oleh

Sejak 2003, Bencana Alam di Indonesia Meningkat 16,4 Persen

POSKOTA. CO – Sejak tahun 2003, catatan kejadian bencana di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 16,4 persen per tahun. Dalam kaitannya dengan risiko dan gangguan ekologi (disturbance ecology), sebagian besar wilayah kita merupakan kawasan yang sangat tinggi risiko mengalami bencana.

Bencana yang paling banyak kita temui adalah kerusakan akibat gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, kekeringan (kekurangan air tawar), kelaparan, penyakit, dan pengaruh ikutan yang terjadi akibat bencana alam seperti ledakan gunung berapi, pencemaran, dan banjir dan longsor.

“Bencana karena aktivitas alam umumnya dapat dipantau dan diestimasi secara periodik untuk kemudian dimitigasi berdasarkan indikasi kemungkinan terjadinya rsiko. Sedangkan bencana karena aktivitas manusia dapat diantisipasi sejak dini (mitigation) dengan melakukan berbagai rekayasa termasuk pemanfaatan ruang,” ujar Dr Yonvitner, Dosen IPB University sekaligus Kepala Pusat Studi Bencana (PSB), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM).

Rentetan dari bencana gempa tsunami Palu dan gempa Lombok, kini gempa di Majene-Mamuju, banjir di Kalimantan Selatan, longsor di Sumedang dan Puncak Bogor, merupakan ulangan dari rentetan bencana tahunan. Tahun sebelumnya bencana Palu yang kemudian turut mendorong terjadinya likuifaksi, banjir di Makasar, dan Semarang dan beberapa tempat lainnya terasa makin menekan dan mempersempit ruang gerak laju pembangunan.

Memperhatikan tinggi potensi kejadian bencana, upaya mitigasi dan langkah pengurangan risiko harus dilakukan, apalagi saat ini muncul risiko multi hazard yang memiliki kekuatan risiko lebih besar.

“Untuk itu penting kita mengenal upaya mitigasi untuk mempersiapkan antisipasi sebagai langkah adaptasi. Upaya mitigasi perlu diadaptasikan menjadi prasyarat penting pembangunan ke depan,” ujarnya.

Ia mengatakan, pendekatan early warning semestinya diupayakan secara terus menerus setiap waktu. Early Warning System harus menjadi bagian terintegrasi dalam pembangunan dan perencanaan dan tata ruang di Indonesia. Konsep ini harus menggabungkan strategi dalam antisipasi bencana terhadap risiko bencana dengan program pembangunan.

“Antisipasi bencana alam (gempa, topan, tsunami, kekeringan, penyakit menular/endemik, pasang tinggi) harus menyertakan pedoman yang memadai bagi masyarakat. Masyarakat harus dididik untuk selalu siap menghadapi bencana tersebut, ” jelasnya.

Dikatakannya, bencana alam karena aktivitas manusia seperti pencemaran, banjir dan penyakit juga memerlukan hal yang sama. Masyarakat dituntut untuk paham bagaimana menghadapi banjir saat musim hujan, gempa akibat pengaruh sesar seperti yang terjadi saat ini. Bagi mereka yang tinggal berdampingan dengan kawasan bencana, mereka perlu mengambil langkah berjaga-jaga untuk menghadapi bencana tersebut. Bangunan, jembatan, dan empangan yang baru dibuat, hendaknya mengambil lokasi untuk menghadapi bencana. Selanjutnya sistem bangunan tahan bencana yang dibuat mempunyai kemampuan yang besar untuk menyerap gegaran gempa dan guncangan atau dorongan tsunami. Sementara sebuah jambatan dirancang mempunyai tiang yang cukup besar dan tahan tanpa menyebabkan keruntuhan.

Menurutnya, penduduk di kawasan bencana juga perlu dirancang sejak awal memiliki dan menyiapkan peralatan siaga seperti lampu picit/senter, bekal makanan, air, dan bekal obat-obatan. Masyarakat juga harus dilatih agar tahu apa yang diperbuat apabila bencana datang. Murid-murid perlu dilatih untuk mencari tempat perlindungan seperti berlindung di bawah meja sekiranya tidak sempat mengosongkan bangunan. Mereka yang bekerja di bangunan tinggi mesti dilatih untuk mengosongkan bangunan dengan cepat dan tepat sekiranya terdapat alarm mengenai bencana.

“Membangun kesadaran untuk meminimalkan risiko bencana serta upaya mitigasi menjadi prasyarat penting pembangunan. Sustainability pembangunan hanya dapat tercipta apabila kita mampu mempersiapkan antisipasi yang baik dari risiko bencana terhadap capaian pembangunan. Jika tidak maka akan akan terus berada dalam suasana yang jatuh bangun akibat bencana,” tandasnya. (yopi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *