POSKOTA.CO – Yayasan Bina Nusantara yang telah berdedikasi selama lebih dari 41 tahun di dunia pendidikan berkomitmen membina dan memberdayakan masyarakat serta membangun nusantara yang lebih baik. Komitmen tersebut diimplemnetasikan ke seluruh jajaran, termasuk pengajar dan murid-murid di semua sekolah Binus yang tersebar di 4 kota besar yakni Jakarta, Tangerang, Bekasi dan Semarang.
Salah satu contoh program yang digunakan untuk mendorong siswa-siswi Binus School dalam peningkatan kualitas kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya adalah melalui program SDG (Sustainable Development Goals) yang secara berkesinambungan disosialisasikan sejak dini dari kelas 2 SD hingga ke jenjang SMA di Binus School Simprug, Jakarta Selatan.
“Kami sebagai institusi pendidikan tidak hanya memfokuskan di bidang akademik saja, namun hal terpenting yang harus ditautkan ke para siswa-siswi kami adalah bagaimana caranya untuk memaksimalkan diri melalui potensi dan karakter yang sudah dimiliki agar dapat berguna bagi sesama serta lingkungan di sekitarnya,” kata Michael Wijaya Hadipoespito, Presiden dari Binus School Education pada temu media, Jumat (2/9/2022).
Semangat fostering & empowering sebagai komunitas Binus School terarah pada pengembangan siswa dengan tujuan utama membangun karakter teladan, mendukung pembelajaran yang inovatif serta membina kepemimpinan yang penuh kasih. “Dengan demikian, kami juga menawarkan pengembangan individu berwawasan lokal dan internasional yang menunjukkan keteguhan dan ketekunan di era globalisasi yang semakin penuh tantangan,” lanjut Michael Wijaya.
Dari salah satu 17 tujuan utama SDG, yang cukup konsisten menjadi gagasan di Binus School Simprug adalah tujuan nomer 14 yaitu Ekosistem Lautan. Berangkat dari kesadaran tentang pentingnya menjaga ekosistem laut dan keminatan di bidang teknologi, murid Binus School bernama Evan Felix Santoso berhasil memenangkan kompetisi Imagine Cup Junior 2022 yang diselenggarakan oleh Microsoft Indonesia. Bersama-sama dengan ribuan remaja lainnya dari berbagai belahan dunia, Evan dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadikannya satu-satunya wakil Indonesia di antara 10 pemenang kompetisi tersebut. Membawa konsep Sea Waste Scavengers, Evan berhasil menyisihkan ribuan remaja lainnya dari seluruh dunia.
Keikutsertaan Evan dalam ajang bergensi tingkat dunia tersebut tidak terlepas dari support Nikhil Loyola Dsouza, seorang guru science di Binus School Simprug. Nikhil telah berhasil mendorong dan membimbing Evan untuk mengikuti kompetisi ini dari awal hingga akhir.
“Saya sebagai guru telah melihat potensi yang dimiliki Evan, sehingga saya tergerak untuk mendorong Evan untuk mengikuti kompetisi ICJ. Saya merasa bangga dan optimis bahwa Evan dapat mengembangkan konsep Sea Waste Scavengers ini serta menjadi salah satu yang terbaik di dalam kompetisi ICJ. karena gagasan seperti ini mampu memecahkan tantangan di abad ke-21 dan juga dapat diterapkan di banyak negara di seluruh dunia. Saya berharap prestasi Evan dapat menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda diluar sana untuk lebih peduli terhadap lingkungan di sekitanya,” ungkap Nikhil Loyola.
Ha yang sama pun disampaikan Evan. Ia mengaku bahwa keikutsertaan dalam kompetisi ICJ berkat dorongan dari sang guru sains. “Pak Nikhil lah yang menyarankan kompetisi ini, setelah sedikit berpikir dan memberi semangat, lalu saya pun bergabung dengan ICJ. Sejak saat itu, Pak Nikhil memimpin pelatihan untuk ICJ dan mengajari kami tentang aturan, mekanik, dan bagaimana membuat presentasi yang efektif dan solusi kreatif,” tutur Evan.
Teknologi AI ini ditemukan Evan, dapat diimplementasikan di kapal listrik bertenaga air dan surya guna melacak, menemukan serta mengambil sampah plastic yang ada di lautan. “Saya harap inovasi ini mampu menginsiprasi generasi muda lainnya untuk memiliki kepekaan terhadap pencemaran laut, sehingga kehidupan laut kita menjadi terjaga kebersihan dan keindahannya,” tambah Evan.

Sementara itu, Isaac Koh, Kepala Sekolah Binus School Simprug menambahkan, prestasi Evan melalui kompetisi ini merupakan salah satu bentuk komitmen sekolah dalam menerapkan shared values dan personal excellence. “Yang dimaksud disini adalah bagaimana diri kita menularkan ilmu pengetahuan ke kepada sesama serta mengembangkan citra diri yang positif dan inovatif. Kami mengucapkan selamat kepada siswa kami Evan Felix Santoso serta Bapak Nikhil Dsouza, yang telah membina dan memberdayakan generasi penerus pembuat perubahan yang berdampak untuk mewujudkan aspirasi mulia generasi masa depan kita,” katanya.
Obert Hoseanto, Education Program & Skille Lead Microsoft Indonesia menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya terhadap perolehan prestasi Evan. “Ini luar biasa, karena Evan menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang mampu meraih prestasi gemilang pada ajang ICJ 2022 ini dari 10 pemenang lainnya,” kata Obert.
Bagi Obert, Evan dapat menjadi inspirasi bagi siswa lainnya untuk terus berkarya dan berinovasi. “Ia mampu mensejajarkan diri dengan siswa dari negara maju yang selama ini mendominasi kemenangan ICJ,” tegasnya.
Ajang ICJ sendiri sudah digelar selama 3 kali sejak 2019. ICJ merupakan pengembangan dari proyek Microsoft dalam hal SDG’s yang digagas sejak 20 tahun lalu. “Awalnya Microsoft hanya menggelar event ini untuk mereka yang sudah berusia diatas 18 hingga 25 tahun atau setara mahasiswa. Tetapi sejak 2019 kami menggelar untuk tingkat SMA ke bawah dengan harapan menggali potensi dari anak-anak bertalenta khusus seperti Evan,” katanya.
Ide Evan membuat karya dengan konsep Sea Waste Scavengers merupakan sesuatu yang baru dan memang sangat dibutuhkan untuk menjaga kelestarian bumi. (*/fs)







Komentar