JAKARTA-Indonesian Transplant Society (InaTS) pada hari ini memperingati World Transplant Day 2025 lewat acara puncak Transplant Fest 2025 dengan tema “Enhancing the Awareness of Organ Donation”. Acara yang diselenggarakan di area Car Free Day Sudirman Jakarta ini diwarnai dengan fun Run, talkshow dengan pasien paska transplantasi ginjal dan hati dengan tema “Life After Transplant”, penampilan tari dan nyanyian dari anak-anak pasien paska transplantasi hati, skrining kesehatan gratis, dan booth berisi fun games dalam upaya untuk menyebarkan informasi tentang transplantasi melalu tim transplantasi di rumah sakit penyelenggara transplan dan pasien yang telat menjalani prosedur transplantasi.
Acara puncak, setelah sebelumnya dilakukan serangkaian kegiatan Road to Transplant Fest, yaitu “Masterclass Kidney Liver Transplantation” yang bertujuan untuk mencipakan tim transplantasi yang kompeten dan professional dalam memberikan layanan dan Fun Bike (Bike for Transplant) melalui komunitas pesepeda yang memiliki tujuan yang sama dengan Fun Run untuk meningkatkan kesadaran masyarakat awam akan pentingnya donasi organ sehingga diharapkan dapat menggalang dukungan masyarakat untuk kemajuan transplantasi di Indonesia dan kedepannya masyarakat tidak lagi apatis tentang prosedur ini.
Transplant Fest 2025 merupakan kolaborasi InaTS dengan berbagai stakeholder, yaitu dengan komunitas, pemerintah, serta rumah sakit pengampuan nasional (RS vertikal Kemenkes dan RS daerah) dan RS pemerhati transplantasi 1 . Komunitas yang turut memeriahkan acara kali ini seperti: Katahati, Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Yayasan Komunitas Cangkok Ginjal Indonesia (YKCGI), Pejuang Hati, dan Sobat Transplan.
Transplantasi organ telah dilakukan di Indonesia sejak tahun 1977. Saat ini terdapat 14 pusat transplantasi yang menyediakan layanan transplantasi organ donor hidup di Indonesia. Pesatnya kemajuan teknologi dan ilmu kedokteran berdampak terhadap semakin berkembangnya metode diagnostik dan tata laksana pasien.
Ketua InaTS, Dr. Maruhum Bonar H. Marbun menegaskan transplantasi memberikan harapan baru pasien gagal organ. Ia menilai prosedur ini mampu menyelamatkan nyawa sekaligus meningkatkan kualitas hidup penerima transplantasi di Indonesia.
“Transplantasi memberi peluang hidup lebih lama, sehat, dan produktif bagi pasien gagal organ. Melalui edukasi, masyarakat harus peduli pada donasi organ,” ujar Maruhum saat kegiatan Transplant Fest 2025, Jakarta, Minggu (21/9/2025).
Menurutnya, keberhasilan transplantasi tidak hanya mengubah hidup pasien, tetapi juga meringankan beban negara dalam pembiayaan kesehatan. Ia menjelaskan biaya jangka panjang akibat gagal organ jauh lebih besar dibandingkan program transplantasi.
“Pasien transplantasi bisa kembali bekerja, belajar, dan beraktivitas normal tanpa bergantung mesin dialisis. Efeknya mengurangi beban biaya kesehatan nasional,” ucap Dr. Bonar.
Sementara itu, salah satu pasien penerima transplantasi hati, Andini, mengaku hidupnya berubah setelah menjalani prosedur tersebut. Ia menyebut transplantasi membuatnya kembali menjalani aktivitas sehari-hari tanpa keterbatasan fisik yang sebelumnya sangat mengganggu.
“Dulu saya sulit beraktivitas karena kerusakan hati parah, tetapi kini saya bisa bersekolah lagi. Transplantasi bukan hanya medis, tapi juga memberi semangat hidup baru,” kata Andini.
Dr. Bonar berharap kesadaran publik tentang donasi organ terus meningkat, sehingga lebih banyak nyawa terselamatkan melalui prosedur transplantasi. Ia optimistis edukasi berkelanjutan seperti Transplant Fest menjadi katalis perubahan pola pikir masyarakat terhadap donasi organ. (fs)







Komentar