oleh

Pantas Utang Negara Menggunung, Akal Elite Parpol dan Pejabat Kalkulasi Mahar

POSKOTA.CO – Ihwal korupsi di Indonesia yang masih merajalela di lingkaran kekuasaan disebabkan pola pikir pejabat yang meminta dan menerima mahar politik dalam kontestasi demokrasi.

Begitulah yang diungkapkan Direktur Indonesia Future Studies (Infus) Gde Siriana Yusuf, menggambarkan kaitan demokrasi dan perilaku koruptif yang ada di Tanah Air.

“Semua elite parpol dan pejabat birokrasi yang meminta dan atau menerima mahar politik, mahar jabatan atau setoran lainnya adalah penyebab korupsi tidak pernah bisa dihentikan,” tutur Gde Siriana.

Komite Politik dan Pemerintahan Koalisi Aksi Menyelematkan Indonesia (KAMI) ini memperkirakan, akal para pejabat yang terpilih dari politik transaksional memiliki kalkulasi ekonomis untuk menerima mahar dan memberikan setoran kepada sang sponsorship pemenangannya.

“Akal para pejabat seharusnya mengalkulasi mahar dan setoran, apakah dapat dicukupi dengan gaji resmi selama menjabat,” kata Gde Siriana.

“Dan sangat mungkin elite dan pejabat ini sudah mengalkulasi berapa banyak uang yang dapat dikorupsi di jabatan yang dimaharkan. Sehingga mereka dapat menentukan nilai maharnya,” sambungnya.

Sebagai perbandingannya, Gde Siriana menjelaskan, pola pikir rakyat biasa yang biasanya menghitung kecukupan gaji dan dengan kebutuhan hidupnya selama sebulan penuh.

“Masa elite dan pejabat tidak bisa. Kecuali mereka menutup mata dan tidak peduli dengan persoalan besar bangsa ini, korupsi dan dampaknya pada pembangunan,” tuturnya.

Dampak paling serius dari korupsi dan sistem demokrasi yang transaksional ini, disebutkan Gde Siriana, adalah utang negara yang semakin menumpuk. Karena, anggaran untuk perbaikan ekonomi nasioanal justru sudah direncanakan dicuri oleh para elite sejak perencanaan.

Makanya, dia menganggap wajar jika pertumbuhan ekonomi tidak pernah menanjak tinggi, malah justru mentok disekitar angka lima persenan, tapi di sisi yang lain hutang semakin menggunung.

“Akhirnya (karena korupsi dan demokrasi transasksional) anggaran pembangunan akan terus tidak mencukupi untuk mengejar pertumbuhan yang mengesankan,” paparnya.

“Jalan pintasnya ditutupi dengan utang. Jangan heran jika sekarang utang terus bertambah tapi pertumbuhan stagnan,” demikian Gde Siriana menutup. (ale)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *