethiopia), yaitu Raja Najasyi, terjadi dialog, setiap pertanyaan yang diajukan oleh Paduka Raja Najasyi, dijawab oleh Ja’far dan setiap jawaban Ja’far selalu Raja berkata, engkau Ja’far benar. Usai mendengar jawaban Ja’far tersebut, Raja Najasyi berkata kepada Ja’far, “Dapatkah Anda membacakan salah satu ayat yang diajarkan Allah kepada Nabi kalian?” Ja’far menjawab, “Tentu, dengan senang hati, wahai Paduka Raja.” Raja berkata, “Coba bacakan kepada saya.” Ja’far lalu membaca empat ayat pada permulaan surat Maryam, “Kaaf haa ‘ain shaad. Mengingat rahmat Rabbmu kepada hamba-Nya, Zakaria. (yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Dia (Zakaria) berdoa, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku sudah lemah, dan kepalaku sudah beruban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.’”
Usai menyimak lantunan ayat tersebut, Raja Najasyi tidak kuasa menahan haru tangisnya. Bulir-bulir air matanya membasahi jangkutnya dan pelupuk matanya sembab karena basah oleh air mata. Demikian halnya dengan para pendeta lainnya juga turut menangis sehingga kitab ditangan mereka basah demi mendengar Kalam Allah tersebut.
Raja Najasyi kemudian berkata, “Sesungguhnya, agama yang dibawa Nabi Tuan-tuan dan agama yang dibawa Nabi Isa berasal dari satu sumber.” (HR. Imam Ahmad).
Tatkala turun wahyu pertama, Rasulullah Saw. mengalami pengalaman ritual tidak terkirakan. Karenanya, Khadijah mengajak suami terkasihnya itu untuk menemui Waraqah bin Naufal bin Asad nin ‘Abdul ‘Uzaa, anak paman Khadijah (sepupunya). Waraqah adalah seorang yang menganut agama Nashrani pada masa Jahiliyah. Dia juga banyak menulis karya dengan tulisan Ibrani, termasuk tafsir Injil berbahasa Ibrani. Waraqah telah berusia renta dan buta.
Nabi menceritakan semua apa yang telah dialaminya ke hadapan Waraqah bin Naufal, dan ia memperhatikannya dengan penuh antusias. Setelah itu Waraqah berkata, “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya engkau adalah nabi untuk umat ini. Engkau telah didatangi Malaikat Jibril yang pernah datang kepada Musa. Dan kelak engkau akan didustakan, disakiti, diusir bahkan kamu akan diperangi oleh kaummu.” (HR. Bukhari).
Setiap Nabi Akan Dimusuhi Kaumnya
Nabi sangat terperanjat dengan apa yang dikatakan oleh Waraqah, karena beliau merasa disaat itu sangat dicintai oleh kaumnya. Beliau bertanya, “Apakah mungkin mereka akan mengusirku?” Jawab Waraqah dengan tegas, “Demi Allah. Setiap orang yang diangkat menjadi Nabi seperti kamu pasti dia akan dimusuhi dan diperangi oleh kaumnya. Jika aku masih hidup sewaktu kamu dimusuhi, pasti kamu akan kubela sekuatnya.’ (HR. Bukhari).
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwasanya Abu Sufyan bin Harb telah menceritakan kepada dirinya bahwa Raja Heraklius mengutus kepada orang-orangnya untuk mencari orang-orang Arab yang pada waktu itu sedang berada atau berdomisili di negeri Syam. Ketika orang-orang kerajaan itu meluncur ke negeri Syam, mereka mendapati rombongan kafilah yang datang dari Mekah untuk berniaga di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb (kala itu dia masih kafir).
Abu Sufyan dan rombongannya pun dipanggil untuk hadir ke Kota Iliat guna dipertemukan dengan Raja Heraklius dan anggota parlemennya. Pada pertemuan itu, Heraklius hadir bersama para pembesar imperium (kerajaan)nya. Turut pula top elite masyarakat Romawi pada masa itu. Heraklius memanggil seorang penerjemah untuk menterjemahkan dialog yang dilakukannya dengan sekelompok orang-orang Arab pimpinan Abu Sufyan.
Ada sebelas pertanyaan yang diajukan oleh Raja Heraklius kepada Abu Sufyan. Setelah semua pertanyaan diajukan dan dijawab Abu Sufyan. Heraklius lalu menjelaskan maksud dan tujuan dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya. Heraklius menjelaskan, “Aku bertanya kepadamu tentang nasab (garis keturunan)-nya di antara kalian seperti apa sejatinya nasabnya? Engkau menjawab bahwa dia memiliki nasab yang mulia, orang terpandang. Memang seperti itulah adanya para nabi yang diutus di tengah-tengah kaumnya. Mereka berasal dari nasab-nasab yang luhur.
Kemudian, aku menanyakan kepadamu tentang apa yang diperintahkan Muhammad kepada kalian. Engkau menjawab kalau dia memerintahkan untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang kalian untuk melalukan perbuatan syirik. Dia juga mengajak untuk melaksanakan ibadat shalat, zakat, puasa, bersikap jujur, sederhana, tidak gila dunia, serta menyambung silaturahmi.”
Raja Heraklius Tahu Akan Datangnya Nabi Muhammad
Heraklius lalu berkata kepada Abu Sufyan dan kawan-kawannya yang disaksikan seluruh petinggi kerajaannya, “Wahai Abu Sufyan, jika semua yang telah kau terangkan itu betul semuanya, dia akan memerintah sampai ke tempatku berpijak di kedua telapak kakiku ini. Sesungguhnya, aku telah tahu (ada ramalan) bahwa dia akan lahir. Namun, aku tidak mengira bahwa dia akan lahir dari klan anak bangsa di antara kalian. Sekiranya aku yakin akan dapat bertemu dengannya, walaupun dengan susah payah, aku akan berusaha datang menemuinya. Jika aku berhasil berada di dekatnya, aku akan mencuci kedua telapak kakinya. Seandainya aka tahu jalan menuju ke tempatnya, aku akan berusaha untuk bisa menuju tempatnya dan jika aku menemuinya, aku akan mencuci kedua kakinya.” (HR. Bukhari).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Seandainya Nabi Musa a.s diturunkan lalu mengikutinya dan meninggalkan aku, niscaya kalian sesat. Aku adalah bagian kalian dari para nabi, dan kalian adalah bagianku dari kalangan umat manusia.’ (HR. Baihaki dari Abdullah ibnu Haris). Dalam hadits yang lain disebutkan, “Seandainya Nabi Musa masih hidup di antara kalian, pasti tidak ada yang ia lakukan kecuali ikut padaku.” (HR. Ahmad).
Jangankan manusia biasa, bahkan seandainya Nabi Musa diikuti, lalu Nabi Muhammad Saw ditinggalkan, niscaya orang yang bersangkutan masih dikatakan sesat karena zaman sekarang adalah zamannya Nabi Muhammad Saw. dan semua orang yang ada padanya menjadi umatnya. Barang siapa yang mengikuti kepada selain Nabi Muhammad Saw, maka ia akan sesat.
Nabi Muhammad Diperbolehkan Memberi Syafaat
Juga dalam hadits yang lain dinyatakan, “Aku adalah penghulu anak Adam di hari kiamat, tanpa membanggakan diri, dan di tanganku terletak panji-panjian, tanpa membanggakan diri. Tiada seorang nabi pun di hari tersebut (hari kiamat) mulai dari Nabi Adam hinga nabi-nabi yang lainnya kecuali berada di bawah panjiku. Aku adalah orang pertama yang bumi terbelah karena aku keluar dari dalamnya, tanpa membanggakan diri, dan aku adalah orang pertama yang dapat memberi syafaat, serta aku adalah orang pertama yang diperbolehkan memberi syafaat, tanpa membanggakan diri.” (HR. Imam Ahmad melalui Abu Sa’id al-Khudri r.a.).
Hadits ini menceritakan tentang keutamaan nabi kita Muhammad Saw. Beliau adalah makhluk Allah yang paling mulia secara mutlak. Keutamaan dan kemuliaannya dapat kita baca melalui hadits ini yang menyatakan, bahwa Nabi Saw adalah pemimpin semua anak Adam di hari kiamat kelak. Di tangan beliaulah terpegang panji Al-Hamdu (pujian). Semua nabi sejak Nabi Adam sampai nabi-nabi yang lainnya, berada di bawah panji beliau. Beliau adalah orang yang mula-mula bumi terbelah mengeluarkannya sebelum manusia lainnya. Beliau adalah orang pertama yang diizinkan memberi syafaat.
Agama ini adalah sempurna sejak diajarkan oleh rasul yang pertama dan ketika didakwahkan oleh setiap rasul, sampai pada dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Seorang rasul tidak menyeru pada agama yang tidak sempurna, tetapi ia merupakan agama yang sempurna, menyeluruh, dan satu bagi semua nabi dan rasul.
Syari’at adalah metode iman kepada Allah Swt. dan metode ber-istiqamah. Oleh karena itu, agama itu adalah satu bagi seluruh para nabi, sedangkan syariatnya berbeda-beda, saling melengkapi sepanjang masa kerasulan. Hal itu karena para rasul tidak menghadapi masyarakat yang sama, tetapi masyarakat yang berbeda-beda. Setiap masyarakat memiliki metode dan jalan sendiri. Apa yang cocok bagi satu tempat belum tentu cocok di tempat lain, dan apa yang sesuai dengan suatu zaman, bisa jadi tidak sesuai lagi dengan zaman berikutnya. Sebagaimana Allah berfirman, “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS. Al-Maidah, 5: 48). Wallahu a’lam bish-shawwab. (*/fs)
-Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
-Wakil Ketua I Majelis Pendidikan Pengurus Besar Al-Washliyah







Komentar